logo

Ketua KPUD Memberamo Tengah Minta KPU Pusat Jadikan Berius Kogoya Dan Mendika Soa Sebagai Pemenang

Ketua KPUD Memberamo Tengah  Minta KPU Pusat Jadikan Berius Kogoya Dan Mendika Soa Sebagai Pemenang

Ketua KPUD Kabupaten Memberamo Tengah, Engel Pagawak
18 Juli 2019 19:44 WIB
Penulis : Gungde Ariwangsa SH

SuaraKarya.id - JAKARTA: Ketua KPUD Kabupaten Memberamo Tengah  Engel Pagawak menyurati  sekaligus melapor ke KPU Pusat tentang tekanan terhadap pihak Komisioner KPUD oleh penguasa daerah. Selain itu Engel juga melakukan klarifikasi  bahwa caleg yang seharusnya menang  (lolos) adalah  Berius Kogoya (PD),  dan Mendika Soa (PDIP)  bukan caleg yang lain dalam pemilihan umum legislatif di Distrik Kalila,  Memberamo Tengah pada 17 April 2019 lalu.

Demikian disampaikan oleh Ketua KPUD Kabupaten Memberamo Tengah, Engel Pagawak kepada wartawan di Jakarta usai melaporkan kepada KPU Pusat pada Kamis (17/7/2019) pagi. Dalam laporan  yang  ditandatangani  oleh tiga komisioner Kabupaten Memberamo Tengah tersebut  masing-masing Engel Pagawak (ketua),  Yasin Penggu (anggota), dan Simon Yigi Balon (anggota) dijelaskan tentang tekanan dan desakan yang begitu kuat menyebabkan sejumlah Komisioner di KPUD Kabupaten Memberamo Tengah, dipaksa melakukan tindakan yang  menyalahi pakta integritas sebagai penyelenggara pemilu yang independen.

Dalam pejelasannya ia mengatakan, anggota komisioner KPUD Kabupaten Memberamo Tengah yang berjumlah lima orang ini sebagian mengalami tekanan yang luar bisa hebat. Dia menyatakan hal itu sambil memperlihatkan sejumlah bukti akan tekanan-tekanan tersebut dan semuanya sudah dilaporkan ke KPU Pusat dengan tembusan ke masing-masing partai penggugat yakni Partai Demokrat, dan Partai PDI Perjuangan.

Semestinya, bila tanpa tekanan berat, caleg dari dua partai tersebut masing-masing Berius Kogoya dari Partai Demokrat, dan Mendika Soa dari Partai PDI Perjuangan adalah pemenangnya. Bahkan menang dengan menempati  urutan pertama.  Karena itu dalam surat ke KPU Pusat Engel  meminta kepada KPU Pusat untuk dapat menarik kembali jawaban termohon dan mempertimbangkan surat ini agar menetapkan kembali Berius Kogoya  menjadi peringkat pertama dan mengembalikan kembali suara caleg PDIP Mendika Soa menjadi 1010 suara.

Engel kemudian menjelaskan bahwa penyelenggaraan pemilu pada  tanggal 17 April 2019 lalu  di Dapil 3 Distrik Kalila yang kemudian diplenokan pada tanggal 23 April 2019 di situ rekakpitulasi perolehan  suara dari Partai Demokrat atas nama Berius Kogoya dan Mendika Soa berjalan dengan baik karena sesuai dengan  data C1 hologram akan tetapi dokumen DA1  yang dikeluarkan oleh KPU tidak sesuai dengan rekapitulasi (C1 hologram) yang dibacakan  oleh PPD Distrik Kelila pada tanggal 23 April 2019.

Dia menyebutkan perolehan suara  caleg  atas nama  Berius Kogoya (PD)  sebanyak 1.281 suara (suara terbanyak), sedangkan caleg dari PDI Perjuangan atas nama Mendika Soa memperoleh suara sebanyak 1010 sesuai dengan dokumen C1 hologram.

Disebutkan, perolehan suara Berius Kogoya 1.281 tidak mengalami perubahan (tidak terjadi pengurangan maupun penambahan suara)  namun terjadi pergeseran peringkat pada dokumen DA1 dan DB1 yang dilakukan oleh dua anggota komisioner KPU Kabupaten. Sedangkan perolehan suara Mendika Soa 1.010 berhak memperoleh satu kursi untuk DPRD akan tetapi terjadi pengurangan suara yang dilakukan oleh dua komisioner KPU Kabupaten yang berdampak kehilangan satu kursi. Suara yang dihilangkan yaitu dari 1.010 menjadi hanya sejumlah 971 sebanyak  39 suara.

 

Untuk kedua permasalahan ini pihak yang bersangkutan, Berius  Kogoya (dari PD) dan  Mendika Soa  (PDI Perjuangan) sudah mengajukan  gugatan ke MK.

 

“Atas tekanan penguasa daerah, dan juga gugatan yang diajukan tersebut saya sebagai ketua KPUD Membramo Tengah, ingin memberikan klarifikasi, bahwa kedua penggugat itu, Berius  Kogoya, dan Mendika Soa adalah yang menang dalam pemilihan caleg kemarin,”  katanya.

 

Ia menjelaskan  bahwa tekanan dan intimidasi penguasa daerah dan permainan oleh oknum Komisioner KPU Kabupaten ini berdampak cukup luas di masyarakat. Engel sangat khawatir masalah ini bisa menyebabkan konflik horizontal di Membramo Tengah. Tekanan-tekanan  semacam ini, sebutnya,  sekarang ini sedang sangat memanas dan bisa menjurus ke konflik yang berkepanjangan di daerah sebutnya.

“Itu sebabnya saya datang ke Jakarta (Pusat) untuk  menyampaikan hal ini supaya pihak-pihak terkait terutama MK, khususnya,  dan KPU Pusat  dapat memperhatikan masalah yang ada di Kabupaten supaya dapat memutuskan dengan benar seperti apa yang saya sampaikan ini,”  ujarnya.

Engel menegaskan, apa yang disampaikan ini adalah hasil yang benar sesuai faktanya di lapangan. Dia  mengatakan sebagai peneyelenggara ia merasa ikut bersalah terhadap apa yang terjadi dengan anggota komisioner di KPUD Membramo Tengah, sebab yang melakukan adalah bawahannya sendiri. Untuk itu dia berharap pihak terkait bisa memperhatikan apa yang disampaikan tersebut.

Tentu sikap kesatria seperti yang ditampilkan oleh Engel Pagawak  ini patut diberi acungan jempol. Karena hampir tidak pernah terjadi komisioner KPUD mengaku bersalah demi menyatakan sebuah kebenaran. Apalagi sikap kesatria tersebut karena ingin agar tidak terjadi konflik horizontal di Kabupaten Membramo Tengah. Menurutnya pemilu dengan menggunakan sistem noken seperti di Papua yang seluruh rakyat mempercayakan penuh kepada kepala sukunya, seharusnya kepercayaan semacam itu didukung  oleh komisioner yang  dapat menjalankan tugasnya sesuai dengan undang-undang dan dapat menjalankan pakta integritas sebagaimana mestinya sebagai komisioner yang independen dan mumpuni. ***

Editor : Gungde Ariwangsa SH