logo

Gelombang Panas Di Inggris, Peluang Terjadinya Kini 10 Kali Lipat Lebih Sering Daripada 100 Tahun Lalu

Gelombang Panas Di Inggris, Peluang Terjadinya Kini 10 Kali Lipat Lebih Sering Daripada 100 Tahun Lalu

Istimewa
26 Juli 2019 23:33 WIB
Penulis : Dwi Putro Agus Asianto

SuaraKarya.id - JAKARTA: Beberapa hari ini Inggris dan negara-negara scandinavia terdampak gelombang panas yaitu bertahannya suhu udara permukaan yang tinggi dalam beberapa hari. Tercatat di beberapa tempat di United Kingdom (UK) suhu mencapai 42 - 44°C, termasuk juga meluas hingga Eropa barat daratan.

Kepala Subbidang Produksi Informasi Iklim dan Kualitas Udara Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG)  Siswanto di Jakarta, Jumat (26/7/2019) memberi penjelasan bahwa gelombang panas di Eropa umumnya muncul pada puncak musim panas, dibangkitkan oleh terbentuknya sistim tekanan tinggi udara permukaan hingga atmosfer atas yang membendung aliran udara dari daerah lain (istilahnya atmospheric blocking) sehingga berkembang menjadi udara panas.

"Meskipun sistim itu diprediksikan segera meluruh dalam beberapa hari ke depan, tetapi masih tetap ada peluang bahwa kejadian ini akan berulang lagi karena musim panas masih berlangsung hingga September nanti di sebagian besar Eropa, dan umumnya puncaknya adalah bulan Juli dan Agustus," kata Siswanto yang kini juga menjabat sebagai Vice President Himpunan Ahli Geofisika Indonesia (HAGI)  bidang Meteorologi, Klimatologi dan Oseanografi.

Kejadian ekstrem panas kali ini pun sudah yang kedua kalinya di bulan Juli ini, setelah sebelumnya di bulan lalu, gelombang panas juga telah melanda Perancis dan Spanyol.

 Dari analisis data iklim oleh peneliti Eropa sendiri, kata Siswanto, kejadian gelombang panas seperti kali ini termasuk kejadian ekstrem yang memiliki periode ulang > 30 tahun. Bila ekstremitas ini dibandingkan dengan iklim periode 100 tahun lalu, peluang kejadian gelombang panas seperti saat ini, telah meningkat 10 kali lipat frekuensinya di masa iklim zaman sekarang. Dan akibat perubahan iklim, risiko itu makin meningkat di masa mendatang. ***