logo

MAI Executive Development Program, Sarana Peningkatan Profesionalisme Amil Modern Dan Terpercaya

MAI Executive Development Program, Sarana Peningkatan Profesionalisme Amil Modern Dan Terpercaya

21 Juli 2019 22:09 WIB
Penulis : AG. Sofyan

SuaraKarya.id - JAKARTA: Mandiri Amal Insani (MAI) Foundation berkomitmen menjalankan fungsinya sebagai sebuah foundation secara profesional. Dalam melaksanakan fungsinya sebagai lembaga yang juga menghimpun, mengelola, dan mendistribusikan dana Zakat, Infaq, Sedekah, Wakaf (ZISWAF) dan dana sosial lainnya dari khalayak umum, MAI Foundation merasa berkepentingan memperkuat pengembangan amil dan kelembagaan dengan menggelar MAI Executive Development Program (MEDP) 2019.

Ketua Yayasan MAI Foundation, Tedi Nurhikmat mengatakan MAI Foundation harus semakin profesional, tidak hanya sekadar sesuai syariah semata, tapi juga perlu memenuhi standar modern, pelayanan cepat, baik kepada mustahik maupun muzaki.

“Baik Mustahik maupun Muzaki, keduanya adalah klien Amil. Jadi bukan karena Muzaki, maka Amil lebih mengutamakannya. Malahan layanan kepada Mustahik, kita menjadikan prioritas utama. Mustahik adalah klien kita yang harus ditangani dengan baik,"ujar Tedi Nurhikmat kepada pers di sela-sela kegiatan MEDP 2019, di Plaza Mandiri, Jakarta Selatan, Sabtu (20/7/2019).

Tedi tak memungkiri dalam konteks duniawi Mustahik adalah orang yang membutuhkan bantuan dan pertolongan para pemberi manfaat. Namun dalam konteks dan dimensi akhirat. "Justru kitalah yang membutuhkan mereka. Di situlah letak pahalanya,"jelas Tedi.

Inilah, kata Tedi, salah satu perubahan yang diharapkan dari diselenggarakannya MEDP 2019 ini, yakni agar MAI Foundation bisa benar-benar menjadi lembaga Amil yang modern, terpercaya yang rahmatan lil'alamin. Sesuai pula yang tercantum dalam tagline MAI Foundation.

MAI Executive Development Program tahun ini menghadirkan narasumber yang berkompeten di bidangnya yakni Direktur Zakat Wakaf Kementerian Agama, H. Muhammad Fuad Nasar, M.Sc yang mengulas tentang Kemiskinan Global dan Peran Kelembagaan Zakat. Dalam sesi ini mengupas tuntas mengenai potret kemiskinan umat Islam di Indonesia, pemahaman tentang indikator kemiskinan, serta peran strategis Amil zakat ke depannya.

Sementara itu, CEO Rumah Zakat, Nur Efendi, di sesi lanjutan membahas tema ‘Leadership is Action not Position’ yang berfokus membahas persoalan kepemimpinan di lembaga zakat di era millenial.

“Sebagai pemimpin, yang pertama perlu dimiliki adalah Ibadah yang istimewa. Jangan sampai tidak punya motivasi, soul dan obsesi seperti ini. Maka kepada lembaga Amil pun juga harus memiliki semangat yang sama dengan calon Muzaki,"ungkap Nur Efendi.

CEO Rumah Zakat ini menyebut ada banyak lembaga Amil. Masyarakat pun boleh memilih lembaga ZISWAF yang sesuai kriteria dengan mereka. Namun jika Allah berkehendak, maka yang bisa menggerakkan mereka untuk beramal bisa saja ke lembaga Amil kita," jelasnya.

Nur Efendi mencontohkan beberapa publik figur pengusaha hebat yang memiliki ibadah istimewa, misalnya Sandiaga Uno yang rutin mengerjakan puasa Senin-Kamis, Chairul Tanjung yang mencintai orangtuanya hingga membangun masjid atas nama ibundanya, dan owner Paragon (brand Wardah) yang kencang amalan sedekahnya.

“Saya sendiri mewajibkan diri saya untuk shalat tepat waktu dan menjadi Imam shalat berjama’ah setiap di kantor,” ungkap Nur Efendi.

Baginya menjadi Amil tidak sekadar memikirkan memberi makan keluarga saja, tapi juga kudu memikirkan memberi makan satu negara.

Pada sesi ketiga mengangkat tema Ekonomi Zakat yang di bahas oleh pembicara dari Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah Bank Indonesia, Rifki Ismail, Phd. Salah satu topik bahasan penting saat memaparkan analisis pengaruh zakat terhadap perekonomian serta potensi zakat sebagai solusi perbaikan ekonomi saat ini.

Di sesi terakhir, social innovator Erie Sudewo memberikan paparan ‘Leadership Amil VS Leadership Bisnis’. Erie bahkan melempar pertanyaan yang membuat penasaran peserta. Salah satunya pertanyaan mengenai apa perbedaan manajer VS pemimpin, atasan VS pemimpin, petarung VS pemenang, pasukan VS pemimpin. Semua peserta terlihat sangat antusias menyampaikan opini masing-masing dan interaksi sangat hidup sepanjang sesi hingga berakhirnya waktu.

Salah satu peserta MEDP 2019, Agus Budiyanto yang juga Direktur Eksekutif Forum Zakat (FOZ) mengakui pentingnya diselenggarakan event seperti ini secara kontinyu.

“Banyak Amil millenial saat ini yang masih kurang terasah dalam cara berpikir strategis. Di sini, para narasumber mengajarkan Amil muda untuk memperkuat value sebagai Amil sebelum belajar hal teknis seperti jurus fundraising. Dan ini penting sekali, perlu diikuti oleh lembaga Amil lainnya untuk membuat event sejenis,”ungkap Qodrat SQ selaku Ketua Pelaksana MEDP.

Dia berharap dengan adanya perkuliahan ini dapat meningkatkan wawasan tim MAI Foundation mengenai dunia zakat, ekonomi, dan tentu saja menambah profesionalitas dari setiap personel MAI Foundation***

Editor : Azhari Nasution