logo

2019, Ditjen PSP Canangkan Optimasi Lahan Rawa 500.000 Ha

2019, Ditjen PSP Canangkan Optimasi Lahan Rawa 500.000 Ha

20 Januari 2019 11:20 WIB
Penulis : Syamsudin Walad

SuaraKarya.id - JAKARTA: Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) mencanangkan program optimalisasi lahan rawa seluas 500.000 Hektar (Ha) tahun ini. Upaya pemanfaatan lahan rawa dengan pola optimasi lahan ini telah mulai dirintis sejak tahun 2016. 

"Pada tahun 2016 telah dilakukan optimasi lahan rawa seluas 4,299 Ha, tahun 2017 dilakukan optimasi lahan rawa seluas 5,016 ha dan pada tahun 2018 seluas 44,250 Ha," sebut Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementerian Pertanian (Kementan) Pending Dadih Permana.

Dadih Permana mengatakan, Kementan membuat percontohan percontohan lahan pertanian yang dikembangkan melalui kegiatan optimasi lahan rawa. Kegiatan ini dilaksanakan di Kecamatan Jejangkit, Kabupaten Barito Kuala, Propinsi Kalimantan Selatan pada bentangan potensi lahan rawa seluas 4.000 Ha. 

"Kegiatan tersebut telah berhasil mengubah wajah pertanian rawa di Jejangkit, yang memulai banyak lahan yang tidak dikelola karena faktor-faktor masalah pada rawa, saat ini lahan rawa di sana telah dikelola dan ditanami dengan tanaman padi," ungkap Dadih Permana.


Direktur Perluasan Dan Perlindungan Lahan Ditjen PSP Kementan Indah Megahwati menambahkan, kegiatan percontohan percontohan lahan pertanian yang dikembangkan melalui kegiatan pengoptimalan lahan rawa bertumpu sesuai dengan kegiatan.

Pada pembuatan polder keliling dan tanggul pada saluran tersier dengan menggunakan excavator, normalisasi kanal sekunder di daerah rawa Jejangkit dengan menggunakan excavator
dan pembuatan saluran tersier baru untuk membawa udara ke tengah lahan.

"Selain itu dibuat juga pintu-pintu air yang berfungsi sebagai pengatur udara pada saluran-saluran di lokasi lahan.
Juga ada penggunaan pompa aksial yang memiliki kapasitas besar," ungkap Indah.

Program ini juga melibatkan penggunaan alat mesin pertanian (alsintan). Seperti traktor roda 2, traktor roda 4 dan bulldozer D21 yang dirancang khusus untuk lahan untuk proses pengolahan lahan.

Selain itu, juga dilakukan langkah meningkatkan pH menggunakan berbagai teknologi. Mengganti penggunaan amelioran kapur pertanian dan mikroba tanah.

"Juga dilakukan pemanfaatan dekomposer hasil penelitian Balittra untuk meningkatkan proses penguraian sisa-sisa rumput belukar yang dibersihkan. Tidak dibutuhkan pembakaran. Dan penggunaan benih resisten genangan dan kemasaman, seperti Inpar," jelasnya.


Pola optimasi lahan rawa yang dilaksanakan Kementan ini telah terbukti berhasil membalikkan rawa yang suram, menjadi sumber penghasil makanan masa depan.