logo

Koalisi Vs Oposisi

Koalisi Vs Oposisi

09 Juli 2019 23:58 WIB

SuaraKarya.id -  

Oleh: Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi

Pilpres telah selesai, begitu juga sengketanya di MK yang dimenangkan duet Jokowi – Ma’ruf yang sekaligus menegaskan kekalahan beruntun dari Prabowo ketika bertarung di pilpres. Implikasinya adalah bubarnya koalisi antar pendukung dan ternyata masing-masing ada yang mendekat ke kubu 01. Di satu sisi, hal ini menunjukan intinya tidak ada musuh abadi dalam perpolitikan karena sejatinya semua berharap bisa mendapatkan jatah kursi di pemerintahan dan di sisi lain oposisi juga dibutuhkan untuk bisa menjadi penyeimbang dalam pemerintahan. Setidaknya, peran oposisi juga bisa menjadi kritikus yang memberikan saran kontruktif bagi perbaikan pembangunan.

Fenomena diatas setidaknya bisa terlihat dari perjalanan demokrasi di republik ini yang memungkinkan terjadinya berbagai intrik dan saling serang. Oleh karena itu, tuntutan pendewasaan kehidupan demokrasi di republik ini menjadi penting sehingga diharapkan bisa mereduksi berbagai peluang terjadinya intrik kepentingan demi kekuasaan sesaat. Padahal, potensi terjadinya intrik cenderung kian besar seiring kian banyaknya parpol yang bertarung di pesta demokrasi, sementara di sisi lain imbas kian banyaknya parpol juga tidak terlepas dari tuntutan bagi-bagi kekuasaan bagi siapa saja pemenang di pesta demokrasi. Artinya, menjaga harmoni semua parpol menjadi penting, setidaknya oposisi yang ada tidak terlalu menyerang frontal.

Harmoni antara oposisi dan koalisi memang menjadi fenomena yang tidak asing dalam kehidupan demokrasi meski sejatinya kepentingan antara oposisi dan koalisi tidak jauh berbeda. Oleh karena itu, kepentingan membangun koalisi yang solid dan oposisi yang konstruktif tidak bisa terlepas dari kepentingan mendukung pelaksanaan pembangunan sehingga pencapaian terhadap target pembangunan dapat tercapai. Meski demikian, hal yang tidak bisa diabaikan adalah bagaimana menjalin koordinasi antara oposisi dan juga koalisi. Paling tidak, pertimbangannya adalah kepentingan politik yang melingkupi dan potensi intrik yang bisa terjadi. Padahal intrik yang terjadi sangat rentan memicu konflik sehingga implikasi terhadap iklim sospol juga sangat rentan.

Kehidupan demokrasi memang tidak bisa terlepas dari kepentingan intrik meski di sisi lain mereduksi intrik juga sangat penting untuk menjaga keseimbangan kehidupan pada pelaksanaan pemerintahan. Oleh karena itu beralasan jika keberagaman parpol sangatlah penting demi pendewasaan kehidupan berdemokrasi, meski di sisi lain juga rentan bagi ancaman konflik sehingga keberagaman ini menjadi dualisme yaitu positif dan negatif. Terlepas dari kepentingan membangun sinergi kehidupan demokrasi, pastinya ke depan perlu upaya menjembatani harmoni antara kepentingan koalisi dan oposisi agar sinergi yang terbangun bisa memberikan kemanfaatan dalam pelaksanaan pembangunan. Meski di sisi lain perlu juga dicermati kepentingan bagi-bagi kekuasaan ketika koalisi yang ada sukses mendukung pemerintahan. Jadi bukan beralasan jika pasca putusan MK akhirnya pemerintahan Jokowi juga perlu mempertimbangkan bagi-bagi kekuasaan meski di sisi lain juga penting untuk merangkul oposisi. ***

* Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi - Dosen Pascasarjana di Universitas Muhammadiyah Solo