logo

Bioteknologi Mampu Tingkatkan Produktivitas Pertanian

Bioteknologi Mampu Tingkatkan Produktivitas Pertanian

Para pembicara dalam "Youth Biotech Outreach" di Kampus Universitas Indonesia (UI) Depok, Selasa (10/9/2019).
10 September 2019 20:38 WIB
Penulis : Laksito Adi Darmono

SuaraKarya.id - DEPOK: Teknologi rekayasa genetika atau bioteknologi terbukti mampu meningkatkan produktivitas pertanian di banyak negara.

Catatan International Service for the Acquisition of Agri-biotech Applications (ISAAA) mengungkap 70 negara telah mengadopsi tanaman biotek pada 2018. Hampir separuhnya (21 negara berkembang dan 5 negara industri) menanam 191,7 juta hektare tanaman biotek, atau bertambah 1,9 juta hektare pada tahun 2017.

"Ini mengindikasikan bahwa tanaman ini terus membantu memenuhi tantangan global seperti kelaparan, malnutrisi, dan perubahan iklim," ujar Dr Paul S. Teng, Ketua Dewan ISAAA, dalam diskusi Youth Biotech Outreach di Universitas Indonesia (UI) Depok, Jawa Barat, Selasa (10/9/2019).

Dia menyebutkan, tanaman biotek dikembangkan dengan sifat yang ditingkatkan antara lain seperti peningkatan hasil, lebih tahan terhadap hama, peningkatan nutrisi.

Teknologi rekayasa genetik (RG) telah berkontribusi pada ketahanan pangan dalam banyak aspek. "Dengan meningkatkan hasil dan mengurangi kerugian, tanaman ini berkontribusi pada ketersediaan pangan untuk lebih banyak keluarga," ujarnya.

Lahan budidaya tanaman biotek telah meningkat hampir 113 kali lipat sejak tahun 1996, dengan luas kumulatif sekitar 2,5 miliar hektare yang menunjukkan bahwa bioteknologi adalah teknologi tanaman yang paling cepat diadopsi di dunia.

Sementara itu Direktur Pusat Informasi Bioteknologi Indonesia (Indobic) Bambang Purwantara, menyatakan penerapan bioteknologi untuk sektor pertanian di Indonesia tinggal menunggu disahkannya pedoman pengawasan dan pemantauan produk rekayasa genetika.

Dia menyatakan Peraturan Menteri Pertanian No 36 tahun 2016 tentang Pedoman Pengkajian Keamanan Pakan Produk Rekayasa Genetika merupakan pembuka pintu untuk pengembangan produk ini.

"Sekarang tinggal menunggu pedoman pedoman pengawasan dan pemantauannya yang nanti akan berbentuk Permen. Diharapkan tahun ini bisa keluar Permennya," katanya.

Menurut Bambang, meskipun di Indonesia tanaman hasil rekayasa genetika belum dilakukan pelepasan, namun bukan berarti tidak ada pengembangan karena PTPN XI telah mengembangkan tebu yang toleran kekeringan hasil biotek, yang cocok untuk daerah sedikit air.

Selain itu juga dikembangkan kentang yang tahan hama penyakit sehingga mampu mengurangi penggunaan pestisida yang akhirnya menekan biaya produksi petani serta menurunkan pencemaran lingkungan.

Pakar Teknologi Pangan dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Dase Hunaefi menilai peningkatan produktivitas pertanian melalui biotek bisa menjadi salah satu solusi untuk mengatasi persoalan ketersediaan pangan di Kabupaten Kutai Kartanegara dan Panajem Paser Utara, dua wilayah yang akan menjadi ibu kota baru menggantikan Jakarta.

Dase mengatakan peningkatan produktivitas pertanian lebih baik dibandingkan membuka areal pertanian baru apalagi di kedua wilayah tersebut didominasi lahan gambut serta sebagai paru-paru dunia.

"Pemanfaatan teknologi rekayasa genetika atau bioteknologi lebih mendukung peningkatan produktivitas pertanian di ibu kota baru nantinya," katanya.

Menurut dia, pembukaan areal pertanian yang baru apalagi jika merambah hutan dikhawatirkan merusak keanekaragaman hayati. Oleh karena itu perlu dukungan teknologi, salah satunya biotek untuk mengatasi persoalan ketersediaan pangan.

"Brasil telah memanfaatkan bioteknologi untuk meningkatkan produksi pertaniannya dan negara itu juga merupakan negara dengan biodiversifikasi nomer satu di dunia," katanya. ***