logo

Pengamat Puji Kecepatan Pertamina Atasi Tumpahan Minyak Di Teluk Jakarta

Pengamat Puji Kecepatan Pertamina Atasi Tumpahan Minyak Di Teluk Jakarta

Pulau Pari, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta yang menjadi korban kebocoran pipa Pertamina, saat ini sudah bersih dari tumpahan minyak.
10 Agustus 2019 12:40 WIB
Penulis : Yon Parjiyono

SuaraKarya.id - JAKARTA: Kesigapan tim PT Pertamina (persero) dan Pemprov DKI Jakarta mengatasi tumpahan minyak dari sumur YYA-1 area Pertamina Hulu Energi di Blok Offshore North West Java (PHE ONWJ) mendapat apresiasi sejumlah kalangan.

"Sepanjang yang kami ikuti perkembangan penanganan tumpahan minyak oleh Pertamina, kami harus acungi jempol terhadap kecepatan dan kesigapan Pertamina termasuk memberikan ganti rugi sosial terhadap masyarakat terdampak terutama nelayan di Teluk Jakarya,” kata Pengamat Energi dari Energy Watch Indonesia (EWI), Ferdinand Hutahaean melalui keterangan tertulisnya kepada Suarakarya.Id, Sabtu (10/8/2019).

Menurut Ferdinand , sejak peristiwa terjadi 12 Juli, Pertamina telah melakukan tindakan cepat dengan mengirimkan kapal dan oil boom untuk menangani tumpahan minyak. Masyarakat berharap agar penutupan sumur bisa segera dilakukan paling lama 2 bulan kedepan.

"Kita dukung Pertamina untuk menyelesaikan masalah ini dengan baik,” ujar Ferdinand.

Kepada Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) agar jangan mengedepankan kekuasaan untuk kemudian menambah beban bagi Pertamina dengan tuntutan ganti rugi segala macam.

"Seharusnya KLHK mensuvervisi Pertamina untuk menyelamatkan lingkungan, bukan malah berniat mengajukan ganti rugi yang akan jadi beban baru bagi Pertamina,” ucap Ferdinand lagi.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Indonesian Club, Gigih Guntoro mengemukakan, peristiwa tumpahan blok ONWJ merupakan kejadian teknis di kilang offshore yang direspon cepat oleh Pertamina.

Menurutnya, Pertamina mampu mengkonsolidasi tim internal dan melibatkan nelayan untuk bergerak cepat bahu membahu mengevakuasi minyak tersebut.

"Pertamina juga memberikan kompensasi terhadap masyarakat terdampak dengan cepat. Disamping itu juga Pertamina melakukan recovery titik kebocoran. Langkah-langkah ini merupakan satu bentuk tanggung jawab corporate secara umum,” kata Gigih.

Yang jelas, lanjutnya, Pertamina ada upaya untuk mengatasi dan mencari jalan keluar agar kebocoran dan dampak meluasnya tumpahan minyak tersebut tidak menyebar ke wilayah lain. Kita layak mengapresiasi langkah-langkah yang dilakukan Pertamina,” ujar Gigih.

Kesigapan Pertamina dalam mengatasi oil spill di Karawang juga mendapat apresiasi Rukun Nelayan (RN) setempat. Seperti dari RN Desa Sedari Kecamatan Cibuaya dan RN Desa Pusakajaya Utara Kecamatan Cilebar, Karawang.

Ketua RN Desa Sedari, Emong Sunarya, misalnya, menilai positif kesigapan Pertamina dalam mengatasi limbah minyak. Pasalnya, sesaat setelah warga menginformasikan bahwa ceceran minyak sudah sampai ke pantai,

Pertamina langsung memberdayakan warga nelayan untuk turut membantu mengambil oil spill dan memasukkan ke dalam karung. Pertamina juga melibatkan 100 persen nelayan Desa Sedari.

Dari 120 nelayan di desa tersebut, seluruhnya turun untuk mengatasi oil spill.

"Semua peralatan dari Pertamina. Mulai sekop, centong, plastik, karung, dan bahkan masker. Nelayan hanya tenaganya saja,” kata Emong.

Sebelumnya, Pertamina menggunakan 4.700 meter static oil boom untuk mengatasi tumpahan minyak dari sumur YYA-1 area Pertamina Hulu Energi di Blok PHE ONWJ.

"Sekarang terdapat 4.700 meter static oil boom untuk menghadang oil spill dari sumber utama," kata Incident Commander PHE ONWJ.

Editor : Yon Parjiyono