logo

Rusia Akhiri Kesepakatan Nuklir Dengan AS

Rusia Akhiri Kesepakatan Nuklir Dengan AS

Dokumentasi: Presiden AS Ronald Reagan (kanan) dan Presiden Soviet Mikhail Gorbachev menandatangani perjanjian Kekuatan Nuklir Jangka Menengah (INF) di Gedung Putih 8 Desember 1987. (Antara/Reuters)
03 Agustus 2019 07:12 WIB
Penulis : Dwi Putro Agus Asianto

SuaraKarya.id - MOSKOW: Rusia pada Jumat (2/8/2019) mengumumkan berakhirnya kesepakatan pengendalian senjata nuklir yang bersejarah dengan AS, dalam tindakan yang dilakukan beberapa jam setelah AS secara resmi keluar dari kesepakatan Kekuatan Nuklir Jarak-Menengah (INF).

Keputusan itu dikhawatirkan akan memulai lagi potensi lomba senjata. "Pada 2 Agustus, atas gagasan pihak Amerika, Kesepakatan antara Uni Republik Sosialis Sovyet dan Amerika Serikat mengenai penghapusan rudal jarak-dekat dan jarak-menengah, yang ditandatangani di Washington pada 8 Desember 1987, berakhir," kata Kementerian Luar Negeri Rusia di dalam satu pernyataan.

Sementara itu, Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Ryabkov mengatakan negaranya siap membahas setiap saran dan setiap kesepakatan berkaitan dengan pemantau senjata, tapi takkan memulainya, sebagaimana disampaikan oleh Presiden Vladimir Purin.

"Kami menyatakan AS dan negara NATO untuk mempertimbangkan kemungkinan mengumumkan moratorium mengenai penggelaran rudal jarak-dekat dan jarak-sedang, sama dengan moratorium yang diumumkan oleh Vladimir Putin --yang mengatakan Rusia akan menahan diri dari penggelaran rudal sampai Amerika menahan diri dari penggelaran rudal serupa," kata Ryabkov.

Namun, NATO menyalahkan Rusia atas berakhirnya kesepakatan itu, kata Kantor Berita Turki, Anadolu --yang dipantau Antara di Jakarta, Jumat malam.

"Hari ini Rusia tetap melanggar Kesepakatan INF, kendati bertahun-tahun keterlibatan AS dan Sekutu, termasuk kesempatan terakhir selama enam bulan untuk menghormati Kewajiban Kesepakatannya. Akibatnya, keputusan Amerika Serikat untuk keluar dari Kesepakatan tersebut, keputusan yang sepenuhnya didukunga oleh sekutu NATO, sekarang berlaku," kata satu pernyataan NATO.

Pernyataan itu mengatakan Rusia "tidak memperlihatkan keinginan dan tidak melakukan langkah nyata untuk kembali kewajiban internasionalnya".

"NATO akan menanggapi dengan cara terukur dan bertanggung-jawab terhadap resiko nyata yang ditimbulkan oleh rudal 9M729 Rusia terhadap keamanan Sekutu," tambah pernyataan tersebut.

Kesepakatan INF telah dipandang banyak pihak sebagai tonggak sejarah keamanan Eropa dalam era pasca-Perang Dinian setelah AS dan Rusia menandatanganinya pada 1987. INF melarang kedua negara memiliki dan menguji-coba rudal yang diluncurkan dari darat dengan jarak jelajah antara 300 dan 3.100 mil.

Pada Oktober 2018, Presiden AS Donald Trump mengumumkan AS keluar dari Kesepakatan itu, dan menuduh Mowkow melanggarnya.

Pada Februari 2019, AS memulai proses penarikan diri dari Kesepakatan INF yang akan selesai dalam enam bulan.

Dalam tindakan saling-balas, Presiden Rusia Vladimir Putin menandatangani rancangan peraturan yang membekukan kewajiban Moskow berdasarkan Kesepakatan INF pada 3 Juli. 

             Senat

Sebelumnya, Senat Rusia pada Rabu 26 Juni 2019 mengesahkan rancang undang-undang, yang mengizinkan Rusia untuk tidak lagi patuh pada aturan Traktat Kekuatan Nuklir Jarak Menengah (INF).

Ketua Senat Valentina Matviyenko menegaskan bahwa Rusia harus segera menangguhkan kepatuhannya pada perjanjian tersebut sebagai tanggapan atas langkah serupa yang diambil Amerika Serikat.

RUU itu sekarang akan diserahkan kepada Presiden Rusia Vladimir Putin untuk ditandatangani agar menjadi hukum yang berlaku.

Sementara itu, Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Sergy Ryabkov mengatakan kepada para wartawan, Rabu, Rusia siap menghadapi langkah apa pun yang mungkin diambil persekutuan Pakta Pertahan Atlantik Utara (NATO) menyangkut penangguhan kepatuhan Rusia itu pada INF.

Rusia, kata Ryabkov seperti dikutip Antara dari Sputnik, memperingatkan, akan bertindak dengan mengerahkan militer jika keamanannya dalam bahaya. Namun, Rusia akan menerapkan langkah selektif untuk berdialog dengan persekutuan tersebut.

"Kita akan mempelajari keputusan yang dirumuskan negara-negara anggota NATO dalam bulan-bulan mendatang. Kita siap menghadapi keputusan apa pun. Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya di NATO tentunya adalah pihak-pihak yang harus disalahkan atas kemungkinan permasalahan situasi militer dan politik di kawasan Atlantik Eropa, karena mereka telah meneruskan kebijakan untuk menghancurkan INF", kata Ryabkov kepada para wartawan.

Wakil menteri luar negeri Rusia itu menegaskan bahwa negaranya akan mengendalikan agresi NATO.

Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg mengatakan, Selasa (25/6), persekutuan tersebut akan menyiapkan langkah bersama jika Rusia tidak kembali mematuhi perjanjian nuklir itu dalam waktu lima minggu. Langkah itu kemungkinan berupa penghancuran rudal-rudal Rusia yang diduga melanggar perjanjian negara itu dengan Amerika Serikat.

AS secara resmi telah menangguhkan kewajiban Traktat INF pada 2 Februari, atas dugaan pelanggaran oleh Rusia, dan mencetuskan proses penarikan diri dari perjanjian itu selama enam bulan.

Rusia membantah tuduhan tersebut, dengan mengatakan bahwa justru Amerika Serikat lah yang melanggar kesepakatan itu.

Presiden Putin pada 4 Maret menandatangani keputusan untuk menangguhkan partisipasi Rusia pada Traktat INF. ***