logo

Penanganan Lansia Menjadi Tanggungjawab Bersama Balai, Pemda Dan Keluarga

Penanganan Lansia Menjadi Tanggungjawab Bersama Balai,  Pemda Dan Keluarga

Kepala BRSLU Gau Mabaji Gowa Syam Wuryani (kiri) didampingi Fungsional Penyuluh Sosial dan Petugas Kehumasan BRSLU Gau Mabaji Gowa Subhan Kadir (kanan). (foto, ones)
11 Juli 2019 14:55 WIB
Penulis : Budi Seno P Santo

SuaraKarya.id - BANDUNG: Penanganan lanjut usia (lansia) bukan hanya berada di balai Kementerian Soaial (Kemensos) saja, tapi harus melibatkan keluarga dan pemerintah daerah (pemda). Demikian dikemukakan Kepala Balai Rehabilitasi Sosial Lanjut Usia (BRSLU) Gau Mabaji Gowa Syam Wuryani, di sela kegiatan pameran yang diikutinya, dalam rangka acara Peringatan Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN) ke 23 Tahun 2019 di Bandung, Jawa Barat, Rabu (10/7/2019).

Untuk itulah, BRSLU Gau Mabaji Gowa yang dipimpinnya, dalam program-programnya terdiri dari program penjangkauan dan respon kasus, program rehabilitasi sosial lanjut usia (lansia) lanjutan melalui rumah aman, dukungan keluarga lansia, home care melalui Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS) dan program layanan pendukung.

Utamanya, kata Yani yang didampingi Fungsional Penyuluh Sosial dan Petugas Kehumasan Subhan Kadir, balai melibatkan keluarga dalam menangani lansia. "LKS menjadi kepanjangan tangan balai, untuk mensosialisasukan penanganan lansia ke rumah - rumah," ujarnya.

Sementara, untuk lansia yang terlantar atau tidak ada keluarganya, harusnya menjadi tanggungjawab pemda. Setelah memperoleh pembekalan di balai, untuk dapat hidup secara mandiri dan optimis, harusnya diambilalih pemda.

Di bagian lain, Subhan Kadir mengemukakan, sejak berubah menjadi Balai, lansia yang ditangani bukan lagi mereka yang mengalami keterlantaran. Sasarannya adalah Lansia yang mengalami masalah khusus, seperti mengalami trauma akibat kekerasaan, perlakuan salah, lansia korban bencana alam atau bencana sosial dan lansia yang berhadapan dengan hukum.

"Persyaratannya usia 60 tahun ke atas, memiliki KTP dan KK, serta rujukan atau rekomendasi dari Dinas Sosial Setempat," jelas Subhan.

Dia menerangkan, berbagai Terapi diberikan pada lansia, selama dalam balai. Seperti terapi kehidupan (livelihood therapy) meliputi: terapi fisik, terapi psikososial, dan terapi spiritual. Terapi fisik bertujuan untuk mempertahankan dan mengembalikan fungsi fisik melalui latihan fisik yang dipandu fisioterapis.

Sementara, berbagai terapi psikososial bertujuan, untuk mempertahankan kesejahteraan psikis lansia. Terapi spiritual bertujuan untuk ketenangan dan kebahagiaan batin lansia.

Subhan juga mengungkapkan, kelebihan BRSLU Gau Mabaji Gowa dibandingkan balai lainnya pada penilaian akreditasi, BRSLU Gau Mabaji Gowa memperoleh predikat Excelent, tertinggi di antara Balai Rehabilitasi Sosial lainnya dengan nilai 566. Selain itu, BRSLU Gau Mabaji Gowa sebagai pelopor penggunaan sistem informasi dalam pencatatan dan pelaporan pelayanan rehabilitasi sosial berbasis data dan aplikasi yang dikenal dengan SI RELA (sistem informasi rehabilitasi sosial lanjut usia).

Terkait dengan pameran di kegiatan HLUN di Babdung, BRSLU Gau Mabaji Gowa mengirimkan 6 orang pegawai dalam kegiatan tersebut yang dikoordinir langsung oleh Kepala BRSLU Gowa Syam Wuryani.

Dia menjelaskan produk-produk yang ditampilkan pada pameran HLUN kali ini berupa hasil kerajinan tangan para lansia penerima manfaat, yang dilaksanakan pada kegiatan terapi. Seperti makanan kecil atau camilan khas sulawesi, serta berbagai media informasi tentang produk layanan Balai.

"Di acara kali ini, kami menampilkan produk-produk hasil kerajinan para lansia penerima manfaat," jelas dia.

Editor : Markon Piliang