logo

Urban Farming, Bertani Tanpa Kotor Mudah Untuk Disabilitas

Urban Farming, Bertani Tanpa Kotor Mudah Untuk Disabilitas

Urban Farming (foto,ist)
08 September 2018 17:53 WIB
Penulis : Budi Seno P Santo

SuaraKarya.id - JAKARTA: Usai diterima Menteri Desa PDTT Eko Putro Sandjojo yang didampingi oleh Sekjen Anwar Sanusi, Dirjen Taufik Abdullah dan Ketua Tim Pakar Haryono Suyono, rombongan Ibu Sapto Juli Isminarti dari Malang dan rekan-rekannya, yang disabilitas,  serta masyarakat miskin dari Bekasi berkunjung ke HSC Center di Jakarta.

Haryono di Jakarta, Sabtu (8/9/2018) mengemukakan, rombongan hadir ke pusat latihan, yang selalu menjadi pusat pelatihan dan penggemblengan kader-kader pemberdayaan keluarga dari seluruh Indonesia. Pemberdayaan keluarga melalui pengembangan Posdaya.

Rombongan yang terdiri dari 25 orang, termasuk beberapa penyandang disabilitas antusias, mendapat pencerahan dan pelatihan khusus tentang Urban Farming. Dengan penanaman sayuran yang bisa dilakukan pada lahan perkotaan yang sempit. Bahkan, bisa ditanam di puncak/ atap rumah yang dirombak menjadi ajang kebun yang menarik.

Selama tiga jam, Ketua Yayasan Anugerah Kencana Buana (Anugerah) Fajar Wiryono didampingi para tokoh muda Rudi Lubis, Sulaiman dan staf senior lainnya, menjelaskan secara panjang lebar. Sesungguhnya, pertanian modern tidak harus memiliki sawah dan petaninya tidak harus terjun ke sawah.

Dijelaskan mantan Kepala BKKBN tersebut, di daerah perkotaan yang memiliki lahan sempit dapat dimanfaatkan sebagai “kebun”. Untuk menanam sayur yang nilai gizinya tinggi dan dijual dengan harga yang menguntungkan petaninya.

Warga kota, termasuk penduduk didabilitas, bisa menanam tanaman sayur untuk salad yang bisa dipetik dalam waktu sangat singkat. Secara panjang lebar dijelaskan bahwa penanaman sayur organik, yang nilai gizinya sangat tinggi itu bisa dilakukan oleh penyandang disabilitad, yang keadaannya tidak sempurna.

Seperti, untuk penyandang disabilitas yang hanya memiliki satu kaki, satu tangan, atau bahkan mereka yang sama sekali tidak bisa berjalan. Lahan yang biasanya harus luas sampai hitungan hektar, dalam pengertian Urban Farming untuk keluarga di kota dapat diperas menjadi hanya beberapa meter persegi.

Sehingga, tanaman bisa diatur begitu rupa karena petaninya bisa bekerja tetap bersepatu dan menanam tanamannya dengan tangan yang tetap bersih karena segala sesuatunya diatur di atas meja di dalam rumahnya.

Para tamu dari Malang dan Bekasi, yang sebelumnya mendapat pesan khusus dari Menteri Desa dan aparatnya itu, sangat kagum dan berjanji akan segera mencoba pengetahuan barunya di Malang dan Bekasi, dengan harapan para penyandang disabilitas lainnya tidak perlu cemas.

Karena dengan ilmu Urban Farming bisa menjadi supplier sayur untuk salad atau makanan mewah, tanpa harus terjun ke sawah menjadi petani modern, yang menguntungkan dan membawakan sayuran sehat karena ditanam tanpa pupuk kimiayang mengandung racun serta dimakan dalam keadaan segar.

Editor : Laksito Adi Darmono