logo

Pelecehan Mahasiswi; Oknum Dosen UPR Terancam Sembilan Tahun Penjara

Pelecehan Mahasiswi; Oknum Dosen UPR Terancam Sembilan Tahun Penjara

Arsip Foto. Mahasiswa menggelar aksi untuk mendesak penindakan terhadap dosen yang diduga melakukan pelecehan seksual kepada mahasiswi. (Antara)
04 September 2019 14:36 WIB
Penulis : Dwi Putro Agus Asianto

SuaraKarya.id - PALANGKA RAYA: Oknum dosen Universitas Palangka Raya, Kalimantan Tengah, berinisial PS yang diduga melakukan pelecehan seksual terhadap sejumlah mahasiswi, kini terancam hukuman selama sembilan tahun penjara.

"Tersangka PS sudah kami tahan, bahkan sejumlah saksi juga sudah menjalani pemeriksaan," kata Kabid Humas Polda Kalteng Kombes Pol Hendra Rochmawan di Palangka Raya, Kamis (4/9/2019).

Dikatakan, penyidik saat ini terus memproses pemberkasan administrasi dalam perkara itu. Kepolisian setempat juga menjerat tersangka dengan Pasal 289 KUHP tentang pencabulan dan ancaman hukumannya sembilan tahun kurungan penjara.

Hendra mengatakan dalam perkara itu penyidik juga terus berupaya segera merampungkan kasus yang heboh, baik di kalangan masyarakat maupun mahasiswa-mahasiswi di universitas tertua di provinsi berjuluk Bumi Tambun Bungai-Bumi Pancasila itu.

"Kasus ini terus dilakukan pengembangan guna mengetahui motif mengapa tersangka melakukan perbuatan tidak terpuji itu," katanya.

Sebelum dilakukan penahanan oleh pihak kepolisian, penyidik melakukan pemeriksaan 1x24 jam, sampai menetapkan status yang bersangkutan sebagai tersangka dalam kasus pelecehan seksual atau perbuatan cabul yang diduga dilakukan oknum dosen tersebut terhadap enam orang mahasiswinya.

Kepolisian dalam hal tersebut tidak mau gegabah dalam menangani permasalahan itu, pihaknya usai menerima laporan dari enam mahasiswi yang menjadi korban keganasan oknum tersebut, langsung bergerak hingga mengamankan tersangka yang berstatus sebagai Kepala Prodi Fisika Fakultas Ilmu Keguruan dan Pendidikan di UPR.

Sementara itu, Rektor UPR Andrie Elia Embang mengaku bahwa oknum dosen berinisial PS yang telah ditetapkan menjadi tersangka oleh Polda Kalteng, juga sudah diberhentikan dari jabatannya sebagai kepala Prodi Fisika UPR atas perbuatan yang tidak terpuji itu.

"PS sudah kami berhentikan dari jabatan sebagai Ketua Prodi Fisika FKIP UPR. Itu setelah tim kami melakukan investigasi," tegas Andrie seperti dikutip Antara. 

     Pemulihan Trauma

Dinas Sosial Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) menyiapkan dukungan pemulihan trauma bagi mahasiswi Universitas Palangka Raya yang menjadi korban pelecehan seksual.

"Kami siap menampung mahasiswi korban pelecehan seksual yang dilakukan oknum dosen di Palangka Raya," kata Sekretaris Dinas Sosial Kalimantan Tengah Budi Santoso di Palangka Raya, Senin (2/9/2019).

Ia menjelaskan, Dinas Sosial memiliki Trauma Center dan sudah menyiapkan dokter serta psikolog untuk membantu pemulihan mahasiswi yang menjadi korban pelecehan seksual.

"Pemulihan trauma biasanya selama enam hari, sisanya rawat jalan," katanya.

Budi memastikan petugas Trauma Center Dinas Sosial yang ada di Jalan Rajawali, Kota Palangka Raya, akan merahasiakan identitas dan alamat tempat tinggal korban.

"Nama dan identitas lengkap mereka kami rahasiakan sebagaimana kode etik pekerja sosial, maka dari itu kami harus mematuhinya karena sudah ada aturan," katanya.

Sementara itu, Rektorat Universitas Palangka Raya menyatakan juga akan segera mengajukan usul pencabutan status Aparatur Sipil Negara (ASN) dosen yang diduga melakukan pelecehan seksual kepada mahasiswi ke Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi.

"Kalau perkara inkrah (berkekuatan hukum tetap) kami akan mengirim surat rekomendasi untuk pemecatan terhadap yang bersangkutan ke Kemenristek Dikti," kata Wakil Rektor Bidang Hukum, Organisasi, SDM dan Kemahasiswaan Universitas Palangka Raya Prof Suandi Sidauruk. ***