logo

Grooming, Waspada  Anak Anak

Grooming, Waspada Anak Anak

30 Juli 2019 20:36 WIB

SuaraKarya.id - Oleh: Dr Edi Hasibuan, SH, MH. *     

KASUS Grooming, kejahatan lewat game online  terhadap anak anak marak akhir akhir ini. Sang groomer (pelaku grooming) dalam aksinya mengincar anak remaja  lewat permainan game online yang sejak beberapa tahun begitu akrab ditangan  anak anak.

 Atas kondisi ini,  seluruh orangtuapun kini  dihantui rasa takut,  khawatir anaknya jadi korban. Khawatir anaknya ditipu dan dipermalukan, bahkan khawatir anaknya menjadi korban pemerasan.  Kekhawatiran itu bukan hanya dialami para orangtua di indonesia, tapi juga menerpa para orangtua  di seluruh dunia.

 Di Indonesia sendiri,  misalnya,  berbagai kasus  grooming kini bermunculan.  Salah satu kasus yang diungkap Bareskrim Polri pada bulan Juli 2019,  terjadi di Surabaya. Adalah seorang narapidana yang ditangkap sebagai groomernya. Bisa dibayangkan,  pelaku melakukan aksinya  justru dari dalam penjara. Motifnya,  jelas untuk memperdaya anak2 yang jadi sasarannya.

  Hasil penyelidikan polisi  menyebutkan lebih dari 1300 foto dan video anak anak tanpa busana ditemukan dlm akun emailnya. Akun yang dimiliki groomer  adalah akun palsu.  Saat ini korban yang sudah terdeteksi  identitasnya  sebanyak 50 anak.            Setelah korban masuk dalam perangkap groomer,  korban seringkali dipaksa  mengikuti kemauan pelaku. Korban harus memperagakan seperti apa yang diinginkan groomer. Bila menolak,  groomer mengancam membagikan foto atau video porno tersebut kepada publik lewat berbagai whatsh up.  

Atas perlakuan groomer, korban menjadi tersandera dan  tertekan dan menjadi pendiam. Tidak sedikit dari korban,  ada juga yang diperas. Korban disuruh mengirim pulsa dan bahkan mengirim uang.   

 Kasus lain yang hampur sama adalah kasus child grooming yang bethasil  diungkap Polda Metro Jaya baru baru ini. Kepada polisi, groomer mengaku melakukan aksinya lewat aplikasi online 'Hago'. Sang groomer  memaksa setiap wanita korban yang berusia belasan tahun melakukan aksi video porno, dan lalu merekamnya. Dalam aksinya,  groomer  mencari korban lewat fitur 'discovery people'. Rata rata korban yang diincar adalah perempuan berusia belasan tahun.

 Pelaku yang ditangkap di wilayah Jakarta barat ini mengaku berkenalan dengan korban lewat fitur chat dalam aplikasi tersebut.  Setelah itu. tersangka membujuk korban melakukan video seks. Pelaku lalu mengarahkan korban membuka pakaiannya dan kemudian merekamnya. 

 Korban kepada polisi mengaku bersedia mengikuti perintah pelaku karena takut video pornonya disebar pelaku. Anak anak malang ini mengaku tersandra dengan ulah groomer yang memperdayainya selama ini. Atas perbuatan tersangka, pelaku dijerat pasal 27 ayat 1, junto pasal 45 ayat 1,  junto pasal 52  ayat ,   pasal 29  dan pasal 458 UU RI thn 2016  tentang ITE. Kemudian,  tersangka juga dijerat dengan pasal 76 E  junto pasal 82  UU RI thn 2014 ttg Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman 15 thn penjara.  

Penggunaan  istilah grooming di Indonesia  memang belum begitu dikenal publik.   Satu lembaga internasional masyarakat untuk pencegahaan kekejaman terhadap anak anak atau National Society for the Prevention of Cruelty to children (NSPCC)  menyebutkan grooming ini  adalah sebuah upaya yang dilakukan seseorang untuk membangun hubungan, kepercayaan,  dan hubungan emosional dgn seorang anak atau remaja sehingga mereka dapat memanipulasi, mengeksplotasi dan melecehkanya.  

Menurut Wakil Direktur Tindak Pidana Cyber Polri Kombes Pol Asep Safrudin yang pernah menangani grooming menjelaskan kehadiran grooming sungguh meresahkan. Polri  tidak akan diam dan sangat tegas menghadapi setiap aksi grooming.  Hal ini demi menyelamatkan anak anak  dari bahaya grooming yg setiap saat mengincar korban. Polisi akan patroli terus untuk memantau para groomer dalam dunia maya.    

  Melihat trend kejahatan baru dalam media sosial ini,  ada beberapa pandangan penulis,  Pertama, kita  berterima kasih kepada Polri yang bekerja cepat merespon berbagai keresahan yang terjadi ditengah masyrakat. Ini adalah wujud Program Promoter (profesional,  modren dan terpercaya)  Kapolri yang cepat dan profesional merespon setiap permasalahan sosial yang ada di tengah masyrakat. Polri jelas sesuai tugasnya sebagai penjaga dan pelindung kehidupan masyrakat.

 Kedua, peranan orangtua di rumah sangat penting untuk membatasi dan mengawasi anak anaknya menggunakan gatget. Tanpa didukung para orangtua, ulah groomer masih akan terus bergentayangan di dunia maya dan menyerang anak anak negeri ini. Ketiga, dibutuhkan langkah cepat Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo)  memblokir semua fitur  yang isinya membahayakan masyrakat, khususnya terhadap anak anak. Anak anak adalah tanggujawab kita semua.  Jangan kita berikan kesempatan sedikitpun kepada  groomer merusak anak kita. Ini demi anak kita,  demi anak Indonesia.
 Semoga......

*DR Edi Hasibuan SH MH adalah mantan anggota Kompolnas dan Dosen ilmu Hukum dan Kepolisian Program Pascarsarjana Universitas Bhayangkara Jakarta.