logo

Mendes Apresiasi Rumah Bongkar Pasang Untuk Para Transmigran

Mendes Apresiasi Rumah Bongkar Pasang Untuk Para Transmigran

Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Eko Putro Sandjojo (kanan) menerima Dosen Arsitektur ITB Permana (tengah). (foto,ist)
14 Agustus 2019 23:24 WIB
Penulis : Budi Seno P Santo

SuaraKarya.id - JAKARTA: Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Mendes PDTT) Eko Putro Sandjojo menyatakan rasa tertariknya dengan konsep knock down (bongkar pasang) untuk rumah transmigrasi, yang ditawarkan Institut Teknologi Bandung (ITB).

Hal tersebut mengemuka ketika dia menerima audiensi dari Dosen Arsitektur Institut Teknologi Bandung (ITB) Permana, di ruang kerjanya, kantor Kemendes PDTT Jakarta, Rabu (14/8).

Permana menawarkan konsep rumah hasil riset arsitek ITB, yang diklaim berbiaya murah dan praktis. Rumah tersebut juga dirancang untuk tahan gempa.

Menurut Mendes PDTT, selain dapat digunakan untuk rumah transmigrasi, konsep tersebut juga bisa digunakan untuk membangun rumah rawan gempa, rumah untuk tentara, serta homestay di desa wisata. “Idenya bagus ini. Bisa untuk rumah tahan bencana,” ujarnya.

Tak hanya itu, dia juga tertarik dengan peluang bisnis yang dapat dikembangkan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) terkait rumah berbahan dasar kayu ini. Dikatakannya, BUMDes memiliki potensi besar untuk menjadi sentra produksi bahan baku rumah knock down.

“Saya sangat mendukung program ini. Semoga ini bisa berjalan segera, sehingga selain bisa membantu memberikan lapangan pekerjaan, juga membuka peluang bisnis bagi BUMDes di desa-desa. Juga bisa menyediakan rumah dengan cepat dan murah,” tuturnya.

Permana menceritakan, rumah knock down rancangannya tersebut terinspirasi dari permainan lego yang biasa dimainkan oleh anak-anak. Dia menjelaskan, proses pembangunan rumah juga tidak membutuhkan waktu lama hanya sekitar 2-3 minggu per rumah tergantung tipe.

“Bahan rumah kita pilih kayu. Karena hutan sekarang lebih banyak hutan produksi daripada hutan alam. Selain itu, kayu yang digunakan juga bisa dari kayu serpihan yang di beberapa konstruksi menjadi limbah,” terangnya.

Dia berharap, konsep rumah tersebut tak hanya menjadi solusi bagi kebutuhan rumah murah dan rumah tahan bencana. Namun, juga bisa memberikan dampak bisnis dari hulu hingga hilir. “Kayunya bisa dari desa. Skilnya juga tidak harus tinggi. Kayunya kita buat seperti lego,” ujarnya.

Editor : Dwi Putro Agus Asianto