logo

Alhamdulillah, Jumlah Wisman Januari – Juli 2019 Tembus 9,31 Juta

Alhamdulillah, Jumlah Wisman Januari – Juli 2019 Tembus 9,31 Juta

03 September 2019 08:13 WIB
Penulis : Syamsudin Walad

SuaraKarya.id - JAKARTA: Sektor pariwisata betul-betul pantas menjadi pilihan dan andalan Indonesia dalam menapaki persaingan global. Di saat hampir semua negara terimbas oleh “Trade War” atau perang dagang USA v Tiongkok, pariwisata yang 5 tahun berturut-turut menjadi leading sector ini, tetap konsisten dan terus maju di regional maupun global. 

Pertumbuhan komulatif wisatawan mancanegara yang masuk ke tanah air dari Januari - Juli 2019, menembus angka 9,3 juta. Naik tidak banyak, hanya 2,63% dari capaian di periode tahun sebelumnya, 2018. Kala itu di angka 9,07 juta. 

“Alhamdulillah masih naik, masih positive growth, konsisten selama lima tahun ini terus naik,” sebut Kepala Biro Komunikasi Publik Kemenpar Guntur Sakti di Jakarta.  
Selama dipimpin Menpar Arief Yahya, lanjut Guntur, growth pariwisata dari tahun ke tahun cukup dramatis. Dari 9,4 juta di 2014, naik 10,4 juta di 2015, lalu melompat lagi 12 juta di 2016, dan melonjak di 14 juta tahun 2017. Di tahun 2018 pun, kembali melejit di angka 15,8 juta. Belum ada dalam sejarah pariwisata Indonesia, yang bertumbuh dramatis setiap tahun seperti ini. 

ASPA atau Average Spending Per Arrival, yang oleh BPS – Badan Pusat Statistik acap dinamai PPK, Pengeluaran Per Kunjungan juga makin signifikan. Rata-rata 1.220 USD per kunjungan. Angka itu sudah berdasarkan survei oleh BPS, baik dari 19 pintu utama, maupun pintu lainnya, termasuk di crossborder di perbatasan. 

Meskipun mengalami kenaikan secara kumulatif, namun memasuki Semester II 2019 ini, jumlah wisman bulan Juli 2019 hanya tercapai 1,48 juta kunjungan. Angka itu turun 4,10 persen dibanding jumlah kunjungan wisman pada Juli 2018 yang berjumlah 1,55 juta kunjungan. “Maka Semester II 2019 ini kerja keras buat Kemenpar,” kata Karo Komblik Kemenpar itu. 

Mengapa di awal Semester II justru turun? Padahal, biasanya Semester II itu bisa lebih banyak. Tentu, ada dua hal yang penting, yang mempengaruhi hasil bulan Juli 2019 itu, yakni internal dan eksternal. “Secara eksternal, perang dagang Amerika vs Tiongkok, masih mempengaruhi semua lini di seluruh dunia, termasuk tourism,” ungkap Guntur Sakti. 

Komulatif inbound ke Thailand, Januari – Juli 2019, juga hanya bertumbuh 1,92%, sangat tipis. Begitu pun negara tetangga Singapore, komulatif hanya naik 1,35%. Vietnam yang paling gesit, masih growth 7,9%. “Jadi memang lesu di mana-mana. Apalagi Indonesia yang tahun kemarin wisman Tiongkok paling banyak. Perang dagang ini berdampak pada originasi China,” ungkapnya. 

Di Semester I, dari Januari – Juni 2019, pariwisata regional ASEAN sangat terpukul. Dari 11 originasi atau negara asal wisatawan mancanegara yang menjadi penyumbang terbesar berwisata ke ASEAN, rata-rata pertumbuhannya hanya 4,7 persen atau turun dari periode yang sama pada 2018, yang mencapai pertumbuhan 8,5 persen. Ini data diambil dari Ministry of Tourism (MoT) dari masing-masing negara. 

“Jadi situasi lesu ini terjadi di seluruh negara ASEAN. Indonesia masih yang tertinggi growthnya, sampai 11% persen di Semester I Januari-Juni 2019, masih di atas rata-rata negara ASEAN. Malaysia pertumbuhannya 4,9 persen, Singapura 3,1 persen, Vietnam 6,9 persen, dan Thailand 1,5 persen. Wilayah lainnya cenderung ada peningkatan atau tetap,” jelas Guntur.

Ke-11 negara originasi yang sama-sama menjadi target market utama di ASEAN itu antara lain Tiongkok, Singapura, Australia, Malaysia, India, Amerika Serikat, Jepang, Inggris, Korea Selatan, Prancis, dan Filipina.  

Secara kumulatif selama Januari–Juli 2019, wisman yang datang dari wilayah ASEAN memiliki persentase kenaikan paling tinggi, yaitu sebesar 17,60 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Sedangkan wilayah ASIA selain ASEAN memiliki persentase penurunan paling besar yaitu sebesar 8,66 persen. 

Sementara menurut kebangsaaan, kunjungan wisman yang datang ke Indonesia selama 2019 paling banyak berasal dari wisman berkebangsaan Malaysia sebanyak 1,84 juta kunjungan (19,78 persen), Tiongkok 1,25 juta kunjungan (13,37 persen), Singapura 1,07 juta kunjungan (11,50 persen), Australia 745,5 ribu kunjungan (8,01 persen), dan Timor Leste 717,1 ribu kunjungan (7,70 persen). 

Bagaimana dengan factor internal? Inilah yang sering dikhawatirkan oleh Menpar Arief Yahya. Pertumbuhan yang tinggi dari waktu ke waktu itu harus diimbangi dengan produk yang kuat, variatif, makin banyak, menyebar dan mendunia. Jika tidak? Maka bisa terjadi overheating. Mirip mobil, untuk bisa bersaing di Formula 1, maka segala hal yang diperlukan untuk balapan, harus disiapkan dengan baik. 

“Maka saat ini sedang kembali ke basic framework. Produk Pariwisata adalah destinasi, sedang customer Pariwisata itu originasi, dari mana mereka datang. Secara digital mereka dikoneksi dengan timeline. Dua bulan terakhir ini Pak Menteri Arief Yahya sangat rajin keliling destinasi super prioritas dan prioritas, sekaligus memastikan 3A dalam destinasi: Atraksi Akses dan Amenitas,” ungkap Guntur Sakti. 

Persis dengan arahan Presiden Jokowi, yang sudah meninjau Destinasi Super Prioritas Borobudur, Kaldera Danau Toba, Komodo Labuan Bajo, Mandalika Lombok dan Bitung Sulawesi Utara. Konsentrasi ke produk, kesiapan destinasi, infrastruktur dasar, utilitas dasar, Sumber Daya Manusia (SDM), industri pariwisata yang berbasis pada Tourism 4.0, dan lainnya. Dua bulan terakhir, terus meng-explore destinasi dengan semua potensinya. 

Faktor Internal lain yang terus ditangani adalah soal manajemen crisis kepariwisataan. Apapun, yang mananya bencana alam itu membawa “ketakutan” dan trauma yang tidak mudah dihapuskan. Dari serentetan gempa, erupsi Tangkuban Perahu, gempa Sulawesi 7 Juli 2019, isu megatrust dan lainnya. “Managemen crisis kami juga sudah makin kuat, koordinasi dengan semua lini juga main incorporated, dengan BMKG, BVMBG, BNPB, Basarnas, Polri, TNI, dan lainnya,” ungkap Guntur. 

Lalu bagaimana ke depan? Mengejar ketinggalan di semester II? “Framework 9  bagan itu terus kami implementasikan di lapangan dengan lebih cepat. Ada Ordinary, Extra Ordinary, dan Super Extra Ordinary. Misalnya, hot deals, tourism hub, dan incentive transportation, akan menjadi kekuatan untuk mendatangkan wisman ke tanah air,” ujarnya.

Editor : Yon Parjiyono