logo

Suksesi Kepemimpinan KONI Pusat

Suksesi Kepemimpinan KONI Pusat

08 Juli 2019 00:09 WIB

SuaraKarya.id -  

Oleh: Gungde Ariwangsa SH

Suksesi kepemimpinan di lembaga tertinggi olahraga prestasi di Tanah Air, Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat berhasil dilaksanakan Selasa, 2 Juli 2019 lalu. Dalam Musyawarah Olahraga Nasional (Musornas) KONI XIII di Ballroom Hotel Sultan para peserta yang mewakili KONI Provinsi dan induk cabang olahraga dan badan fungsional secara aklamasi memilih Letnan Jenderal Tentara Nasional Indonesia (Purnawirawan) Marciano Norman) sebagai Ketua Umum KONI Pusat masa bakti 2019 - 2023. Dia  menggantikan  Mayor Jenderal TNI (Purn) Tono Suratman yang memimpin KONI Pusat selama dua periode sejak 2011.

Terpilihnya Letjen TNI (Purn) Marciano Norman menunjukkan kepemimpinan di KONI Pusat tetap terus hidup. Eksistensi KONI tetap terjaga. Bahkan dengan kepemimpinan baru akan melangkah dengan semangat baru dalam melaksanakan program-program yang bukan saja untuk mengangkat kembali marwah KONI Pusat namun juga mengibarkan kejayaan olahraga Indonesia di kancah dunia.

Dengan darah olahraga yang mengalir di tubuhnya - tercatat diantaranya sebagai joki atlet berkuda nomor pacuan, taekwondoin, menjadi Ketua Pengprov Karate dan menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Taelwondo Indonesia (PB TI) dua periode - Marciano mempunyai modal besar untuk memimpin KONI ke arah yang lebih mumpuni. Ditambah pengalamannya selama berkarier di militer dan memimpin Badan Intelijen Nasional, dia mempunyai visi dan misi yang kuat dalam menakohodai KONI. Di tangan suami Triwatty Norman dan ayah dari lima anak itu kiprah baru KONI Pusat ditumpukan.

Ke depan, tugas Marciano tidaklah ringan. Ke dalam, bagaimana pria kelahiran Banjarmasin, 28 Oktober 1954, ini mampu membenahi pekerjaan rumah soal gaji karyawan yang belum dibayarkan selama berbulan-bulan dan memperbaiki citra KONI Pusat setelah adanya kasus operasi tangkap tangan (OTT) dana hibah dari Kementrian Pemuda Dan Olahraga (Kemenpora). Selain itu, penanganan dualisme beberapa cabor juga akan menguras pikiran dan tenaga. Ke luar, Marciano diharapkan mampu mengangkat marwah KONI dengan menciptakan hubungan harmonis dengan lembaga olahraga lainnya, Kemenpora dan Komite Olimpiade Indonesia (KOI) serta para pemangku kepentingan olahraga nasional.

Di depan mata, Marciano sudah dihadapkan pada persiapan menuju SEA Games 2019 di Filipina. Setelah itu tugas tidak kalah berat dan penting tentunya penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) XX Tahun 2020 yang untuk pertama kalinya digelar di Bumi Papua. Setelah itu jalan terjal ke Olimpiade Jepang 2020 dan Asian Games XIX/2022 di China serta membantu sukses Indonesia menjadi tuan rumah Olimpiade 2032.

Melihat tugas yang tidak ringan itu, Marciano sudah langsung bergerak cepat. Kontak dengan Menteri Pemuda Dan Olahraga dan Ketua KOI dilakukan. Sehari setelah terpilih, dia langsung melakukan serah terima jabatan dengan Ketua Umum KONI Pusat yang lama. Dilanjutkan dengan perkenalan dengan para karyawan KONI Pusat, peninjauan ruangan dan mengadakan pertemuan dengan pimpinan cabor yang bermasalah.

Gerak cepat yang dilakukan Marciano seperti membuktikan dia ingin mewujudkan ucapannya bahwa "olahraga telah memanggilnya", "Olahraga sebagai tempat ibadahnya," dan "Olahraga sebagai pilihan pengabdiannya setelah mengenyam karier di militer dan pemerintahan".

Kemudian untuk membuktikan kata-katanya, “Hanya dengan bersatu dan bersama, kita bisa membangun dan meningkatkan prestasi olahraga Indonesia,” , Marciano juga membuka pintu untuk pihak yang  pengusung bakal calon lainnya, Muddai Madang yang melakukan aksi walk out saat Musornas. Para pendukung Muddai, memilih ke luar sidang setelah upaya untuk meloloskan jagonya ke Musornas gagal. Ini karena Tim Penjaringan Dan Penyaringan Bakal Calon Ketua Umum KONI Pusat menyatakan Muddai tidak memenuhi syarat.

Sesuai dengan persyaratan yang sudah diketahui sebelum mendaftaran para calon maka untuk bisa lolos sebagai calon ketua umum harus ada dukungan minimal 21 cabor/fungsional dan 10 KONI Provinsi. Ternyata Muddai hanya didukung 21 cabor dan 7 KONI Provinsi sehingga tidak memenuhi persyaratan. Sedangkan Marciano didukung 40 cabor/fungsional dan 26 KONI Provinsi. Meskipun demikian pendukung Muddai tetap berusaha agar bisa masuk bursa pemilihan.

Untuk itulah Musornas  berlangsung tegang sejak awal. Termasuk untuk pemilihan pimpinan sidang diwarnai walk out KONI Sulawei Utara dan sempat terjadi aksi dorong mendorong yang menghentikan sidang beberapa menit. Akhirnya pimpinan sidang dipilih melalui pemungutan suara. Hasilnya kubu Muddai gagal masuk unsur pimpinan sidang.

Kubu Muddai tetap bertahan sampai penyampaian laporan pertanggungjawaban pengurus KONI Pusat dan paparan program. Ketika saat akan pemilihan Ketua Umum, wakil KONI Sumatera Barat menyatakan walk out diikuti Jambi. Sedangkan beberapa mendukung Muddai lainnya  juga ikut ke luar. Namun peserta sidang tetap qorum karena ada juga pendukung Muddai yang bertahan. Kalau dihitung peserta yang bertahan 26 wakil KONI Provinsi dan 43 cabor/fungsional. Lebih dari kalau seluruh pendukung Muddai – 7 KONI Provinsi dan 21 cabor/fungsional – ke luar.

Dari peta kekuatan itu maka terpilihnya Marciano memenuhi persyaratan qorum dari 98 peserta Musornas. Dia mendapat dukungan solid dari pengusungnya 40 dan 26 serta pendukung Muddai yang bertahan di ruang sidang. Sidang pun kemudian berjalan lancar tanpa kegaduhan.

Sebagai Ketua Umum KONI Pusat, Marciano menyatakan, olahraga Indonesia jangan lagi dihiasi oleh berita tentang kegaduhan pengurus. Saatnya berita media massa diisi kegemilangan prestasi atlet Indonesia yang berkibar dan menggebrak di tingkat dunia. Urusan olahraga, katanya, urusan Merah Putih. Untuk itulah dia bertekad untuk melangkah dengan mengutamakan persatuan dan kerja sama demi KONI yang mandiri, profesional dan modern untuk mengangkat harkat dan martabat bangsa melalui olahraga. ***

* Gungde Ariwangsa SH – wartawan suarakarya.id, pemegang kartu UKW Utama dan Ketua Siwo PWI Pusat

Editor : Gungde Ariwangsa SH