logo

Penipuan Dengan Modus Memberi Informasi Palsu Masih Marak Di Masyarakat

Penipuan Dengan Modus Memberi Informasi Palsu Masih Marak Di Masyarakat

Rilis Penipuan dengan modus memberi informasi palsu digelar di PMJ.
19 Juli 2019 20:19 WIB
Penulis : B Sadono Priyo

SuaraKarya.id - JAKARTA : "Anak Anda menglami kecelakaan dan harus segera dioperasi" demikian bunyi suara di ponsel yang diterima korban penipuan dengan modus memberi informasi palsu tentang anak.

Modus kejahatan ini diperankan tersangka saat digelar jumpa pers di gedung Resmob, Polda Metro Jaya, Jumat (19/7/2019). Diakui, kasus ini mendapat perhatian serius polisi karena cukup meresahkan.

Awalnya tersangka M yang berperan menghubungi korban. M akan menelepon orang tua korban dan mengatakan bahwa anaknya mengalami kecelakaan di bagian kepala dan harus segera dioperasi.

Sang guru' kemudian berpura-pura memberikan telepon ke 'dokter' yang juga diperankan oleh tersangka M. 'Dokter' itu kemudian menyuruh orang tua korban menghubungi pihak apotek di rumah sakit itu dan mengimbau agar membeli alat untuk digunakan saat operasi, namun ia hanya memberikan waktu 5 menit.

"Kemudian tersangka AZ berperan misalnya sudah berapa menit korban belum transfer nanti dia yang memastikan ke korban apakah sudah hubungi si tersangka M atau belum," kata Kabid Humas PMJ Kombes Argo Yuwono, menirukan adegan penipuan ini.

Tersangka M kadang kadang berperan juga sebagai  guru,  dokter, kemudian pihak apotek.

Polisi menangkap tiga tersangka penipu dengan modus memberikan informasi palsu kepada korban bahwa anak calon korbanya mengalami kecelakaan. Mereka adalah M, AZ, dan A. 

Argo  mengatakan, ketiga tersangka memiliki peran yang berbeda-beda. Tersangka M berperan memantau atau menyamar sebagai guru dan dokter. Tersangka AZ berperan sebagai orang yang mengingatkan orang tua korban untuk mentransfer sejumlah uang. 

Sementara, tersangka A berperan sebagai pencari identitas korban dan orang tua korban. 

"Setelah tersangka A mendapatkan identitas murid dan orang tua murid dengan berpura-pura sebagai staf dinas pendidikan. Setelah mendapatkan identitas tersebut, tersangka M akan menelepon orang tua anak tersebut bahwa anaknya mengalami kecelakaan," kata Argo lagi.

Argo mengatakan, saat tersangka M menelepon keluarga korban, ia menyamar sebagai guru dan dokter. Ia akan berpura-pura sebagai guru korban yang memberikan informasi bahwa korban mengalami kecelakaan dan dirawat di rumah sakit. 

Tersangka akan memberikan kontak yang disebut sebagai pihak rumah sakit untuk dihubungi pihak keluarga. Selanjutnya, tersangka akan meminta sejumlah uang kepada pihak keluarga. 

"Lalu, tersangka AZ akan menelepon keluarga korban untuk memastikan apakah keluarga korban sudah mentransfer sejumlah uang atau belum," ujar Argo. 

Ketiga tersangka mengaku beraksi sejak 2009. Namun, Polda Metro Jaya baru menerima laporan dari dua korban dengan total kerugian sekitar Rp 69 juta.

"Kami tangkap mereka di apartemen di Jakarta Utara. Mereka beraksi sejak 2009 sampai sekarang, biasanya sekali dalam seminggu," ungkap Argo.

Mereka dijerat Pasal 378 KUHP dan atau Pasal 4 dan Pasal 5 Juncto Pasal 2 ayat (1) huruf r dan atau z UU RI Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian, dengan ancaman hukuman minimal 20 tahun penjara