logo

Pengamat Nilai Komunikasi Politik KIK Mulai Retak

Pengamat Nilai Komunikasi Politik KIK Mulai Retak

Ketua Umum Gerindra, Prabowo Subianto, menyambangi kediaman Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri, Jakarta, Rabu (24/7).
14 Agustus 2019 07:50 WIB
Penulis : Muhajir

SuaraKarya.id - JAKARTA: Dinamika politik yang berkembang pascapertemun Joko Widodo dengan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto yang kemudian disusul dengan  pertemuan lanjutan antara Prabowo dengan Megawati Soekarnoputri di kediamannya beberapa waktu lalu, membuat partai koalisi pendukung pasangan Jokowi-Ma’ruf tidak nyaman.

Pengamat kebijakan administrasi publik Bambang Istianto menili kemesraan Partai Gerindra dengan PDIP, akhir-akhir ini kian lengket dan mengusik partai pengusung Jokowi-Ma’ruf pada Pilpres 2019, merupakan hal yang wajar.

Hal tersebut dikatakan Bambang menanggapi kabar bahwa Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh sudah berkomunikasi dengan Presiden PKS Sohibul Iman untuk mengatur pertemuan dalam waktu dekat.

“Itu sangat rasional, karena partai kolisi pendukung Jokowi-Ma’ruf selama ini jerih payah membangun persepsi publik terkait dengan keberhasilan Jokowi dalam kepemimpinannya selama periode pertama, dan itu berhasil. Tapi, setelah memenangkan Pilpres, partai yang selama ini kritis dan menjadi rivalitas utama kemudian diberikan angin segar, tentu membuat partai koalisi Indonesia kerja tersinggung,” ujar Bambang kepada Suarakarya.id, Rabu (14/8/219).

Menurut Bambang, perbedaan sikap Ketua Umum NasDem Surya Paloh dengan Megawati yang sebelumnya bersama-sama dalam mendukung Jokowi-Ma’ruf, merupakan sebuah akumulasi persoalan terkait dengan komunikasi politik yang dibangun Koalisi Indonesia Kerja (KIK) tidak efektif, dan cenderung mulai retak.

“Bahkan, hadirnya Prabowo di Stasiun MRT Lebak Bulus yang bertemu dengan Jokowi, beredar kabar bahwa partai koalisi tidak diajak untuk berbicara mengenai rencana pertemuan tersebut. Persoalan ini tentunya akan mamantik perpecahan di kubu KIK,” jelas Bambnag.

Seperti diketahui, Partai NasDem dikabarkan akan segera bertemu dengan PKS. Hal ini sebagai bentuk kekecewaan NasDem kepada PDIP yang kian mesra dengan Gerindra. Namun kabar itu tegas dibantah Sekjen NasDem Johhny G Plate.

Menurut Johnny, pertemuan Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri dan Ketum Gerindra Prabowo Subianto tak bisa langsung diartikan bahwa Gerindra gabung koalisi pemerintah. Dia menegaskan, komunikasi antara pimpinan parpol berjalan baik. Tapi, masing-masing sikap politik sudah konsisten, ada yang di dalam dan di luar pemerintah.

“Demikian pula misalnya nanti ada suatu saat ada pertemuan dengan PKS, Emang kalau bertemu dengan PKS membuat koalisi? Enggak ada dan belum ada rencana pertemuan itu belum ada, kata siapa itu?” kata Johnny.

Johnny membantah bila Surya Paloh sudah berkomunikasi dengan Presiden PKS Sohibul Iman untuk membahas poros baru. Dia menegaskan, jikapun sang ketum bertemu dengan elit politik oposisi, itu merupakan silaturahmi biasa.

“Kalau kabar sekarang saya bilang tidak ada, jadi jangan kembangin kabar-kabar burung dalam politik, tapi kalau suatu saat nanti bertemu dengan Pak Prabowo, bertemu Pak SBY, bertemu Pak Zul, bertemu dengan Pak Sohibul, apa salah itu? Enggak salah bertemu komunikasi harus ada, sikap politik tetap masing-masing, itu supaya jelas,” tuturnya.

Johnny menegaskan, bahwa KIK masih kompak. Dia pun kesal bila ada isu poros Teuku Umar – Kertanegara.

“Lalu sekarang dibikin isu lagi NasDem dengan PKS, siapa lagi yang bikin begituan? Apa mau merusak Republik kita? Media kan punya tugas juga membantu merekatkan masyarakat,” tegasnya. **

 

Editor : Dwi Putro Agus Asianto