logo

Mengeksplorasi Maubesi Saat Konser Musik Malaka 2019

22 April 2019 05:44 WIB
Penulis : Syamsudin Walad

SuaraKarya.id - BETUN: Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur, memiliki destinasi yang dijamin eksotis. Dan salah satu yang wajib dikunjungi adalah Maubesi. Waktu terbaik untuk mengunjungi destinasi ini adalah 24-25 April. Atau, saat Konser Musik Perbatasan Malaka dan Kefamenanu 2019 digelar. 

Maubesi adalah destinasi berupa cagar alam. Lokasinya berada di wilayah Fahiluka, Malaka Tengah. Maubesi ditetapkan sebagai cagar alam berdasarkan keputusan Menteri Kehutanan Nomor 394/Kpts/Um/5/2011. Total luas yang dimiliki sekitar 3.246 hektare.
 
“Maubesi merupakan kawasan luar biasa. Alamnya sangat indah. Garis pantainya menyatu dengan hijau hutan yang ada di sekitarnya. Maubesi ini destinasi yang wajib didatangi. Wisatawan akan mendapatkan banyak experience selama berada di sana,” ungkap Asisten Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Regional III Kemenpar Muh. Ricky Fauziyani, Sabtu (20/4) malam.
 
Di Maubesi, wisatawan akan menemukan garis perbatasan antara Indonesia dan Timor Leste. Titik perbatasan ini berada di Distrik Suai. Persisnya 4 Kilometer arah timur Maubesi. Penandanya berupa Sungai Telus atau cabang dari Sungai Benanain. 

“Maubesi memang unik. Sebab, di sini ada batas alam antara Indonesia dan Timor Leste. Destinasi tersebut jadi favorit masyarakat ke-2 negara. Ada banyak warga Timor Leste yang menyeberang untuk menikmati eksotisnya Maubesi. Sekali lagi saya merekomendasikan Maubesi sebagai destinasi utama untuk dikunjungi di Konser Musik Perbatasan Malaka 2019,” lanjut Ricky lagi.
 
Maubesi memang populer. Pada 2016, rata-rata pengunjungnya mencapai 2.000 orang per bulan. Puncak pergerakan wisatawan terlihat maksimal hingga 10.000 orang pada pesta akhir tahun 2016. Harga tiket bervariasi menurut kelas umur. Mendukung mobilitas wisatawan, Maubesi ditopang akses jalan bagus dengan waktu tempuh maksimal 50 menit dari Betun. Jaraknya sekitar 15 Kilometer.
 
“Kunjungan wisatawan ke Maubesi sangat kompetitif. Hal ini tentu bagus bagi pergerakan ekonomi di sana. Selain alamnya beserta teritorial negara, wisatawan juga bisa menikmati sisi budaya masyarakat. Apalagi, masyarakat di kawasan Maubesi terkenal ramah kepada wisatawan,” terang Ricky.
 
Di dalam kawasan Maubesi, terdapat Pantai Motadikin lengkap dengan perkampungan nelayannya. Dan, garis Pantai Motadikin mencapai sekitar 10 Kilometer. Sepanjang garis pantai bertebaran rumah warga yang didiami sekitar 220 keluarga. Pemandangannya pun makin klasik dengan banyaknya perahu yang berjejer. Pada salah satu sudutnya terdapat delta dan muara Sungai Benanain.
 
Muara Sungai Benanain terkenal dengan udang dan bandengnya. Komoditi tersebut tentu menjadi salah satu oleh-oleh terbaik. Selain kesegarannya, harga udang dan bandeng sangat ramah di wilayah tersebut. 

“Udang dan Bandeng sangat menonjol di kawasan Benanain. Komoditinya bagus dan selalu segar. Area ini juga banyak berdiri kedai. Mereka menjual banyak kuliner olahan komoditi tersebut,” kata Ricky lagi.
 
Selain kuliner, nuansa tradisional juga tersaji di sudut lain Maubesi. Adalah Kampung Adat Maneken yang hanya berjarak 150 Meter dari jalan utama Pantai Motadikin. 

Masyarakat Kampung Adat Maneken masih mempertahankan kehidupan tradisional. Di sini, tidak ada sentuhan modernisasi seperti listrik, televisi, apalagi komputer atau gadget lainnya. Peralatan kesehariannya pun sangat tradisional.
 
“Kawasan Maubesi sangat luar biasa. Alam dan budayanya menyatu menjadi daya tarik yang tentunya sangat unik. Maubesi adalah kawasan terbaik untuk berlibur. Ada beragam experience yang ditawarkan di sana. Ayo berkunjung ke Maubesi saat berada di KMP-MK 2019. Selain atraksinya, aksesibilitas dan amenitasnya pun sangat bagus,” tutup Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya.

Editor : Gungde Ariwangsa SH