logo

Kuota FLPP Habis, Ancaman Serius Industri Properti

   Kuota FLPP Habis, Ancaman Serius Industri Properti

Foto Istimewa
12 September 2019 14:36 WIB
Penulis : Pudyo Saptono

SuaraKarya.id - SEMARANG: Habisnya kuota pembiayaan Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Properti (FLPP) dari pemerintah pusat, bisa menjadi ancaman yang serius industri properti.

Padahal industri properti, merupakan salah satu dari industri selain pariwisata dan infrastruktur yang bisa menggerakkan roda perekonomian hingga ke pelosok tanah air secara masif.

Masalah itu ditanggapi DPD Real Estate Indonesia (REI) Jateng, dengam meminta pemerintah pusat dalam hal ini kementerian PUPR dan Kementrian Keuangan RI, menambah kuota yang diajukan sesuai DPP REI, yakni 140.000 unit untuk kebutuhan rumah masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Supaya program pemerintah dalam membangun 1 juta rumah bisa berjalan lancar.

"Dari program pembangunan 1 juta rumah, REI mendapat jatah 250.000 unit, khususnya rumah untuk MBR. Sejak dua bulan terakhir, akad kepemilikan rumah subsidi terpending. Dengan adanya permasalahan ini, kalau tidak segera direspon pusat, pengembang akan kerepotan," kata Ketua DPD REI Jateng, MR Prijanto, Rabu (11/9/2019).

Hingga kini, pengajuan dari DPP REI kepada menteri pekerjaan umum dan perumahan rakyat, serta menteri keuangan belum juga turun. Namun, pemerintah mengalihkan kepemilikan rumah untuk masyarakat berpenghasilan rendah dengan skema bantuan pembiayaan perumahan berbasis tabungan (BP2TB).

"Jadi akan dilihat kemampuan menabung masyarakat, bisa membayar kredit pemilikan rumah (KPR), dan memiliki endapan tiga kali angsuran di tabungan. Sedang target dari skema tabungan ini sebanyak 12.000 unit. Namun skema ini belum berjalan selama dua bulan terakhir. Sebenarnya bila dilihat sekilas skema ini menyenangkan pemerintah akan membantu Rp40 juta untuk setiap debitur," tuturnya.

Upaya lain dari DPD REI, lanjut Prijanto, adalah menghubungi salah satu perbankan agar bisa memberikan kredit rumah yang lebih murah, dengan bunga 7,8% sampai Oktober 2019. Kemudian, bunga 8,8% selama dua tahun, lalu sesuai besaran bunga bank yang berlaku.***

Editor : Markon Piliang