logo

Pelibatan Masyarakat Dibutuhkan Dalam Pembangunan Perkotaan Berkelanjutan

Pelibatan Masyarakat Dibutuhkan Dalam Pembangunan Perkotaan Berkelanjutan

Sejumlah daerah hadir berbagi pengalaman dalam simposium Civic Engagement 4.0 di Solo
22 Agustus 2019 17:54 WIB
Penulis : Endang Kusumastuti

SuaraKarya.id - SOLO: Pelibatan masyarakat dibutuhkan untuk pembangunan perkotaan yang berkelanjutan, adil, dan manusiawi. Pemerintah tidak bisa berjalan sendiri untuk mewujudkan pembangunan. Sejumlah daerah di Indonesia dinilai berhasil dalan melibatkan masyarakat dalam pembangunan.

Keberhasilan sejumlah daerah dalam pelibatan masyarakat tersebut menjadi bahan diskusi dan berbagi pengalaman yang dibahas dalam simposium Civic Engagement 4.0 International Forum, di Sunan Hotel Solo, Jawa Tengah, Kamis (22/8/2019). Simposium tersebut dihadiri perwakilan dari 11 negara.

"Kegiatan ini untuk menggalang ide, gagasan, dan diskusi antar daerah yang bertujuan mewujudkan kotak-kota yang manusiawi, berkelanjutan dan adil. Simposium ini juga untuk mengembangkan jajaring antar daerah agar lebih peduli," jelas Direktur KotaKita, Ahmad Rifai.

Hasil dari simposium tersebut akan menjadi rekomendasi bagi pemerintah. Dalam acara tersebut dihadiri pejabat dari sejumlah daerah di Indonesia. Diantaranya dari Pemkot Solo, Wali Kota Banjarmasin Ibnu Sina, Asisten Pemkot Mataram Lalu Martawang, Sekda Lombok, Kepala Bappeda Lombok Utara Ahmad Dewanto Hadi, Wakil Bupati Gunung Kidul Immawan Wahyudi. Serta Wali Kota Provinsi Yala Thailand, Pongsak Yingchoncharoen.

"Pemerintah tidak bisa berjalan sendiri dan kami di Yala sangat terbuka bagi semua pihak untuk berbagi pengalaman seperti di Indonesia yang bekerja dengan sistem multi stakeholder," kata Pongsak Yingchoncharoen.

Wali Kota Banjarmasin, Ibnu Sina pada kesempatan yang sama mengatakan di daerahnya, pemerintah telah melibatkan masyarakat dan organisasi seperti organisasi KotaKita.

"KotaKita telah masuk untuk membantu pemerintah dalam penataan daerah kumuh. Acara Civil Engagement ini penting bagi pemerintah kota untuk saling sharing," jelas Ibnu.

Perwakilan Indonesia Consortium fot Religious Studies (ICRS), Dr Dicky Sofjan menambahkan, semua kota di dunia saat ini menghadapi tantangan berat dengan berbagai perubahan demografi, konstelasi politik, ekonomi dan budaya yang cepat.

"Simposium ini bertujuan untuk membangun komunikasi dan saling tukar pandangan serta pengalaman menyangkut isu-isu terkait dengan mastabat manusia, keadilan sosial dan berkelanjutan," pungkasnya. ***

Editor : B Sadono Priyo