logo

Mengenal Kabasaran, Tarian Penyambut Menpar Di TIFF 2019

Mengenal Kabasaran, Tarian Penyambut Menpar Di TIFF 2019

11 Agustus 2019 16:23 WIB
Penulis : Syamsudin Walad

SuaraKarya.id - TOMOHON: Sejumlah pria menggunakan kain merah beserta aksesorisnya mencuri perhatian di Jalan Walian, Kota Tomohon, Kamis (8/8). Mereka berteriak. Matanya melotot. Ekspresinya garang. Apalagi, mereka semua memegang senjata. Seolah tidak memperbolehkan siapa pun mendekat. Tak jauh dari sana, ada Menteri Pariwisata Arief Yahya. Tidak seperti para pria itu, Menpar justru tersenyum ramah. Ada apa gerangan?

Suasana di atas bukanlah demo. Apalagi perang. Para pria bersenjata itu sedang menampilkan Tari Kabasaran. Yaitu, tarian asal Suku Minahasa yang sudah menjadi kesenian tradisional Sulawesi Utara. Mereka hadir di Jalan Walian Kota Tomohon untuk menyambut kedatangan Menpar Arief Yahya. Karena, Menpar akan melepas peserta Tournament of Flower Tomohon International Flower Festival (TIFF) 2019.

Tari Kabasaran sering juga disebut sebagai tarian perang. Makanya, para penari Kabasaran selalu tampil dengan ekspresi garang. Lengkap dengan pedang dan tombak. Mereka juga bergerak dan berteriak mengikuti alunan alat musik pukul. Seperti gong, tambur, atau kolintang yang disebut dengan “Pa‘ Wasalen”.

Menurut Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Kementerian Pariwisata Rizki Handayani, Tari Kabasaran sangat identik dengan Sulawesi Utara.

“Tarian ini kerap tampil di banyak event. Juga sering digunakan untuk menyambut tamu-tamu penting yang berkunjung ke Sulawesi Utara. Buat Sulawesi Utara, Tari Kabasaran lebih dari identitas. Tetapi juga kebangaan,” papar Rizki, Sabtu (10/8).

Dahulu, para penari Kabasaran juga menjadi penjaga keamanan di desa. Jika wilayah mereka terancam diserang musuh, para penari Kabasaran berubah menjadi waranei. Alias prajurit perang.

Seiring berjalannya, waktu, Kabasaran mulai digunakan menyambut para tamu besar. Tari Kabasaran juga dijadikan hiburan dalam pesta-pesta adat. 

Dijelaskan Rizki Handayani, Tari Kabasaran kerap mewakili Sulawesi Utara dalam berbagai event nasional. Seperti di Asia Africa Carnival 2018. Bahkan para penari Kabasaran ini juga mejeng di Jakarta untuk meramaikan Car Free Day.

“Tari Kabasaran sangat khas. Setiap tampil mereka pasti menarik perhatian. Apalagi mereka membalut diri dengan kain khas Minahasa yang berwarna merah. Juga sangat enerjik. Buat millennial, Kabasaran adalah objek foto yang luar biasa,” tutur Rizki, diamini Asdep Pengembangan Pemasaran I Regional III Kementerian Pariwisata, Muh. Ricky Fauziyani.

Sementara Ketua Tim Pelaksana Calendar of Event Kementerian Pariwisata Esthy Reko Astuty, menjelaskan jika Tari Kabasaran memang ditonjolkan perannya dalam pelaksanaan TIFF 2019. Khususnya saat para peserta kendaraan bunga berparade.

“Sejak awal Pak Menteri Datang, Tari Kabasaran langsung unjuk gigi. Para penari mengawal perjalanan Pak Menteri menuju tribun kehormatan. Ini sambutan yang luar biasa. Dan salah satu yang membuat beda TIFF 2019 dari tahun sebelumnya,” papar Esthy.

Tidak hanya saat Menpar datang. Tari Kabasaran juga mengawal setiap kendaraan bunga yang berparade. Bahkan, Dinas Pariwisata Provinsi Sulawesi Utara menampilkan Tari Kabasaran sebagai atraksi di kendaraan mereka. Dipadukan dengan keindahan Bunaken.

Gagahnya sambutan dari para penari Kabasaran membuat Menteri Pariwisata Arief Yahya sangat terkesan. Menurutnya, Sulawesi Utara Mampu menjaga sebuah tradisi dengan sangat baik. Bahkan diangkat ke permukaan.

“Sejak awal datang ke TIFF 2019, saya disambut Tari Kabasaran. Ini tarian yang khas dari Sulawesi Utara. Dan ini juga bukti jika Sulawesi Utara kaya akan atraksi. Untuk urusan ini, saya memang tidak ragu. Karena, selain tarian Sulawesi Utara memiliki banyak keunggulan dalam hal atraksi. Salah satunya Bunaken,” kata Menteri Pariwisata terbaik di Asean itu.

Ditambahkannya, keberhasilan SUIawesi Utara mengelola sektor pariwisata membuat mereka dinobatkan sebagai The Rising Destination of The Year 2019.

Editor : Dwi Putro Agus Asianto