logo

20 Marinir Inggris Tahan kapal Tanker Minyak Menuju Suriah

20 Marinir Inggris Tahan kapal Tanker Minyak Menuju Suriah

Royal Marines menahan kapal tanker minyak di Gibraltar
04 Juli 2019 18:05 WIB
Penulis : Gungde Ariwangsa SH

SuaraKarya.id - LONDON: Royal Marines menahan kapal tanker minyak yang tengah dalam perjalanan ke Suriah karena dianggap melanggar sanksi Uni Eropa. Pihak berwenang dari Pemerintah Gibraltar mengatakan,  ada alasan kuat, kapa yang disebut Grace 1 itu membawa minyak mentah ke Kilang Baniya di Suriah.

Kilang itu dikenakan sanksi Uni Eropa terhadap Suriah, kata menteri utama pemerintah. Fabian Picardo memuji keberanian para marinir yang menahan kapal.

"Yakinlah bahwa Gibraltar tetap aman, terjamin, dan berkomitmen pada tatanan hukum internasional, berbasis aturan," katanya sambil mengucapkan terima kasih kepada polisi, bea cukai dan otoritas pelabuhan atas keterlibatan mereka dalam menahan kapal.

Pelabuhan Gibraltar dan lembaga penegak hukum menahan kapal tanker super dan muatannya pada Kamis pagi dengan bantuan marinir.

BBC telah diberitahu tim sekitar 20 marinir, dari 42 Commando, diterbangkan dari Inggris ke Gibraltar untuk membantu merebut kapal tanker, atas permintaan pemerintah Gibraltar.

Sebuah sumber pertahanan menggambarkannya sebagai operasi yang relatif lancar tanpa insiden besar.

Picardo mengatakan dia telah menulis surat kepada presiden Komisi Eropa dan Dewan Eropa untuk memberikan rincian sanksi yang telah ditegakkan.

Kilang Baniya, di kota pelabuhan Suriah, Tartous, adalah anak perusahaan General Corporation untuk Pengilangan dan Distribusi Produk Minyak Bumi, bagian dari kementerian perminyakan Suriah.

Uni Eropa mengatakan fasilitas itu karenanya memberikan dukungan keuangan kepada pemerintah Suriah, yang dikenai sanksi karena penindasannya terhadap warga sipil sejak dimulainya pemberontakan terhadap Presiden Bashar al-Assad pada 2011.

Kilang telah dikenakan sanksi Uni Eropa sejak 2014.

Seorang juru bicara untuk Perdana Menteri Theresa May mengatakan dia menyambut tindakan tegas oleh pihak berwenang Libya. ***