logo

Masyarakat Maluku Tak Boleh Jadi Penonton Di Blok Masela Oleh Kontraktor Migas

Masyarakat Maluku Tak Boleh Jadi Penonton Di Blok Masela Oleh Kontraktor Migas

11 September 2019 22:12 WIB
Penulis : Yacob Nauly

SuaraKarya.id - AMBON: Gubernur Provinsi Maluku Murad Ismail menegaskan masyarakatnya tidak boleh menjadi penonton dalam program pengembangan ladang gas abadi Blok Masela oleh kontraktor minyak dan gas (migas) asal Jepang di Kabupaten Kepulauan Tanimbar yang dimulai tahun 2022.

"Saya tidak mau anak Maluku kelak hanya menjadi penonton di rumahnya sendiri terkait pengelolaan Blok Masela. Pengelolaan ladang gas abadi ini harus menyejahterakan masyarakat di daerah ini," katanya di Ambon, Rabu  (11/9/2109) seperti dilansir Antara.

Sesuai rencana pengembangan (Planning of Development) blok gas abadi Masela yang disepakati pemerintah pusat bersama perusahaan minyak dan gas terbesar asal Jepang, Inpex Corporation, tahapan konstruksinya akan berlangsung selama lima tahun dimulai 2022, sedangkan produksi baru dilakukan pada 2027.

Menurut gubernur, tahapan konstruksi lapangan gas abadi Blok Masela akan berjalan setelah persoalan lahan, tata ruang dan analisa dampak lingkungan (amdal) terpadu yang menjadi kewenangan pemerintah daerah selesai diproses hingga batas waktu ditentukan.

"Saya ingin prosesnya dipercepat. Jika masalah lahan, tata ruang dan amdal bisa selesai tahun 2020, maka tahapan konstruksi dan produksinya bisa berlangsung dua tahun lebih cepat dari jadwal yang ditentukan," ujarnya.

Menyangkut hal tersebut, gubernur menyatakan akan membicarakannya lagi dengan Inpex Corporation melalui anak perusahaannya Inpex Masela Ltd dan Satuan Kerja Khusus minyak dan gas (SKK Migas).

Karena itu, ia mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat di 11 kabupaten/kota di Maluku dapat juga dapat mempersiapkan diri menyambut pengembangan proyek strategis nasional tersebut, terutama mengantisipasi penyerapan tenaga kerja yang dibutuhkan dalam skala besar.

"Saya minta pemkab/pemkot, perguruan tinggi dan instansi teknis dapat mempersiapkan mekanisme penyerapan tenaga kerja pada pengembangan Blok Masela dengan baik dan profesional, termasuk menyiapkan tenaga kerja terampil dan berkualitas," katanya.

Dia berharap pengembangan ladang abadi Blok Masela yang merupakan investasi asing terbesar di Indonesia sejak tahun 1968, dapat memberikan dampak besar, terutama mengatasi tingginya angka kemiskinan dan pengangguran di Maluku.

"Secara nasional kita  di Maluku dikategorikan daerah termiskin keempat. Karena itu Blok Masela yang merupakan simbol pembangunan di Indonesia Timur berskala global setelah Freeport Indonesia ini, harus mampu mendongkrak posisi Maluku untuk terbebas dari kemiskinan dan pengangguran," demikian Murad Ismail. ***
 

Editor : Yon Parjiyono