logo

Pameran Lukisan Revolusi, 5 Karya Lama Bisa Bernarasi Sendiri

Pameran Lukisan Revolusi, 5 Karya Lama Bisa Bernarasi Sendiri

10 Agustus 2019 13:55 WIB
Penulis : Dwi Putro Agus Asianto

SuaraKarya.id - JAKARTA:  Pameran lukisan koleksi unggulan Museum Seni Rupa & Keramik di Kota Tua Jakarta telah dibuka di museum tersebut  oleh Kepala Unit Pengelola Museum Seni, Dra Esti Utami, Kamis (8/8/2019) malam.

Hadir Kepala UPK Kota Tua Norviadi Setio Husodo, Ketua Asosiasi Museum Indonesia (AMI) DKI Jakarta Yiyok T Herlambang, Kepala Galeri Nasional Pustanto dan Ny Hendra Gunawan isteri pelukis yang karya unggulannya dipamerkan pada kesempatan tersebut.

Kepala Satuan Pelayanan Museum Seni Rupa & Keramik, Hari Prabowo SSn Sabtu (10/8/2019) mengungkapkan, dari 13  lukisan lama dan 14  sketsa yang dipamerkan, ada 5 lukisan dapat bernarasi sendiri bila di-scan dengan aplikasi Siji.

"Begitu kamera handphone diarahkan ke lukisan tersebut akan terdengar keterangan yang berkaitan dengan lukisan itu sendiri," kata Hari.

Narasi tersebut juga dilengkapi dengan video tentang pelukisnya dan hal yang perlu diiformasikan maupun  divisualkan.
Lima lukisan yang "ajaib" itu di antaranya "Maka Lahirlah Angkatan '66" karya S.Sudjojono tahun 1966, lukisan "Perjuangan" karya Sudjana Kerton dan lukisan "Rapat Ikada" karya Otto Djaja tahun 1965.

Lukisan ini menggambarkan Presiden Soekarno saat berdiri di podium pada rapat kebulatan tekad pemuda Indonesia untuk tetap merdeka  di stadion Ikada (Ikatan Atletik Djakarta) tanggal 19 September 1945.

Hari kedua kemarin  tampak para pengunjung  mencoba handphonenya masing masing ketika melihat lukisan yang di depannya ada keterangan  "Sijiable" yang maksudnya dapat discan dengan aplikasi Siji.

Sementara lukisan unggulan "Pengantin Revolusi" karya Hendra Gunawan tahun lalu sudah diprogram dengan aplikasi serupa. Hasilnya bila kamera handphone diarahkan ke lukisan tersebut maka pada layar handphone kita terlihat lukisan itu menjadi hidup. Iring-iringan pengantin berboncengan sepeda di depan itu berjalan dengan iringan musik seperti dimaksudkan oleh lukisan tersebut.

Lukisan karya para pejuang  bertema perang  fisik itu ada satu yang tersamar dari temanya. Lukisan itu karya Nasjah Djamin (1924-1997) tahun 1974. Dari jauh seperti pemandangan hamparan padi di sawah yang sedang menguning dengan belahan sungai mendatar.
Judulnya Gerilya. Ternyata setelah dipandangi lebih saksama,  ada 9 orang yang mengendap endap di antara rumpun padi tersebut.

Dari sketsa karya Henk Ngantung yang pernah menjadi Wakil Gubernur dan Gubernur DKI Jakarta pertengahan 1960 an,  ada tokoh Bung Karno berbincang dengan Schermerhorn tahun 1946 dan tokoh Bung Hatta dengan Van Mook di tahun yang sama. Namun sketsa kedua lebih akurat pada kedua sosok tersebut.
Banyak lagi sketsa karya Henk Ngantung dalam mengabadikan perjanjian Linggarjati perjuangan diplomasi RI - Negeri Belanda. Ngantung melaporkan pandangan mata bukan dengan kamera atau kata kata, melainkan menukik dengan goresan hitam kuas atau penanya.

Menurut Hari Prabowo museumnya memiliki 450  koleksi lukisan yang di antaranya menjadi unggulan yang mewakili zamannya.

Jumat sore kemarin diadakan bincang bincang soal lukisan yang diikuti 30 orang. Sedang malam harinya diselenggarakan sketsa malam dengan 20 orang peserta.
"Ini tadi workshop lukisan untuk anak anak yang diikuti 50 orang anak," kata Hari.

Sementara Kasatlak Edukasi dan Informasi Museum Seni Mis Ari menjelaskan pameran lukisan dengan kurator Eddy Satriono ini berlangsung sampai 31 Agustus mendatang dalam rangka memperingati HUT ke 74 Kemerdekaan RI dan HUT ke 43 Museum Seni Rupa dan Keramik. Diharapkan pameran ini dapat menjadi inspirasi masyarakat dalam menumbuhkan semangat juang untuk mengisi kemerdekaan membangun bangsa.

Pada 15 Agustus nanti diadakan Bincang bincang Seni dan Digitalisasi dan pada 20 Agustus diselenggarakan Kreativitas Seni para Siswa Spectrum. ***