logo

Kenalkan Nilai Pancasila Tidak Cukup Dengan Seminar

Kenalkan Nilai Pancasila Tidak Cukup Dengan Seminar

Seminar nasional Pancasila sebagai platform pembangunan manusia dan kebudayaan yang digelar di UNS Solo
19 Agustus 2019 22:57 WIB
Penulis : Endang Kusumastuti

SuaraKarya.id - SOLO: Mengenalkan nilai-nilai Pancasila untuk kehidupan bermasyarakat tidak cukup hanya melalui seminar. Perlu tindakan represif dan preventif.

Hal ini dikatakan Plt Kepala BPIP RI (Badan Pembinaan Ideologi Pancasila Republik Indonesia), Prof Hariyono, di sela Seminar Nasional Apresiasi Pancasila 2019, di kampus Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Jawa Tengah, Senin (19/8/2019).

"Kita perlu lebih giat dalam menanamkan dan membawa nilai-nilai pancasila di kehidupan bermasyarakat," ujar Hariyono dalam seminar yang merupakan rangkaian dari agenda Pemberian Apresiasi Prestasi Pancasila oleh BPIP tersebut.

Untuk mengenalkan nilai-nilai Pancasila, BPIP memiliki ide yakni dengan cara yang menyenangkan, terlebih kepada anak-anak. Salah satunya dalam dunia seni pertunjukkan.

"Kami memberi masukkan agar dunia seni pertunjukkan menampilkan imajinasi masa depan Indonesia yang ideal sehingga meningkatkan kepercayaan diri bangsa. Untuk itu, BPIP tengah bekerjasama dengan pendongeng-pendongeng di Indonesia," paparnya.

Lebih lanjut, Prof Hariyono mengatakan ada lima permasalahan utama berkaitan dengan penanaman dan implementasi pancasila. Yaitu distorsi pemahaman pancasila, kelembagaan atau institusionalisasi pancasila yang tidak terlaksana, keilmuan yang belum berdasar atau memasukkan nilai pancasila, hilangnya keteladanan, serta eksklusivisme.

Pancasila merupakan working ideology. Untuk mencapai visi misi bangsa Indonesia, diperlukan orang-orang yang berprestasi dan memberikan keteladanan bagi masyarakat Indonesia pada umumnya.

"Maka Pancasila hendaknya tidak hanya dimaknai sebagai sejarah besar bangsa Indonesia tetapi juga pegangan masa depan Indonesia," jelasnya.

Sementara itu, Dewan Pengarah BPIP, AWS Sudhamek dalam seminar tersebut mengatakan gaya kepemimpinan berdasar Pancasila yang harus dimiliki oleh masyarakat Indonesia khususnya generasi muda untuk mewujudkan Indonesia yang adil dan makmur.

“Gaya kemimpinan yang paling baik adalah gaya kepemimpinan zona biru. Yaitu gaya kepemimpinan yang konstruktif, memiliki sifat pembelajar, fokus kepada tujuan, peduli terhadap hasil kinerja anggota tetapi tidak lupa memperhatikan sisi humanis," jelas Sudhamek.

Sedangkan Rektor UNS Prof Jamal Wiwoho, mengatakan akar-akar Pancasila sudah ada di Solo sejak zaman dahulu. Dan UNS sebagai pelopor benteng pancasila bukan hanya sebagai sumber pengamalan Pancasila tetapi juga sebagai benteng peradaban untuk melanjutkan nilai-nilai intelektual Pancasila.

"Ada tiga kebijakan UNS sebagai Benteng Pancasila, yaitu kebijakan di bidang akademik, bidang tata kelola, dan bidang sosial,” ujarnya.

Selain AWS Sudhamek, seminar tersebut juga dihadiri Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen, Pengamat Politik Yunarto Wijaya, Tokoh Masyarakat Jack Harun serta Dewan Pengarah BPIP Mayjend TNI (Purn) Wisnu Bawa T. ***

Editor : Azhari Nasution