logo

Pasar Barecore Turun, Pebisnis Kayu Ringan Kembangkan Inovasi Menjadi Produk Jadi

Pasar Barecore Turun, Pebisnis Kayu Ringan Kembangkan Inovasi Menjadi Produk Jadi

ILWA bersama Kementerian Perdagangan dan lembaga internasional menggelar International Lightwood Cooperation Forum (ILCF) ke-3
19 Oktober 2018 17:21 WIB
Penulis : Endang Kusumastuti

SuaraKarya.id - SOLO: Pebisnis kayu ringan melalui Asosiasi Indonesian Lightwood Association (ILWA) mulai beralih mengembangkan industri kayu ringan menjadi produk jadi. Menyusul selama terjadinya oversupply produk barecore di pasar internasional dalam tiga tahun terakhir yang menyebabkan harga komoditas turun tajam.

Salah satu upaya menyelamatkan industri kayu ringan adalah melalui International Lightwood Cooperation Forum (ILCF) ke-3 di De Tjolomadoe, Solo, Jawa Tengah, Jumat (19/10/2018). Acara yang digelar bersama dengan Kementerian Perdagangan, Swiss Import Promotion Desk (SIPPO), Fairventures, serta Import Promotion Desk (IPD) Jerman tersebut mempertemukan pebisnis dengan buyer dari Eropa.

"Ekspor kayu ringan kita masih sangat kecil komposisinya, tidak sampai 20 persen padahal kebutuhan dunia akan kayu ringan ini sangat besar," kata Ketua Umum ILWA, Sumardji Sarsono, kepada wartawan disela-sela acara.

Sumardji mengakui saat ini terjadi penurunan barecore di pasar internasional. Sehingga perlu melakukan inovasi dari kayu ringan menjadi produk barang jadi.

"Produk bisa menjadi pintu, furniture, mebel dan lain-lain. Kita kerja sama dengan ahli Jerman dan Singapura untuk membuat inovasi kayu ringan dibuat konstruksi seperti katu keras bahkan kekuatannya seperti kayu jati," paparnya.

Setelah Cina dan Jepang, ekspor produk kayu ringan mulai melirik negara Eropa seperti Belgia, Jerman, serta Perancis. Saat ini negara-negara di Asia seperti Filipina, Vietnam, serta Cina menjadi pesaing Indonesia dalam ekspor kayu ringan. Tetapi potensi Indonesia lebih besar, hanya membutuhkan gerakan masif.

"Kebutuhan ekspor dari Indonesia untuk barecore mencapai 10 juta meter kubik per tahun. Sementara untuk produk jadi dari kayu tropis ekspor kita mencapai 8 juta meter kubik per tahun, nantinya produk kayu ringan ini akan menggantikan kayu tropis itu," jelasnya.

Lebih lanjut Sumardji mengatakan Indonesia memiliki potensi lebih besar karena memiliki lahan, petani, pasar, serta bahan. Minat masyarakat untuk menanam pohon sengon juga cukup tinggi, karena pohon sengon bisa dipanen setelah lima hingga tujuh tahun.

"Satu pohon sengon bisa dihargai Rp700 ribu, coba kalau punya 100 pohon saja sudah bisa mendapatkan berapa. Bahkan kemarin di Probolinggo ada rombongan haji sengon, mereka bisa naik haji dari pohon sengon," jelasnya lagi.

Untuk mengembangkan pasar produk jadi kayu ringan, pihaknya meminta pemerintah memberikan fasilitas. Termasuk promosi marketing ke luar negeri serta menyiapkan bibit unggul.

Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan, Arlinda, pada kesempatan yang sama mengatakan produk kayu ringan yang dikembangkan bisa menghasilkan kontribusi jutaan dolar bagi pemerintah. Potensi pasar produk kayu ringan dari Indonesia cukup besar, apalagi Indonesia telah memiliki sistem verifikasi sehingga menarik bagi buyer luar negeri.

"Kementerian perdagangan akan selalu support produk untuk ekspor. Pemerintah memfasilitasi pameran dan mempertemukan dengan buyer. Kebutuhan di dunia akan kayu ringan mencapi 50 juta kubik per tahun," jelas Arlinda.

Indonesia baru bisa memenuhi sekitar 3 hingga 4 juta kubik per tahun. Untuk memenuhi permintaan pasar, pemerintah juga memiliki program 1 miliar penanaman pohon sengon. Pihaknya yakin tahun 2025, Indonesia bisa memenuhi kebutuhan kayu ringan dunia.

Ekspor produk kayu ringan tersebut juga didukung pembiayaan dari perbankan, salah satunya dari BRI. Menurut Wakil Pimpinan Wilayah BRI Yogyakarta, Muhammad Fikri, bentuk dukungan pengembangan produk kayu ringan tersebut diantaranya melalui penyaluran kredit.

"Baik kepada petani, pedagang pengumpul kayu ringan dan pengusaha. Sudah banyak di Temanggung, Wonosobo, Solo, dan daerah lain mulai dari yang kecil hingga besar," ujarnya.

Bentuk skim pembiayaanya mulai dari Kredit Usaha Rakyat (KUR) bagi petani dan kredit menengah bagi pengusaha. Meskipun beberapa waktu terakhir penjualan barecore mengalami tekanan, tetapi sejauh ini pembayaran kredit sebagain besar masih sehat.***

Editor : Yon Parjiyono