logo

Teknologi

Teknologi

13 September 2019 21:22 WIB

SuaraKarya.id -  

Oleh: Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi

Indonesia berduka nampaknya masih terus berlangsung dan sepertinya baru kemarin republik ini berduka atas berpulangnya istri Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)  dan tidak berselang lama di susul oleh BJ Habibie. Berpulangnya BJ Habibie bukan hanya sebagai Presiden ke-3 Indonesia tapi juga figur dari perkembangan teknologi dan digitalisasi yang kini disebut sebagai era industri 4.0 dengan berbagai konsekuensinya. Meskipun demikian, bukan berarti setelah berpulangnya BJ Habibie kemudian justru menyurutkan semangat perkembangan era industri karena ke depan realitas tuntutan dan tantangan perkembangan industri berbasis teknologi terbarukan akan semakin pesat.

Era digitalisasi dengan dukungan inovasi di bidang teknologi secara perlahan tapi pasti akan berpengaruh terhadap ritme kehidupan, bukan hanya di industrialisasi tapi juga di perikehidupan keseharian. Oleh karena itu, perubahan perilaku konsumen pada dasarnya terkait dengan adopsi teknologi dan di sisi lain korporasi harus proaktif mensikapi hal ini agar tidak kalah bersaing dan akhirnya ditinggalkan konsumen yang berujung kepada kebangkrutan dan kematian bisnisnya. Banyak kasus ketika market leader pada akhirnya tergerus oleh nama besar brand-nya sementara tuntutan inovasi dan kreatifitasnya tidak berjalan selaras. Di sisi lain banyak juga para petarung yang dicibirkan akhirnya mampu bangkit dan menguasai pasar atas keberagaman produk yang diciptakan dengan modal dan keterlibatan bagian R&D serta gencarnya strategi pemasaran yang dilakukan yang juga didukung oleh inovasi melalui adopsi teknologi terbaru.

Kata kunci dibalik perkembangan teknologi adalah bagaimana kesiapan dan kesigapan semua pelaku usaha, termasuk tentunya masyarakat sebagai end user untuk menerima itu semua tanpa terkecuali. Hal ini tidak bisa terlepas dari realitas bahwa sebenarnya ada 2 tipe konsumen yaitu pertama: tipe high touch dengan karakteristik masih membutuhkan interaksi face to face contact sehingga interaksi interpersonal masih tinggi, cenderung bersifat offline karena masih tradisional, belum familier dengan internet dan transaksi online, cenderung berkembang di perdesaan, tingkat pendidikannya relatif rendah dan cenderung berusia tua. Sebaliknya yang kedua adalah tipe high tech dengan karakteristik meminimalisir interaksi face to face contact sehingga interaksi secara interpersonal lebih kecil, cenderung bersifat online, mayoritas di perkotaan, tingkat pendidikan cenderung sarjana atau yang lebih tinggi dan didominasi kalangan generasi muda dengan sebutan sebagai generasi milenial atau dotcom.

Konsekuensi perkembangan teknologi dan semangat yang ditinggalkan oleh BJ Habibie maka ke depan republik ini dituntut untuk tidak lalai dan lengah terhadap pesatnya laju perkembangan teknologi. Setidaknya, era industri 4.0 memberikan gambaran tantangan yang kian kompleks, sementara di sisi lain serapan investasi berbasis padat karya juga semakin meredup sehingga berdampak sistemik terhadap pengangguran dan kemiskinan. Padahal, politisasi kemiskinan bisa menjadi sangat runyam sementara di sisi lain besaran nominal subsidi melalui APBN dan APBD juga semakin berat, apalagi akumulasi nilai hutang cenderung terus bertambah. Jadi, teknologi bisa dianggap bermata dua karena di satu sisi dibutuhkan untuk memacu daya saing dan produktivitas, sementara di sisi lain bisa mengancam serapan tenaga kerja dan dehumanisasi akibat penggunaan robotik. ***

* Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi - Dosen Pascasarjana di Universitas Muhammadiyah Solo