logo

DKI Fokus Remajakan Angkutan Umum

DKI Fokus Remajakan Angkutan Umum

Kepala Dishub DKI, Safrin Liputo (tengah) dan Direktur Utama PT Transjakarta, Agung Wicaksono (kanan) menyampaikan penjelasan kepada wartawan.
07 Agustus 2019 09:42 WIB
Penulis : Yon Parjiyono

SuaraKarya.id - JAKARTA: Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta melalui Dinas Perhubungan DKI bersama BUMD PT Transjakarta fokus meremajakan angkutan umum di Ibu Kota.

Hal ini sebagai tindak lanjut Instruksi Gubernur (Ingub) Nomor 66 Tahun 2019 tentang Pengendalian Kualitas Udara.

Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Syafrin Liputo, menargetkan sebanyak 10.047 angkutan umum di DKI terintegrasi dalam Jak Lingko dan diremajakan pada tahun 2020, sehingga tidak ada lagi yang berusia di atas 10 tahun.

“Untuk percepatan implementasi khususnya terkait pembatasan usia kendaraan angkutan umum yang 10 tahun, kami akan merealisasikan integrasi seluruh layanan angkutan umum maksimal tahun 2020, sebanyak 10.047 unit armada. Tentunya, keseluruhan armada akan diintegrasikan khususnya angkutan umum reguler, yaitu bus kecil, bus sedang, dan bus besar. Itu akan kita penuhi pada 2020 sebanyak 10.047armada,” kata Syafrin.

Sejauh ini, jumlah armada yang tergabung dalam sistem Jak Lingko dan telah diremajakan sejumlah 3.359 unit, yang terdiri dari bus besar 1.779 unit, bus sedang 420 unit, dan bus kecil 1.160 unit.

Peremajaan ini tidak hanya berlaku bagi armada yang memiliki trayek di Jakarta, melainkan juga yang berlaku di wilayah Jabodetabek serta mobil jenis penumpang (Pnp).

“Kita tentu memiliki upaya dan mencoba menyusun bisnis proses yang baik, dari aspek ketersediaan armada dari operator eksisting, hingga menjamin bahwa Standar Pelayanan Minimum (SPM) itu diterima oleh masyarakat dengan baik. Oleh sebab itu, pola yang kami jalankan adalah melalui kontrak layanan angkutan umum. Yaitu, operator angkutan umum eksisting itu dijamin pendapatannya oleh pemerintah. Ini adalah wujud kehadiran pemerintah, dalam bisnis angkutan, khususnya operator eksisting kita,” kata Syafrin.

Dengan adanya peremajaan armada angkutan umum yang massif ini, diharapkan dapat mengurai 141 titik kemacetan yang tersebar di lima wilayah hingga tahun 2022.

”Kami juga berharap bahwa dengan pola ini, maka seluruh layanan angkutan umum, target kami 2020, dapat mencakup coverage area-nya 90 persen di Jakarta,” ucap Syafrin.

Sementara itu, Direktur Utama Transjakarta Agung Wicaksono menyebut, Transjakarta akan menambah armada dan fasilitas integrasi.

Saat ini, fasilitas integrasi yang sudah beroperasi, yaitu Halte Transjakarta Bundaran HI (integrasi dengan MRT) dan Halte Transjakarta Rawamangun (terintegrasi dengan LRT).

“Keduanya merupakan inovasi baru. Sekarang Halte Transjakarta Tosari sedang dibangun, Halte Transjakarta Lebak Bulus dalam proses perencanaan, Halte Transjakarta CSW sudah dihasilkan sebuah desain melalui sayembara, hingga nantinya Halte Cawang UKI yang akan dilaksanakan tahun ini juga,” kata Agung.

Hingga Juli 2019, Bus Transjakarta yang telah terintegrasi dalam program Jak Lingko sejumlah 3.305 buah bus. Mulai dari articulate bus, single bus, double decker bus, medium bus, dan mikro bus.

Editor : Yon Parjiyono