logo

Menperin: Peluncuran Esemka Serap Tenaga Kerja Sekaligus Optimalkan Komponen Lokal

Menperin: Peluncuran Esemka Serap Tenaga Kerja Sekaligus Optimalkan Komponen Lokal

Foto: Setkab.go.id
07 September 2019 15:49 WIB
Penulis : Pudja Rukmana

SuaraKarya.id - JAKARTA: Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto mengatakan peresmian pabrik mobil merk Esemka produksi PT Solo Manufaktur Kreasi (SMK) senantiasa menyediakan efek berganda untuk investasi, seperti membuka lapangan kerja baru. 

“Pada awal akan mencair 300 tenaga kerja untuk satu shift. Jika menambah kapasitas nanti, tentu saja bertambah pula jumlah tenaga yang diperoleh. Ini untuk tenaga kerja lokal, ”ungkap Menperin Airlangga di sela mendampingi Presiden Joko Widodo (Jokowi) meresmikan pabrik sekaligus meluncurkan mobil Esemka produksi PT SMK, di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, Jumat (6/9/2019).

Airlangga juga memenangkan perwakilan Mobil Esemka dapat meningkatkan komponen otomotif dalam negeri, khusus yang dibeli Industri Kecil dan Menengah (IKM). "Saat ini, PT SMK telah menyetujui lebih dari 30 industri penyedia komponen otomotif lokal dan sudah melakukan persiapan untuk produksi massal," ucapnya seperti mengangkut Humas Kemenperin lewat laman Setkab.go.id

Menurut Menperin, pemerintah memberikan dukungan penuh dalam upaya pengembangan industri otomotif di Tanah Air. Sebab, industri otomotif merupakan satu dari lima sektor manufaktur yang diprioritaskan agar mampu berdaya saing global berdasarkan peta jalan Making Indonesia 4.0. “Kami juga dorong peran dari industri komponennya, sehingga terbentuk rantai pasok terintegrasi,” jelasnya.

Dalam proses produksinya, PT SMK berkomitmen untuk mengoptimalkan penggunaan komponen lokal. Ini ditandai dengan penandatanganan Letter of Intent (LoI) bersama Perkumpulan Industri Kecil Menengah Komponen Otomotif (PIKKO), Agustus 2019 lalu di Jakarta.

Lebih jauh Airlangga mengemukakan, banyak industri komponen kendaraan di dalam negeri telah menjadi bagian dari pemasok rantai nilai global. Secara nasional, saat ini terdapat 1.500 perusahaan komponen otomotif di Indonesia yang terbagi dalam Tier 1, Tier 2 dan Tier 3 yang tersebar di seluruh Indonesia terutama di provinsi DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Kekuatan industri otomotif di Indonesia juga terlihat dari capaian ekspor produk otomotif dan komponennya yang terus menunjukkan peningkatan. Pada tahun 2018, ekspor CBU sebanyak 265 ribu unit, kemudian CKD sekitar 82 ribu set, serta komponen lebih dari 86,6 juta pieces.

“Nilai ekspor komponen kita sudah menembus hingga 2,1 miliar dollar AS. Artinya, struktur dari sektor ini sudah cukup dalam. Contohnya, ekspor untuk ban kendaraan sekitar 1,2 miliar dollar AS. Selain itu, untuk sasis, kaca, dan kursinya sudah bisa diproduksi di dalam negeri. Jadi, industri baja dan plastik kita sudah mampu kompetitif,” terang Menperin.

Terkait masa depan industri otomotif itu sendiri, Menperin Airlangga optimistis ke depannya terus ekspansif seiring dengan adanya peningkatan investasi. Apalagi, bagi mereka yang menghasilkan produk di bawah Rp200 juta, seperti PT SMK ini dinilai punya peluang bisnis yang prospektif.

“Dengan harga tersebut, menjadi sarana migrasi bagi para pemilik motor yang ingin memiliki mobil pertama kali. Apalagi, PT SMK ini kan menghasilkan jenis pick-up, yang dapat menunjang produktivitas. Nah, seperti jenis komersial ini, dilihat juga yang penting itu kapasitas muatan isinya. Artinya, semakin bisa menampung banyak muatannya, potensi lakunya tinggi,” papar Airlangga.

Miliki TPT 6 Jenis Mobil

Airlangga pun menuturkan, sebagai produsen otomotif, PT SMK telah memiliki Tanda Pendaftaran Tipe (TPT) yang telah diterbitkan oleh Kementerian Perindustrian untuk enam jenis kendaraan roda empat.

“Empat di antaranya merupakan kendaraan komersial tipe pick up single cabin yang diberi nama Bima - Esemka, lalu satu tipe penumpang double cabin yang diberi nama Digdaya - Esemka dan satu tipe lagi kendaraan penumpang minivan dengan nama Borneo- Esemka,” kata Menperin.

Sebagai principal otomotif nasional, saat ini PT SMK telah memiliki fasilitas produksi yang telah siap beroperasi, antara lain lini pengecatan body, lini perakitan mobil type monocoque, type chassis, gasoline engine, diesel engine, transmisi dan axle.

Kemudian, ada juga lini penyambungan transmisi motor diesel dan motor bensin, lini pengujian kendaraan statik atau elektronik, lini pengujian jalan, lini perbaikan kendaraan pascauji, area stock yard, show room dan fasilitas pendukung lainnya.

“Tentunya fasilitas produksi yang telah dimiliki PT SMK sebagai produsen mobil telah membawa pada suatu tahapan yang lebih maju dan layak untuk dapat memproduksi kendaraan roda empat. Ini kabar yang menggembirakan bagi industri otomotif di Tanah Air,” ungkap Menperin.

Pada tahun pertama PT SMK akan memproduksi sebanyak 3.500 unit pick up Bima - Esemka dengan kapasitas produksi total sebesar 12.000 unit per tahun. 

100 Persen Swasta

Sebelumnya Presiden Direktur PT Solo Manufaktur Kreasi Eddy Wirajaya dalam laporannya mengatakan, pabrik Esemka adalah perusahaan swasta nasional yang 100 persen dimiliki oleh swasta. Bukan mobil nasional (mobnas) seperti yang dibahas selama ini.

"Lebih banyak mewakili mobil buatan Indonesia karya anak bangsa sendiri," kata Eddy yang berharap dengan peresmian ini, Esemka dapat merintis kemajuan industri otomotif buatan Indonesia. ***

Editor : Pudja Rukmana