logo

Koperasi

Koperasi

12 Juli 2019 14:22 WIB

SuaraKarya.id -  

Oleh: Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi

Bagaimana kiprah koperasi di era now nampaknya menjadi pertanyaan yang menarik dikaji, tidak hanya mengacu potret persaingan yang semakin ketat tapi juga komitmen terhadap kuantitas dan kualitas koperasi itu sendiri. Oleh karenanya pada peringatan ke-72 pergerakan koperasi kali ini bertema ‘Reformasi Total Koperasi di Era Industri 4.0’.

Dari tema ini sejatinya ada banyak tantangan yang harus dihadapi koperasi agar tetap survive dan berkembang. Relevan dengan hal ini maka pemerintah melalui Kemenkop UKM menargetkan akan berdiri 1.000 unit koperasi baru dengan beragam bidang yang dijalankan. Harapan ini nampaknya kian berat terutama mengacu data jumlah koperasi yang dibubarkan pada tahun 2017 yaitu 40.013 unit. Kompleksitas pembubaran koperasi sejatinya tidak terlepas dari daya saing koperasi itu sendiri.

Daya saing koperasi nampaknya menjadi salah satu isu penting terutama dikaitkan juga dengan pemberlakuan MEA dan persaingan di era now, baik dalam model offline atau online. Artinya, semua kemamuan dari daya saing koperasi harus ditingkatkan agar bisa bersaing. Salah fakta yang mendukung pentingnya daya saing koperasi adalah jumlah keanggotaan yang cenderung semakin meningkat. Fakta ini menunjukan bahwa koperasi masih dipercaya sebagai bagian dari basis keuangan masyarakat. Oleh karena itu, era otda seharusnya memberikan peluang bagi pertumbuhan koperasi melalui berbagai unit usaha dan pengembangannya di daerah. Hal ini sangat dimungkinkan karena di era otda setiap daerah berkesempatan untuk mengembangkan semua potensi yang dimilikinya terutama untuk memacu PAD dan kesejahteraan masyarakat. Jadi, pemenang pilkada serentak kemarin menghadapi tantangan untuk pengembangan koperasi sebagai bagian dari komitmen pengembangan ekonomi di daerah.

Mengacu komitmen dari pelaksanaan otda maka seharusnya ada kesempatan bagi setiap daerah untuk mengembangkan kemandirian koperasi. Ironisnya, justru di era otda tidak banyak koperasi yang bisa berkembang tapi justru sebaliknya satu persatu koperasi tidak berkutik menghadapi ketatnya persaingan dan akibatnya berita koperasi yang kolap tidak lagi menarik untuk dibaca. Oleh karena itu, tidak ada salahnya jika pemerintah berusaha untuk kembali membangkitkan kiprah koperasi sebagai komitmen mengembangkan dan memberdayakan ekonomi kerakyatan. Di sisi lain, koperasi yang terbelit masalah justru menjadi pemberitaan media. Paling tidak ini terlihat dari kasus Koperasi Langit Biru di tahun 2012 lalu yang memicu kerugian Rp.6 triliun dan kasus Koperasi Cipaganti Karya Guna Persada, Bandung dengan kerugian Rp.3,2 triliun. Dua kasus ini harus menjadi pembelajaran bagi masyarakat dan koperasi.

Temuan berbagai kasus koperasi, termasuk berdalih investasi bodong yang terjadi tentu memberi tantangan bagi otoritas terkait agar dapat melakukan pencegahan sedari dini sehingga tidak semakin banyak masyarakat yang dirugikan akibat penyalahgunaan dari legalitas koperasi yang ada di masyarakat. Hal ini sekaligus menjadi tantangan kepala daerah yang menang di pilkada serentak kemarin agar tidak abai dengan koperasi dan memanfaatkan eksistensi koperasi di daerah sehingga bisa sinkron dengan komitmen pengembangan ekonomi kreatif. Bahkan, mungkin juga bersinergi dengan pemanfaatan dana desa yang diharapkan mampu menciptakan geliat ekonomi di daerah. ***

* Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi - Dosen Pascasarjana di Universitas Muhammadiyah Solo