logo

Jika Mangkir Kembali, Terdakwa AL Bawa Preseden Buruk Bagi Proses Hukum

Jika Mangkir Kembali, Terdakwa AL Bawa Preseden Buruk Bagi Proses Hukum

Suasana sidang (Ilustrasi).
30 Juli 2019 14:50 WIB
Penulis : Agung Elang

SuaraKarya.id - JAKARTA: Terdakwa Alvin Lim (AL) kembali mangkir dari jadwal persidangan kasus pemalsuan dokumen asuransi di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.  Banyak pihak yang menyayangkan hal ini dan berharap Hakim dapat bertindak tegas sehingga persidangan dapat digelar.

Sebelumnya, dalam berbagai pemberitaan, Achmad Guntur, Kahumas PN Jaksel, menyatakan sangat menyayangkan dengan kondisi yang berlarut-larut seperti ini dalam proses perkara tersebut. Padahal, dalam Surat Edaran Mahkamah Agung (Sema) Nomor 2 tahun 2014 menyebutkan bahwa proses persidangan suatu perkara di pengadilan tingkat pertama selambat-lambatnya adalah lima bulan.

Mengamati pernyataan dari Achamd Guntur  terkait berlarut-larutnya Sidang Pemalsuan Dokumen oleh AL, Ali Zubeir Hasibuan dari Indonesia In Absentia Watch memberikan pendapatnya. 

“Kami menyarankan Hakim PN Jakarta Selatan untuk memeriksa kebenaran dan meneliti kembali Surat Keterangan Sakit serta menghadirkan Dokter yang mengeluarkan Surat Keterangan tersebut diruang Sidang sehingga bisa diketahui kondisi sebenarnya,” ujar Ali kepada media, Selasa (30/7/2019).

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa pihaknya berkeyakinan dan percaya penuh bahwa Hakim dan Jaksa akan bertindak profesional dalam kasus ini.  Akan tetapi apabila praktek dengan alasan sakit seperti ini dibiarkan maka akan menjadi preseden buruk bagi setiap terdakwa untuk berlindung dan mangkir dari proses hukum. 

Menurut Ali, hakikatnya Hakim memiliki kewenangan penuh di hadapan persidangan dan dilindungi Undang-Undang untuk menghadirkan terdakwa (AL) dan meneliti kembali Surat Keterangan Sakit serta menghadirkan Dokter yang mengeluarkan Surat Keterangan dihadapan persidangan namun Ali tidak melihat kenapa hal itu tidak dilakukan sampai saat ini.

Berdasarkan beberapa literatur, mengapa terjadinya praktek fraud semacam ini adalah karena kebutuhan (need), kesempatan (opportunity) dan keserakahan (greed). Pakar hukum internasional, Dr. Donal Cressey, menyebutkan penyebab sebagai (i)fraud triangle(i) yaitu karena motif, kesempatan, dan kecenderungan pelaku untuk membenarkannya.

Menurut catatan, perkara dugaan pemalsuan dokumen asuransi ini sudah terlalu berlarut-larut sudah hampir 10 bulan berlangsung sejak  September 2018.  

Sementara pada kesempatan lain, yang bersangkutan masih menjalankan profesi pengacaranya seperti biasa dan dapat bepergian mewakili kliennya ke kantor polisi. 

Diketahui, terdakwa (AL) dijerat dengan Pasal 263 KUHP tentang pemalsuan dokumen untuk klaim asuransi. 

Editor : Dwi Putro Agus Asianto