logo

PMI Purna Harus Bisa Menjadi Pengusaha

PMI Purna Harus Bisa Menjadi Pengusaha

Deputi Perlindungan Badan Nasional Perlindungan dan Penempata Tenaga Kerja Ondpnesia (BNP2TKI) Anjar Prihantoro. (foto,ist)
16 November 2018 19:09 WIB
Penulis : Budi Seno P Santo

SuaraKarya.id - YOGYAKARTA: Pekerja Migran Indonesia (PMI) Purna, agar menjadi pengusaha dan meningkatkan kesejahteraan dengan merintis usaha kecil. Dari tempat asal atau daerahnya, sepulang bekerja dari luar negeri.

Pernyataan ini disampaikan Deputi Perlindungan Badan Nasional Perlindungan dan Penempata Tenaga Kerja Ondpnesia (BNP2TKI) Anjar Prihantoro, saat memberikan sambutan dalam workshop Pengembangan Kapasitas Usaha TKI Purna di LPP Garden Yogyakarta, Kamis (15/11/2018.).

"Para PMI jangan konsumtif, gunakanlah hasil dari bekerja untuk berwirausaha,” ujarnya. Jika usaha sudah mulai berjalan, imbuhnya, lakukanlah dengan sunguh-sungguh dan berkesinambungan. Lakukan juga inovasi untuk meningkatkan hasil produksi.

Workshop digelar untuk meningkatkan kualitas produk, agar muncul gairah dari PMI Purna untuk lebih maju lagi. Mereka yang terlibat adalah yang belum memiliki usaha, agar menjadi wirausahawan.

Sebagian besar lainnya yang memiliki usaha, diminta untuk terus mengembangkan usahanya. PMI Purna asal Daerah Istiwewa Yogyakarta (DIY) didorong untuk menjadi wirausahawan.

Selain untuk membangun ekonomi di daerahnya sendiri, pengalaman selama menjadi PMI diharapkan bisa membuka lapangan kerja baru.

Di bagian lain, Kepala Balai Pelayanan Penempatan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI) Yogyakarta Suparjo mengatakan, sebelum PMI diberangkatkan mereka diberi imbauan, agar memiliki niat untuk menjadi wirausahawan ketika pulang ke tanah air.

Hal ini bisa memberikan inspirasi dan memotivasi para PMI yang masih bekerja di luar negeri, untuk menggerakkan ekonomi masyarakat. “Tapi itu tergantung dari masing-masing PMI. Yang jelas sudah kami arahkan ke sana. Harapannya, ketika pulang mereka tidak lagi kembali menjadi PMI tapi menjadi wirausahawan," tuturnya.

Editor : Markon Piliang