logo

Komisi I DPRD Kota Bekasi Akui PDAM Tirta Bhagasasi Belum Miliki SPM

Komisi I DPRD Kota Bekasi Akui PDAM Tirta Bhagasasi Belum Miliki SPM

Cabang PDAM Tirta Bhagasasi di Kelurahan Bojong Rawalumbu, Kecamatan Rawalumbu, Kota Bekasi. (Foto: Dok.suarakarya.id)
14 Agustus 2019 02:05 WIB
Penulis : Dharma/Aji

SuaraKarya.id - BEKASI : Ketua Komisi I DPRD Kota Bekasi Chairuman J Putro mengakui, PDAM Tirta Bhagasasi Bekasi belum memiliki standar pelayanan minimal (SPM) yang diketahui pelanggan.

"Ketika kualitas, kuantitas, kontinuitas air yang buruk dikeluhkan pelanggan, maka tidak ada satu regulasi pun mewajibkan Tirta Bhagasasi memberikan ganti rugi atau kompensasi bagi pelanggan," kata politisi PKS saat dihubungi suarakarya.id, Selasa (13/8).

Seharusnya, menurut dia, PDAM Tirta Bhagasasi sebagai perusahaan pelayanan publik berkewajiban membuat peraturan SPM berbentuk Perda atau peraturan lain sejenis. Menurut dia, tanpa adanya SPM, pelayanan PDAM Tirta Bhagasasi dinilai semakin buruk dan pelanggan selalu dalam posisi dirugikan.

"Sebagai lembaga pelayanan publik harus berani memberikan SPM yang include kepada masyarakat," tegas Chairuman.

Dia juga mempertanyakan SPM di PDAM Tirta Bhagasasi. Pertama, standar pelayanan apa sudah clear?

"Apa sudah menyeluruh pelayanan diberikan kepada masyarakat," ujarnya.

Kedua, sejauhmana adanya komplain hosting. "Ini harus jelas, berapa waktu (respon) PDAM Tirta Bhagasasi melakukan perbaikan ketika terjadi gangguan dilapangan," kata dia.

Ketiga, hotline dalam menghadapi pengaduan pelanggan?

"Sejauhmana menghubungi call center PDAM untuk permintaan layanan mobil tangki air keliling," kata Chairuman.

Kendati begitu, dia berharap kedepannya ada pembinaan yang dilakukan oleh Komisi III terkait Badan Usaha Milik Daerah (BUMD).

"Mereka harus rapat kerja dan memanggil instansi terkait seperti Ekbang, Asda Pembangunan untuk mengatasi permasalahan pelayanan di PDAM," tegas Chairuman.

Diketahui, peraturan SPM ini mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2018. Dimana, pemerintah baik provinsi maupun kota/kabupaten wajib menyelenggarakan SPM sebagai pelayanan dasar. Pelayanan dasar dimaksud adalah pelayanan publik untuk memenuhi kebutuhan dasar warga negara.

Evaluasi

Kinerja PDAM Tirta Bhagasasi perlu kiranya dilakukan evaluasi mengingat adanya keluhan pelanggan terhadap air bersih. Seperti beberapa hari lalu, sejumlah pelanggan di cabang PDAM Tirta Bhagasasi, Kelurahan Bojong Rawalumbu, melakukan komplain mutu air hingga terhentinya distribusi air bersih.

Salah satu pelanggan di wilayah Pengasinan, Eka berharap agar PDAM Tirta Bhagasasi dapat meningkatkan pelayanan.

"Mulai dari menyiapkan air dengan  kualitas prima sampai distribusi," katanya.

Selanjutnya, ketika akan mematikan aliran air, masyarakat harus mendapatkan pemberitahuan terlebih dahulu.

"Sering air PAM mati tanpa pemberitahuan. Pemberitahuan ini harus sampai ke warga," ujar dia.

Perawatan Berkala

Pengelolaan air baku PDAM Tirta Bhagasasi berasal dari aliran sungai Kalimalang (Jati Luhur) dengan sistem pengolahan yang menggunakan chemical. 

Berikut sistem pengolahannya.

1. Air Kalimalang disalurkan ke Sumur intake PDAM.

2. Setelah masuk dalam sumur intake, air tersebut di sedot oleh pompa ke water treatment plan (WTP) untuk diolah dengan beberapa tahapan menggunakan chemical tertentu sehingga air menjadi bersih sesuai dengan standar Dinas Kesehatan.
 
3. Setelah air menjadi bersih maka disalurkan atau disimpan dalam bak reservoir. 

4. Dari reservoir air bersih tersebut di pompa kembali untuk di distribusikan kepada pelanggan dengan melalui jalur perpipaan.

Namun, jika terjadi air keruh di pelanggan maka ada yang harus di deteksi dulu apa penyebab kekeruhan tersebut. Apakah keruh karena kegagalan pengolahan di WTP atau keruh karena terjadi flokuasi di dalam jaringan pipa distribusi.

Jika keruh terjadi karena kegagalan pengolahan di WTP, maka langkah yang harus diambil yakni;

- Mengevaluasi semua sistem yang ada di WTP, apakah berjalan dengan baik dan semestinya.

- Mengecek tingkat NTU (Kekeruhan air baku Sungai) sehingga dapat disesuaikan dosis chemical yang akan digunakan Untuk menjernihkan air.

Selanjutnya, jika keruh terjadi karena terbentuknya flokulasi di dalam jaringan pipa distribusi, maka harus dilakukan flushing dengan membuka gatevalve washout di setiap ujung pipa yang terpasang.

Kemudian, jka air bersih tidak sampai ke rumah pelanggan, maka ada beberapa faktor penyebab diantaranya;

1. PDAM berhenti memproduksi air di WTP karena; mati listrik, air baku Sungai kering, air baku Sungai tercemar, rusaknya pompa Sumur Intake, dan kegagalan lain dalam proses penjernihan air.

2. PDAM berhenti mendistribusikan air dari reservoir ke jaringan pipa karena; air bersih di reservoir kosong karena gagal produksi, pompa distribusi rusak, listrik padam.

3. Terjadi kebocoran pipa distribusi baik pipa distribusi utama maupun pipa distribusi sekunder.

Diketahui, Cabang PDAM Tirta Bhagasasi di wilayah Kecamatan Rawalumbu, jarak antara Sumur Intake dengan WTP sangat jauh. Sumur Intake ada di samping Kampus Unisma (Pinggir Kalimalang) sedangkan WTP berada di seberang Jalan Tol.

Sehingga, ketika terjadi trobel terhadap pipa air baku dari Intake ke WTP, maka penanganannya akan membutuhkan waktu yang cukup lama.

Solusinya, agar meminimalisir kerusakan pipa air baku dan Sumur Intake adalah dengam cara sering melakukan maintenance secara kontinyu. ***

Editor : B Sadono Priyo