logo

73 Tahun Polri, Reformasi Polri Semakin Dirasakan Masyarakat

73 Tahun Polri, Reformasi Polri Semakin Dirasakan Masyarakat

03 Juli 2019 09:12 WIB

SuaraKarya.id - Oleh DR Edi Hasibuan, SH, MH  *

Pada  1 juli 2019, Polri  memasuki usianya yang ke 73. Pada usia ini tentu sudah banyak prestasi dan capaian yang sudah dirahi Bhayangkara negara ini dlm pengabdiannya ditengah masyarakat. Di sisi lain reformasi  Polri juga sudah mulai dirasakan masyarakat. Polisi semakin matang dan semakin profesional dalam tugas.  Sejak beberapa tahun terakhir,  tampilan Polri banyak mengalami perubahan dan pembenahan kearah yang lebih baik. 

Hasil survai Harian Kompas menyebutkan kinerja Polri menangani berbagai kasus kejahatan secara umum dinilai publik sangat puas.  Sebanyak 73.6 porsen  masyrakat puas kinerja polisi menagani kasus terorisme, 70.5 porsen masyarakat puas menangani kejahatan kriminal dan masyrakat puas polisi menangani sara sebesar 64.6 porsen.  (Kompas 1 Juli 2019).

Walau Polri terus berbenah diri, tapi bagi sebagian masyrakat menilai kinerja Polri dinilai belum optimal.  Masyarakat menginginkan pasukan baju coklat ini terus  meningkatkan kinerja dan profesionalismenya.

Kita paham harapan masyarakat terhadap Polri begitu tinggi. Tentu keinginan masyrakat ini akan menjadi  bahan renungan buat seluruh jajaran Polri yang genap berudia 73 tahun. Kita paham, tidak akan mungkin semua masyrakat indonesia yg jumlahnya 250 juta penduduk akan puas terhadap kinerja Polri.

Secara umum, harapan masyrakat di seluruh dunia terhadap polisi adalah sama.  Menginginkan polisi yang cepat dan tepat serta selalu benar.  Polisi tidak boleh salah dan tindakannya harus sesuai aturan  hukum. Itulah harapan ideal masyrakat terhadap polisi di mana saja diseluruh dunia.     

Polri dimasa kepemimpinan Jendral Pol Prof Tito Karnavian,  kinerja polisi dimata masyarakat semakin baik. Ditengah tugas berat tingkat kepercayaan masyrakat terhadap polri dari tahun ke tahun terus meningkat.

Hasil survai Lemkapi thn 2016 tingkat kepercayaan masyrakat terhadap polri sebesar 68 porsen,  tahun 2017 sebesar 78  porsen dan thn  2018 terus naik menjadi sebesar 82 porsen.  Sungguh angka yang tinggi. Kerja keras seluruh jajaran Polri selama ini membuahkan hasil.

Hasil survai Lemkapi thn 2018  ini  nyaris sama dengan beberapa lembaga survai lainnya seperti Litbang Kompas,  dan Alvaro Researh.  Kita harapkan kinerja polri  terus semakin baik agar semakin dipercaya masyrakat. Tugas Polri kedepan kita prediksi semakin berat.  Masalah terorisme,  narkoba, konflik sosial dan Hoax akan tetap menjadi fokus utama pasukan bhayangkara ini.  Untuk menjawab keinginan dan harapan masyrakat tadi. Polri perlu terus meningkatkan SDM  dan personil yang cukup dan tentu didukung dengan anggaran yang cukup pula.  Masyrakat kini semakin kritis. 

Kini masyarakat tidak lagi melihat polisi yg seram dan wajah angker seperti dullu. Tampilan Polisi kini adalah polisi yg humanis. Polisi yang penolong dan polisi yang bersahabat dengan rakyat.  Akibatnya,  masyrakat kini tidak takut lagi dengan polisi dan bahkan berani terang terangan mengkritisi  polri.  Inilah dampak jika polisi dekat dengan rakyat dan polisi menjadi sahabat masyarakat.

Jadi jangan heran apabila, apabila rakyat setiap waktu mengkritik polisi di berbagai media sosial. Itu karena rakyat sayang  polisi. Rakyat ingin polri semakin baik.  . Kita jadikan Kritik itu sebagai obat dan masukan yang berharga untuk polri yang lebih. Kita paham semua kinerja polisi hari ini  dan seterusnya begitu transfaran karena  diawasi dan  dipantau langsung masyarakat. Suka atau tidak suka,  perkembangan teknologi yang sangat pesat belakangan ini sudah merubah manusia dengan profesi apapun untuk bekerja semakin baik.       

Sejak tiga tahun terakhir, catatan Lemkapi,  kinerja Polri terus diuji.  Sesuai UU No. 2 Thn 2002 tentang Polri,  polisi memiliki tugas memelihara Harkamtibmas. Pelayan, pelindung dan pengayom masyrakat.   Polri juga bertugas sebagai penegak hukum.  Tugas paling berat dihadapi polri sejak lahir menurut catatan saya adalah pengamanan Pemilu  2018  hingga 2019. Tugas berat ini membuat polri semakin matang dan dewasa.  Walau sudah bekerja baik,  tapi tudingan miring terhadap bhayangkara negara ini tetap ada.  Walau sudah memberikan pengabdian terbaik,  tetapi kritikan, hinaan dan cercahan serta tuduhan tidak profesional masih saja dialamatkan kepada polri. Itulah polisi kita. polisi yang harus selalu sabar dlm tugas.  Kadang dibenci dan sering kali dicercah.  Tapi kehadirannya selalu dirindu oleh masyrakat.  

Selain itu,  berbagai hoax yang isinya menyudutkan kinerja polri juga bermunculan.  Pengaruh  Hoax  begitu dasyat dan seringkali menggangu keamanan bangsa.  Hoax bisa menggangu persatuan dan kesatuan bangsa. Publik  setuju demi indonesia yang damai, demi rakyat yang aman.  hoax harus dihentikan dan pelakunya diberikan hukuman berat. Polisi sesuai harapan masyrakat memang harus tegas dan adil demi melindungi rakyatnya.  Sejak 3 thn terakhir,  polisi begitu sibuk menghadapi Hoax. Hoax setiap hari beredar masiv dan tidak jarang memprovokasi masyrakat. Hoax begitu reaktif bermunculan di media sosial yang isinya mengadu domba masyarakat,  menyerang pemerintah, elit politik dan bahkan kapolri dan  jajarannya juga dibuat repot. Polisi setiap hari sibuk mengklarifikasi tuduhan dan hinaan yg seringkali dialamatkan kepada korps bhayangkara ini.  Atas kondisi ini. Polri harus melakukan penegakan hukum.  Tentu ini dilakukan polri demi melindungi dan menegakkan keadilan bagi semua masyrakat. Karena polisi berkomitmen untuk selalu melindungi masyrakat. Polisi berkomitmen selalu siap kapan dan dimana saja untuk hadir jika dibutuhkan masyrakat.

Saat  terjadi kerusuhan 22 mei di Jakarta usai KPU mengumumkan hasil Pemilu,  pemerintah membatasi penggunaan medsos jenis what's up, facebook dan istagram.  Kebijakan ini begitu ampuh,  situasi keamanan negeri yg tadinya situasinya dikawatirkan membahayakan persatuan dan kesatuan bangsa kembali normal, Di lain pihak kinerja polri dan TNI  yg kerja keras tanpa mengenal waktu. Polisi dan TNI tampak dalam layar kaca berupaya keras  mengamankan kerusuhan untuk melindungi harta dan masyrakat. Kinerja aparat keamanan ini banyak diapresiasi masyrakat. Karangan bunga simpati dan terima kasih dari masyrakat kepada seluruh jajaran aparat keamanan saat itu terus mengalir.  Masyrakat bangga dan puas atas kinerja Polri dan TNI yg bahu menbahu sudah menjaga dan melindungi masyrakat. Publik sadar keamanan negara dan rakyat adalah segalanya. Kita melihat masyrakat kini kritis dan tidak mau lagi diadu domba. 

 Kini saatnya kita semua anak bangsa menbangun negara dan bangsa setelah usai mengikuti proses pemilu yang panjang. Ini demi indonesia yang aman.

Selamat HUT kepada Polri. Kami bangga polisi semakin Promoter (profesional,  moderen dan terpercaya). Terima kasih  atas pengabdianmu.

*Eddy Saputra Hasibuan, adalah Direktur Eksekutif Lemkapi, Anggota Kompolnas 2012 -2016 dan pakar ilmu kepolisian Universitas Bhayangkara Jakarta

Editor : B Sadono Priyo