logo

Paparkan Revolusi Digital Bidang Ekonomi Dan Keuangan, Wimboh Santoso Dikukuhkan Sebagai Guru Besar Tidak Tetap UNS

Paparkan Revolusi Digital Bidang Ekonomi Dan Keuangan, Wimboh Santoso Dikukuhkan Sebagai Guru Besar Tidak Tetap UNS

Ketua DK OJK Prof Wimboh Santoso didampingi Rektor UNS Prof Jamal Wiwoho dan Ketua Senat Prof Adi Sulistyono dalam pengukuhan Guru Besar tidak tetap FEB UNS
26 Agustus 2019 14:29 WIB
Penulis : Endang Kusumastuti

SuaraKarya.id - SOLO: Revolusi digital telah menghadirkan budaya digital di masyarakat. Sehingga tatanan ekonomi dan landscape sektor jasa keuangan mengalami pergeseran dan akan menimbulkan distorsi dalam masa transisinya.

Fenomena tersebut menjadi tantangan untuk berinovasi memanfaatkan teknologi untuk peningkatan daya saing ekonomi dan terbukanya akses keuangan masyarakat.

Hal tersebut dipaparkan Prof Wimboh Santoso, SE, MSc, PhD dalam pidato pengukuhan sebagai Guru Besar tidak tetap di bidang Ilmu Manajemen Risiko pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Jawa Tengah, di Auditorium GPH Haryo Mataram UNS, Senin (26/8/2019).

"Di masa revolusi digital ini, teori ekonomi dan pendekatan pengaturan dan pengawasan industri jasa keuangan menjadi kurang relevan," jelas Wimboh dalam pidatonya berjudul Revolusi Digital: “New Paradigm” di Bidang Ekonomi dan Keuangan.

Sehingga menurut Wimboh, dibutuhkan pendekatan baru yang lebih dinamis, konstekstual, dan mengadopsi teknologi terkini. Pendekatan baru tersebut dibutuhkan untuk melihat proyeksk ekonomi dan potensi risikonya terhadap stabilitas sistem keuangan serta perlindungan konsumen.

Lebih lanjut Wimboh mengatakan melihat perkembangan maupun potensi risiko dan konsekuensi seiring revolusi digital di sektor keuangan maka perlu ada perubahan paradigma dalam pengawasan dan pengaturan sektor jasa keuangan.

"Perkembangan industri fintech tidak dapat dibendung. Tidak bisa dipungkiri Indonesia adalah negara kepulauan yang memiliki 17.504 pulau dengan fasilitas infrastruktur terbatas dan memiliki jumlah unbanked people yang besar dan UKM yang masih kurang terlayani lembaga keuangan formal," jelasnya lagi.

Sehingga dibutuhkan pendekatan yang tepat dalam memformulasikan regulasi dan pengawasannya agar inovasi keuangan bisa didorong tapi tetap dalam koridor terjaganya stabilitas dan nasabah terlindungi.

"Di dunia pendidikan, dalam penyediaan pendidikan dan pelatihan tentang teknologi keuangan yang berkualitas perlu kolaborasi dengan industri," kata Wimboh yang juga alumni FEB UNS angkatan pertama itu lagi.

Sementara itu, Rektor UNS Prof Jamal Wiwoho, dalam sambutannya mengatakan UNS yang saat ini berada di klaster 1 universitas terbaik di Indonesia membutuhkan keahlian yang dimiliki Wimboh.

"Selain pada tataran konsep teori juga beliau sudah matang  pada level praktis, sejak berkarir di Bank Indonesia hingga saat ini sebagai Ketua Dewan Komisioner  OJK. Sehingga hal ini akan mewarnai riset dan publikasi UNS kedepan," kata Jamal.

Di UNS, baru Fakultas Kedokteran yang sudah mempunyai teaching factory berupa Rumah Sakit di Kampus Pabelan, serta FKIP dengan Lab School di SMA Pradita Dirgantara, dan Fakultas Teknik dengan Baterai Lithiumnya di Kampus Purwosari.

“Harapan kami, dengan kehadiran Prof Wimboh, nanti semakin mempercepat hadirnya sebuah Teaching Factory dan spin off dari FEB yang berada dalam sebuah Center of Excellence di kampus tercinta UNS ini," katanya lagi.

Pengukuhan Prof Wimboh Santoso dilaksanakan dalam sidang senat terbuka dan dihadiri sejumlah tokoh. Salah satunya Ibunda Presiden Joko Widodo, Notomihardjo. Selain itu juga dihadiri Ketua Wantimpres Sri Adiningsih, Mahfud MD, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, Mantan Menteri Pendidikan Muhammad Nuh, Krisnina Akbar Tandjung serta pejabat di lingkungan OJK dan Bank Indonesia. ***

Editor : Dwi Putro Agus Asianto