logo

Jaring Ide Millennials, IKA DIM FEB Unpad Gelar Seminar Tourism 4.0

Jaring Ide Millennials, IKA DIM FEB Unpad Gelar Seminar Tourism 4.0

05 September 2019 05:41 WIB
Penulis : Syamsudin Walad

SuaraKarya.id - JAKARTA: Ikatan Keluarga Alumni Doktor Ilmu Manajemen (IKA-DIM) FEB Universitas Padjadjaran Bandung beruntung punya dua pakar digital sekaligus. Mereka berada diantara ekosistem anak-anak millennials. Yakni Menteri Pariwisata Arief Yahya dan Menkominfo Rudiantara. 

Dua sosok nasional itu bakal dipertemukan dalam sebuah Seminar Nasional dan Call For Paper “Wonderful Indonesia Digital Tourism 4.0” di Balairung Soesilo Soedarman, Gedung Sapta Pesona, Jalan Medan Merdeka Barat, Senin, 9 September 2019. Kegiatan ini diprakarsai IKA-DIM FEB Universitas Padjadjaran, Bandung.

Yang satu sukses menjadikan sektor pariwisata menerobos dinding-dinding konvensional dengan digital dan regulasi. Sampai-sampai Presiden Joko Widodo menaikkan status pariwisata sebagai leading sector 5 tahun non stop. Dan itu terbukti, dari kunjungan wisman 9,4 juta (2014), naik 10,4 juta (2015), makin naik 12 juta (2016), tambah naik 14 juta (2017) dan terakhir 15,8 juta (2018). Dan, menyumbangkan devisa terbesar kedua USD 19,29M di 2018. 

Satu lagi, tokoh yang berada di balik perkembangan dunia digital di tanah air. Dari infrastruktur telekomunikasi, sampai pengendali regulasi yang mendorong lahirnya lebih banyak digital company di tanah air. 

“Karena itu, Seminar Nasional Wonderful Indonesia Digital Tourism 4.0 ini pasti akan seru. Audience akan semakin aware, bagaimana digital sudah membuat lompatan sejarah yang luar biasa,” kata Dr Nina Kurnia Hikmawati SE, MM, Ketua Panpel Seminar & Call For Paper. 
  
Menurut Nina, selain dua tokoh digital itu, akan dihadirkan juga para pelaku industri zaman now, anak-anak millennials yang berbasis digital. Mereka adalah Deputy Director of Corporate  Communication & Government Relation Up Normal, Sarita Sutedja. Lalu Travelio CEO Travelio, Hendry Rusli, Co Founder & CMO Tiket.com, Gaery Undarsa, dan Ketua Tim Percepatan Milenial Tourism Kemenpar Gabriella Patricia Mandolang. 

“Kita akan mendengarkan bagaimana anak-anak muda itu menjalankan model bisnis baru, dengan cara digital, dan sukses mengubah dunia. Karena itu, jangan sampai ketinggalan, catat acaranya, Senin 9 September 2019, pukul 13.00 sd 17.00 WIB, di Gedung Sapta Pesona, dengan mengundang para alumni, mahasiswa, komunitas, praktisi pariwisata dan ICT. Sore sampai malam akan dilanjutkan dengan forum silaturahmi dan Kolaborasi,” ungkap Nina.  

 
Hingga Rabu (4/9), sudah 390 peserta yang mendaftar mengikuti seminar kekinian ini,. Model seminarnya juga dibuat lebih santai, tidak kaku, mengikuti alur dan tradisi anak-anak millennials. Format talkshow, agar lebih tajam dan dipandu oleh moderator yang menguasai persoalan. Selain itu, terkumpul sebanyak 80 Paper mengenai toursm dari berbagai daerah di Indonesia.

Mengapa mengambil tema Tourism 4.0? Nina yang doyan trekking dan naik gunung ini menjelaskan bahwa pariwisata Indonesia saat ini maju pesat. Terutama di era teknologi digital, yang membuat semua hal lebih mudah, lebih murah, lebih cepat. Lalu dengan media social, semua potensi destinasi bisa terekspose dengan massif. 

Lalu mengapa temanya millennials? “Mau tidak mau, suka tidak suka, anak-anak millennials-lah yang membuat pariwisata menjadi sangat heboh, karena share dan viralkan di media social.  Karena itu, kita ingin menggali lebih dalam, apa yang sedang mereka pikirkan, apa yang akan mereka lakukan? Lalu, bagaimana kalangan akademisi seperti kita bisa memberi peran yang lebih kuat agar semakin maju. Kita ini, para Doktor, harus memberi bermanfaat buat bangsa ini ke depan,” ungkapnya.

Nina Kurnia Hikmawati menambahkan, ada 3 alasan mengapa dibuat seminar nasional ini. Pertama menyinergikan seluruh kekuatan dan Pemikiran Masyarakat Pariwisata Nasional untuk peningkatan target kunjungan Pariwisata. Kedua mendukung Go Digital Pariwisata, dengan adanya perubahan Customer Behavior. Dan yang terakhir legacy IKA DIM Unpad Untuk Indonesia, khususnya Pariwisata Nasional.

Dia menyebut, sukses pariwisata itu juga akan dipengaruhi oleh Pentahelix Model, ABCGM, Academy,  Business, Community, Government dan Media. Karena itu sebagai kalangan kampus, atau akademisi, dia bersama beberapa pengurus IKA-DIM FEB Unpad, semalam beraudiensi dengan Menpar Arief Yahya di Gedung Sapta Pesona. 

Hadir bersama Dr Nina Kurnia Hikmawati SE MM, Sekjen IKA-DIM FEB Unpad, Dr Arief M Yasrif SE MM, Dr. Pandu Patriadi, SE, MBA, MH, Dr Lenggogeni SE Ak, MM. CMA. CA. CBV. Dr Indra Jaya MM, Dr Suparjiman SE MM, Dr Rahajeung Widya SE MM. 

Sedangkan dari Kemenpar, didampingi Stafsus Menpar Bidang IT Samsriyono, Ketua Tim Co Branding Wonderful Indonesia Priyantono Rudito, dan Asdep Pengembangan SDM Pariwisata dan Hubungan Antarlembaga, Wisnu Bawa Tarunajaya. 

Menpar Arief Yahya yang juga alumni Doktor Strategic Management DIM FEB Unpad mengucapkan terima kasih atas inisiatif IKA-DIM FEB Unpad menggelar Seminar Nasional & Call For Paper ini. 

“Temanya bagus, Tourism 4.0, nara sumbernya juga keren, anak-anak muda millennials yang sangat digital,” aku Menteri Pariwisata Arief Yahya. 

Selain itu, juga ada presentasi dengan Google Indonesia yang menjadi salah satu mitra Kemenpar dalam mempromosikan Wonderful Indonesia. 

“Digital 4.0 itu memang sebuah keniscayaan. Memang masih ada 30% orang yang belum digital, tetapi secara statistic, pasti jumlahnya akan terus menurun. Saya tidak bisa membayangkan orang zaman sekarang bisa hidup tanpa digital,” katanya. 

Karena itu, Seminar ini akan sangat bermakna buat kalangan akademis, untuk diimplementasikan di kampus. 

“Jujur saja, mengapa pariwisata kita maju pesat? Mengapa tumbuh menjadi penghasil devisa nomor dua, dan tahun 2019 nanti diproyeksikan menjadi nomor satu di Indonesia? Kuncinya hanya 2, Deregulasi dan Go Digital,” pungkasnya. 

Menpar Arief Yahya juga mengajak para alumni, komunitas, millennials, dan pelaku industry Pariwisata untuk hadir dan menyimak seminar menarik ini. “Silakan hadir di Gedung Sapta Pesona, Kemenpar,” ajaknya.