logo

Badan POM Kampanyekan: "Ayo Buang Sampah Obat, Sikat Obat Ilegal!"

Badan POM Kampanyekan:

01 September 2019 23:13 WIB
Penulis : AG. Sofyan

SuaraKarya.id - JAKARTA: Bulan Juli lalu, masyarakat dikejutkan dengan adanya peredaran obat ilegal termasuk palsu yang bersumber dari pemanfaatan obat kedaluwarsa atau rusak yang dibuang di sembarang tempat.

Hasil pengawasan Badan POM menunjukkan bahwa temuan obat ilegal termasuk palsu cenderung tersebut menurun, yaitu 29 perkara pada tahun 2017, 21 perkara pada tahun 2018, dan 8 perkara pada awal tahun 2019.

Terhadap kasus ini atau juga antisipasi terhadap kasus-kasus yang akan muncul, Badan POM berupaya memberantas peredaran obat ilegal dan penyalahgunaan obat, sekaligus meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

Kepala Badan POM RI, Penny K. Lukito menerapkan kebijakan berbasis kolaboratif dan sinergisme bersama lintas sektor khususnya organisasi profesi Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) melalui Gerakan Waspada Obat Ilegal (WOI).

"Gerakan WOI merupakan salah satu gerakan pemberdayaan masyarakat yang tidak terpisahkan dari Aksi Nasional Pemberantasan Obat Ilegal dan Penyalahgunaan Obat (Aknas POIPO) yang telah dicanangkan oleh Presiden Republik Indonesia Joko Widodo tahun 2017 lalu," ujar Penny K. Lukito saat melakukan kampanye gerakan "Ayo Buang Sampah Obat" di area Car Free Day, Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu (1/9/2019).

Penny menyebut gerakan ini merupakan bentuk komitmen Badan POM dalam upaya peningkatan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat melalui pemberdayaan masyarakat terhadap bahaya risiko obat bagi kesehatan, yang berlandaskan kepada 3 (tiga) strategi utama yakni pencegahan, pengawasan, dan penindakan yang merupakan inti tak terpisahkan dari tugas, fungsi, dan kewenangan Badan POM.

Gerakan “Ayo Buang Sampah Obat” ini lanjut Penny, dilatarbelakangi karena maraknya kasus peredaran obat ilegal termasuk palsu dengan pemanfaatan obat-obat kedaluwarsa dan rusak termasuk kemasan obat yang tidak termusnahkan secara baik dan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab digunakan untuk keperluan produksi obat ilegal melalui pemanfaatan baik sebagai bahan baku (re-use) dan pelabelan ulang (re-labeling) dengan modus sederhana seperti perubahan ataubperpanjangan tanggal kedaluwarsa. Melalui gerakan ini, Badan POM bersama IAI mengedukasi masyarakat untuk waspada terhadap obat ilegal dan palsu dengan cara Buang Sampah Obat Kedaluwarsa dan Rusak dengan benar.

“Perlu kita ketahui, obat kedaluwarsa atau rusak sudah tidak memberikan efek terapi dan berbahaya jika digunakan, karena itu Badan POM mengajak masyarakat belajar tentang bagaimana cara membuang obat kedaluwarsa, obat sisa, dan obat rusak dengan benar agar tidak disalahgunakan atau dimanfaatkan oleh oknum untuk membuat obat ilegal atau palsu,” ujar Penny.

Selain di Jakarta, peluncuran gerakan ini dilaksanakan serentak di 14 (empat belas) kota yaitu Bandung, Semarang, Surabaya, Serang, Banjarmasin, Mataram, Makassar, Medan, Kendari, Pekanbaru, Palembang, Yogyakarta, Denpasar, dan Batam.

Penny K. Lukito menjelaskan bahwa setelah peluncuran gerakan berjalan selama satu bulan, masyarakat dapat membuang sampah obat kadaluwarsa di apotik yang ditunjuk di 15 kota tersebut. Gerakan ini akan dilaksanakan secara berkesinambungan sehingga tercipta budaya masyarakat untuk membuang sampah obat kedaluwarsa dan rusak dengan benar, baik yang dilakukan dengan mandiri atau dikembalikan ke apotek-apotek terdekat untuk dimusnahkan sesuai ketentuan.

Gerakan ini diharapkan akan meminimalisir peredaran obat ilegal. “Keberhasilan gerakan ini membutuhkan dukungan dan peran aktif seluruh pihak sebagai bentuk tanggung jawab bersama pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat dalam mengawasi peredaran obat khususnya peredaran obat ilegal," ujar Kepala Badan POM ini***

Editor : Dwi Putro Agus Asianto