logo

Manis Dan Legit, Lengkeng Kateki Blora Serius Dikembangkan Kementan

Manis Dan Legit, Lengkeng Kateki Blora Serius Dikembangkan Kementan

Lengkeng kateki. (Ist)
21 Juli 2019 15:10 WIB
Penulis : Laksito Adi Darmono

SuaraKarya.id - JAKARTA: Blora merupakan kabupaten di Provinsi Jawa Tengah yang terletak di ujung timur dan berbatasan dengan Provinsi Jawa Timur. Kabupaten yang mendapat julukan Kota Jati dengan ketinggian 0-280 mdpl ini, juga sangat cocok untuk pengembangan aneka komoditas hortikultura.

Misalnya kelengkeng dan jeruk, mangga, pisang, durian, jambu kristal, srikaya dan buah naga.

Pengembangan lengkeng di Kabupaten Blora dimulai sejak 2013 oleh swasta yang telah mengembangkan kebun buah-buahan seluas 25 hektare yang terdiri dari buah lengkeng, jambu kristal, durian, jeruk dan pepaya. Kebun ini kemudian dinamai "Kebun Buah Greneng," jelas Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, Reni, sesuai rilis Minggu (21/7/2019).

Kebun buah ini berlokasi di Desa Tunjungan, Kecamatan Tunjungan dengan jumlah tanaman lengkeng sekitar 1.200 pohon atau 6 hektare. Jenis yang dikembangkan adalah varietas new kristal (kateki), itoh dan virni. Tanaman lengkeng dengan pemeliharaan optimal dapat berproduksi dengan baik.

Pada umur 4 tahun produktivitas lengkeng dapat mencapai 50-70 kg per pohon per tahunnya. Dengan biaya pemeliharaan Rp 200 ribu per tahun dapat menghasilkan Rp 1,75 juta per pohon per tahun. "Lengkeng memiliki prospek yang bagus untuk dikembangkan," ujar Bambang, pemilik kebun buah dengan konsep agrowisata ini.

PT. Perhutani telah menyediakan lahan seluas 10 hektare di sekitar kebun tersebut untuk pengembangan lengkeng yang dapat dikelola oleh petani. 

"Pada 2018, Kementan telah menginisiasi bantuan pengembangan kawasan lengkeng seluas 10 hektare di Kabupaten Blora. Untuk lokasi sekitar kebun buah Greneng dialokasikan 5 hektare dan sisanya dialokasikan di Desa Bangunrejo, Kecamatan Tunjungan," jelas Kepala Bidang Hortikultura Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Blora, Mudiyanto.

Dia mengatakan bahwa pertumbuhan tanaman lengkeng di daerahnya cukup baik. Petani juga mendapatkan bimbingan dari pengelola kebun buah tentang cara budidaya lengkeng yang baik. Inisiasi pengembangan kawasan lengkeng disambut baik oleh petani, bahkan Desa Bangunrejo mengalokasikan dana desanya untuk pembagian benih lengkeng. 

"Halaman rumah warga ditanami lengkeng dan buah-buahan lainnya. Dari dana APBD II juga mendukung untuk pembagian benih lengkeng. Varietas lengkeng yang banyak dikembangkan di Blora adalah Kateki," terang Mudiyanto.

Sementara di Desa Tanggel Kecamatan Randublatung terdapat lebih dari 125 hektare jeruk siem dan sebagian besar telah berproduksi.

Reni menyebutkan petani di Kabupaten Blora sangat antusias dalam budidaya jeruk karena telah memberikan hasil yang cukup baik.

"Bantuan yang diberikan oleh Kementan berupa kegiatan pengembangan kawasan jeruk telah dimulai pada 2017 mencapai 185 hektare dan sebagian besar difokuskan di Kecamatan Randublatung. Saat ini petani jeruk perlu dilatih melalui kegiatan bimbingan teknis budidaya jeruk yang baik dan benar agar mampu menghasilkan buah jeruk bermutu," papar Reni.

Lengkeng Unggulan

Plt Direktur Buah dan Florikultura, Sri Wijayanti Yusuf menyambut baik antusiasme petani Blora dalam mengembangkan lengkeng.

"Saat ini sudah mulai banyak varietas lengkeng yang memiliki keunggulan dan daya adaptasi yang luas, di antaranya adalah kateki," katanya.

Kateki merupakan varietas lengkeng yang dilepas Kementerian Pertanian tahun 2016. Lengkeng ini berasal dari Pohon Induk Tunggal (PIT) milik Samlawi yang berada di Dukuh Kateki, Desa Kebonrejo, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. 

"Lengkeng ini sebelumnya dikenal dengan new kristal dan setelah dilepas diberi nama Kateki sesuai asal PIT nya," papar Yanti.

Berdasarkan SK Pelepasan Menteri Pertanian no 058/Kpts/SR.120/D.27/5/2016 lengkeng ini memiliki ciri buah yang bulat serta warna kulit buah coklat serta bintik pada kulit buah yang berwarna coklat tua. Di samping itu memiliki warna daging buah yang putih bening. Lengkeng ini memiliki keunggulan dengan rasa yang manis dan ukuran buah yang relatif besar antara 15,9-20,7gr per buah.

"Daging buah yang tebal dengan biji kecil serta aroma yang lembut. Selain itu lengkeng ini memiliki kandungan air yang tidak terlalu tinggi sehingga tidak becek," tambah Yanti.

Tanaman ini cocok ditanam di dataran rendah. Produktivitas Kateki berkisar antara 50-70 kg/pohon/tahun. Dengan hasil dan keunggulan tersebut lengkeng ini berpotensi tinggi untuk dikembangkan.

"Masyarakat Indonesia gemar makan buah lengkeng, kita mampu memroduksi sendiri" jelasnya. 

Berdasarkan hasil identifikasi, luas pengembangan lengkeng secara swadaya telah mencapai lebih dari 1.000 hektare tersebar di Tuban, Magelang, Grobogan, Kulonprogo, Bantul, Kendal, Semarang, Sragen, Boyolali, Kukar, Paser, Sambas, Lampung Selatan, Pekanbaru, Deliserdang dan sebagainya.

Kementan telah mendukung pengembangan kawasan lengkeng sejak 2017, namun masih dalam skala kecil, baru mencapai 150 hektare, dan pada tahun yang sama telah dilakukan uji coba pengembangan lengkeng seluas 25 hektare di Kabupaten Tuban, model kebun komersial pola inti plasma dengan salah satu perusahaan swasta yang saat ini telah mulai panen.

Yanti berharap model kebun komersial pola kemitraan dengan swasta seperti di Tuban dapat direplikasi di daerah lain, Kabupaten Blora salah satunya.

Yanti membeberkan bahwa pada tahun 2020, Kementan berencana akan memperluas pengembangan kawasan lengkeng hingga mencapai 900 hektare di daerah-daerah yang secara agroklimat sesuai untuk pengembangan lengkeng seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, Lampung, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur dan sebagainya.

"Untuk Kabupaten Blora akan kita alokasikan 45 hektare.

Kementan mentargetkan pengembangan kawasan lengkeng guna memasok kebutuhan konsumsi" tutup Yanti optimistis. ***

Editor : Laksito Adi Darmono