logo

BTN Akan Perkarakan Nasabah "Nakal" Ke Pengadilan

BTN Akan Perkarakan Nasabah

Direktur Utama Bank BTN Maryono seusai acara Ngopi Bareng Dengan Media di Menara Bank BTN, Jakarta, Jumat (19/7/2019). (Antara)
19 Juli 2019 17:45 WIB
Penulis : Dwi Putro Agus Asianto

SuaraKarya.id - JAKARTA: PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) akan memperkarakan para nasabah yang "nakal" lantaran tidak membayar kewajiban kredit dengan membawanya ke pengadilan.

"BTN akan menyerahkan nasabah-nasabah nakal kepada pengadilan dan PKPU (penundaan kewajiban pembayaran utang), ini terobosan," ujar Direktur Utama Bank BTN Maryono saat acara Coffee Morning di Jakarta, Jumat (19/7/2019).

Maryono mengatakan macetnya pembayaran nasabah berdampak pada tingginya rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL). Kebanyakan nasabah nakal tersebut, merupakan konsumen yang ikut kredit perumahan rakyat (KPR) nonsubsidi dan konsumen di sektor griya konstruksi.

Dengan dilaporkannya nasabah nakal itu ke pengadilan, diharapkan mereka bisa jadi kooperatif terhadap kewajiban pembayaran kredit dan juga sebagai efek jera bagi yang lainnya.

"Ini terobosan untuk menurunkan NPL," katanya.

Disinggung mengenai jumlah nasabah nakal itu, ia masih mendata total keseluruhan termasuk berapa besaran tagihan yang harus dibayarkan ke perbankan.

"Mungkin Agustus atau September (dilaporkan) nilainya berapa dan lokasinya di mana," kata dia.

Maryono menambahkan angka NPL pada semester I tahun 2019 akan diumumkan dalam paparan kinerja yang akan digelar pada 26 Agustus mendatang.

Namun yang pasti, kata dia, BTN menargetkan angka NPL tahun ini bisa terjaga di bawah angka 2,5 persen. Salah satu upayanya dengan mengejar nasabah-nasabah nakal tersebut.

"NPL naik dikit karena kondisi di semester I itu banyak (nasabah) KPR nonsubsidi (ada) promo, banyak yang jatuh tempo. Jadi mungkin mereka belum siapkan ini bahwa bunganya mulai meningkat," kata dia seperti dikutip Antara.

    Penyesuaian RBB

PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) juga mengumumkan penyesuaian Rencana Bisnis Bank (RBB) untuk mengatasi perlambatan pertumbuhan ekonomi baik yang disebabkan oleh faktor domestik maupun internasional.

"Penyesuaian Rencana Bisnis Bank (RBB) perlu dilakukan karena mempertimbangkan kondisi makro ekonomi yang ada dan melihat perkembangan industri perbankan dalam negeri yang cenderung mengalami pengetatan likuiditas," ujar Direktur Utama Bank BTN Maryono di Jakarta, Jumat.

Maryono menjelaskan ada sejumlah penyesuaian RBB dengan mempertimbangkan kinerja bisnis perseroan. Adapun perubahan RBB meliputi pertumbuhan kredit hingga akhir tahun yang diprediksi akan berkisar 10 hingga 12 persen.

Kemudian Dana Pihak Ketiga (DPK) diprediksi juga tumbuh di level yang sama yaitu 10 hingga 12 persen, dan aset ditargetkan bisa tumbuh di kisaran 8 hingga 10 persen.

"Target pertumbuhan DPK dan kredit kami masih di atas RBB industri perbankan yang berada di angka 9 hingga 11 persen untuk kredit dan DPK yang hanya tumbuh 7 hingga 9 persen, kami optimistis kinerja Bank BTN tetap dalam jalurnya," kata dia.

Menurut dia, tahun 2019 menjadi tahun yang penuh tantangan karena pertumbuhan ekonomi dunia dan domestik diperkirakan melambat akibat perang dagang antara Amerika Serikat dan China serta turunnya harga komoditas.

Bank Dunia memprediksi pertumbuhan ekonomi di 2019 hanya sebesar 2,6 persen lebih rendah dibandingkan prediksi awal sebesar 2,9 persen Perlambatan tersebut direspon sejumlah negara dengan kebijakan moneter yang berdampak pada industri perbankan.

Menindaklanjuti hal tersebut, Bank BTN telah melakukan kajian ekonomi makro dengan mengubah asumsi makro di mana pertumbuhan ekonomi diperkirakan lebih rendah dari asumsi awal.

BI 7days reverse repo rate diperkirakan terus turun seiring dengan inflasi yang relatif stabil. Kajian internal tersebut mendasari perubahan bisnis Bank BTN.

Ia optimistis Bank BTN dapat mengejar pertumbuhan kredit pada paruh kedua tahun ini karena penyaluran kredit per Juni 2019 sudah sejalan dengan rencana perseroan.

Sejumlah strategi dijalankan Bank BTN untuk meraup pendanaan dan meningkatkan pertumbuhan kredit. Untuk Pendanaan, Bank BTN melakukan kombinasi antara dana dari wholesale funding seperti penerbitan obligasi berkelanjutan tahap II dan mengejar dana murah dari produk tabungan dan deposito.

"Adapun segmen kredit yang digenjot adalah KPR non subsidi, kredit komersil dan kredit konstruksi," katanya.

Sementara terkait dengan aksi korporasi, Bank BTN akan menjalankan rencana yang sudah ditetapkan diantaranya mengakuisisi Perusahaan Modal Ventura untuk menjadi "vehicle" untuk memiliki saham di LinkAja, dan akan menuntaskan akuisisi PT PNM Investment Management. ***