logo

Menperin Sebut Percepatan Industri 4.0 Butuh Investasi

Menperin Sebut Percepatan Industri 4.0 Butuh Investasi

Menperin Airlangga Hartarto.
11 September 2019 10:43 WIB
Penulis : Laksito Adi Darmono

SuaraKarya.id - JAKARTA: Menperin Airlangga Hartarto menegaskan, salah satu kunci dari implementasi industri 4.0 adalah peningkatan investasi. Terutama berkaitan dengan pengembangan industri baru. Sebab, investasi akan memperkuat dan memperdalam struktur manufaktur nasional.

“Makanya investasi terus kami dorong, sehingga akan memacu kapasitas produksi untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik hingga ekspor. Selain itu dapat menghasilkan substitusi impor,” ungkapnya, Rabu (11/9/2019).

Penerapan industri 4.0 ini tidak hanya menyasar kepada sektor skala besar, melainkan juga industri kecil dan menengah (IKM) dalam upaya meningkatkan produktivitas dan kualitasnya secara lebih efisien.

Airlangga optimistis, apabila hal itu terwujud, bakal mampu menggenjot produk domestik bruto (PDB) secara signifikan. “Selain meningkatkan nett ekspor sebesar 10 persen atau 13 kali lipat dibandingkan saat ini, sasaran Making Indonesia 4.0 juga meliputi peningkatan produktivitas tenaga kerja hingga dua kali lipat dan alokasi anggaran riset menjadi 2 persen,” sebutnya.

Berdasarkan aspirasi besar peta jalan tersebut, Indonesia akan masuk dalam jajaran 10 negara dengan perekonomian terkuat di dunia pada tahun 2030.

“Kami meyakini, industri 4.0 akan mendongkrak 1-2 persen pertumbuhan ekonomi kita, menambah hingga 10 juta lapangan kerja baru, dan peningkatan kontribusi industri manufaktur sebesar 25 persen pada tahun 2030,” ungkapnya.

Menperin mengatakan, target 10 juta lapangan kerja baru di tahun 2030 adalah hal realistis. Adanya industri 4.0 dinilai dapat membuat lapangan kerja baru. “Cukup realistis. Karena rata-rata keseluruhan industri bisa menyerap 700 ribuan tenaga kerja per tahun. Nanti, dengan Industri 4.0 bisa meningkat lebih tinggi lagi,” ujarnya.

Sektor Andalan

Oleh karenanya, Kemenperin telah menyiapkan 5 sektor andalan yang akan menopang target-target tersebut, yakni industri makanan dan minuman, industri tekstil dan busana, industri otomotif, industri kimia, serta industri elektronik. “Kelima sektor ini mampu memberikan kontribusi sebesar 60 persen untuk PDB, kemudian menyumbang 65 persen terhadap total ekspor, dan 60 persen tenaga kerja industri ada di lima sektor tersebut,” tuturnya.

Airlangga menambahkan, pemerintah sedang menyiapkan Peraturan Presiden tentang percepatan implementasi Making Indonesia 4.0. Regulasi ini untuk sinkronisasi berbagai program dan kegiatan lintas sektoral. “Jadi, nanti kami lihat sektor apa saja yang bisa diharmonisasi dan supaya eksekusinya bisa lebih lincah,” jelasnya.

Hal itu sesuai arahan Presiden Jokowi pada Rapat Terbatas mengenai Percepatan Peta Jalan Penerapan Industri 4.0, di Kantor Presiden, Jakarta, Selasa (3/9). “Kita harus berani berubah, tetapi yang jelas, terukur dan terintegrasi. Untuk itu, perlu adanya deregulasi, dan kami akan lengkapi sesuai yang dibutuhkan pelaku industri,” imbuhnya.

Di kesempatan terpisah, Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Imanuddin Abdullah mengakui langkah Menperin Airlangga memang perlu mendapat dukungan dari lintas sektor, agar implementasi industri 4.0 berjalan sesuai dengan yang diharapkan pemerintah.

“Industri 4.0 bisa menjadi peluang untuk meningkatkan investasi manufaktur, terutama yang bergerak di sektor dengan tingkat teknologi yang tinggi. Karena itu, Indonesia harus menarik di mata para investor agar mereka mau menanamkan modalnya di sektor-sektor yang akan menjadi andalan di industri 4.0,” paparnya.

Sementara, Direktur Riset Center of Reform on Economics (Core) Indonesia, Pieter Abdullah menyebutkan, Indonesia sudah siap menerapkan industri 4.0. “Jadi, kebijakan Kemenperin tentang industri 4.0 di bawah Bapak Airlangga, sudah tepat. Saya kira Indonesia sudah siap menerapkan konsep industri 4.0,” tandasnya. ***