logo

Nadiem: Pandemi Nyalakan Obor Perubahan, Guru Se-Indonesia Ingin Merdeka Berinovasi

Nadiem: Pandemi Nyalakan Obor Perubahan, Guru Se-Indonesia Ingin Merdeka Berinovasi

25 November 2021 07:00 WIB
Penulis : Pudja Rukmana

SuaraKarya.id - JAKARTA: Menteri Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Mendikbudristek) menegaskan pandemi Covid-19 yang melanda Tanah Air hampir dua tahun terakhiri ini tidak memadamkan semangat para guru Indonesia, tapi justru menyalakan obor perubahan. 

"Guru guru se-Indonesia menginginkan perubahan, dan kami mendengar. Guru se-Indonesia menginginkan kesempatan yang adil untuk mencapai kesejahteraan yang manusiawi," kata Menteri Nadiem dalam sambutannya pada Peringatan Hari Guru Nasional Tahun 2001, yang jatuh pada Kamis, 25 November 2021.

Menurut Mas Nadiem, guru se-Indonesia menginginkan akses terhadap teknologi dan pelatihan yang relevan dan praktis, kurikulum yang sederhana dan bisa mengakomodasi kemampuan dan bakat setiap murid yang berbeda-beda, pemimpin-pemimpin sekolah yang berpihak kepada murid bukan pada birokrasi, dan kemerdekaan untuk berinovasi, tanpa dijajah oleh keseragaman.

Lebih jauh Mendikbudristek menjelaskan, sejak pertama kali dicetuskan, program Merdeka Belajar sekarang sudah berubah dari sebuah kebijakan menjadi suatu gerakan. Contohnya, penyederhanaan kurikulum, sebagai salah satu kebijakan, Merdeka Belajar berhasil melahirkan ribuan inovasi pembelajaran gerakan yang makin kuat karena ujian dihadapi bersama. 

"Gerakan ini tidak bisa dibendung atau diputarbalikkan karena gerakan ini hidup dalam setiap Insan guru yang punya keberanian untuk melangkah ke depan menuju satu tujuan utama, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa," ungkapnya.

Karena itulah, Menteri Nadiem menegaskan tidak akan menyerah untuk memperjuangkan Merdeka Belajar, demi kehidupan dan masa depan guru se-Indonesia yang lebih baik ke depan.

Berikut ini pidato lengkap Menteri Nadiem Makarim menyambut Peringatan Hari Guru Nasional Tahun 2001, dikutip dari laman resmi Kemendikbudristek.

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Salam sejahtera bagi kita semua,

Om Swastyastu,

Namo Buddhaya,

Salam Kebajikan,

Rahayu.

Ibu dan Bapak Ibu sekalian yang saya hormati dan banggakan, 

Tahun lalu adalah tahun yang penuh ujian. Kita semua tersandung dengan adanya pandemi. Guru dari Sabang sampai Merauke terpukul secara ekonomi, terpukul secara kesehatan dan terpukul secara batin 

Guru mau tidak mau mendatangi rumah-rumah pelajar untuk memastikan mereka tidak ketinggalan pelajaran. Guru mau tidak mau mempelajari teknologi yang belum pernah mereka kenal. Guru mau tidak mau mendatangi rumah-rumah pelajar untuk memastikan mereka tidak ketinggalan pelajaran. Guru mau tidak mau mempelajari teknologi yang belum pernah mereka kenal. Guru mau tidak mau menyederhanakan kurikulum untuk memastikan murid mereka tidak belajar dibawah tekanan. Guru di seluruh Indonesia menangis melihat murid mereka semakin hari semakin bosan kesepian dan kehilangan disiplin. 

Tudak hanya tekanan psikologis karena Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), banyak guru mengalami tekanan ekonomi untuk memperjuangkan keluarga mereka agar bisa "makan".

Sangat wajar jika dalam situasi ini banyak guru yang terdemotivasi. Tapi ternyata ada fenomena yang tidak terkira.

Saat saya menginap di rumah guru honorer di Lombok Tengah, saat saya menginap di rumah Guru Penggerak di Yogyakarta saat saya menginap Bersama santri di pesantren di Jawa Timur saya sama sekali tidak mendengar kata "putus asa".

Saat sarapan dengan mereka, saya mendengarkan terobosan-terobosan yang mereka inginkan di sekolah mereka. Wajah mereka terlihat semangat membahas platform psikologi yang cocok dan tidak cocok untuk mereka. Dengan penuh percaya diri mereka memuji dan mengkritik kebijakan dengan hati nurani mereka.

Di situlah saya baru menyadari bahwa pandemi ini tidak memadamkan semangat para guru, tapi justru menyalakan obor perubahan. Guru guru se-Indonesia menginginkan perubahan, dan kami mendengar.

Guru se-Indonesia menginginkan kesempatan yang adil untuk mencapai kesejahteraan yang manusiawi. Guru se-Indonesia menginginkan akses terhadap teknologi dan pelatihan yang relevan dan praktis. Guru se-Indonesia menginginkan kurikulum yang sederhana dan bisa mengakomodasi kemampuan dan bakat setiap murid yang berbeda-beda. Guru se-Indonesia menginginkan pemimpin-pemimpin sekolah mereka untuk berpihak kepada murid, bukan pada birokrasi. Guru se-Indonesia ingin kemerdekaan untuk berinovasi, tanpa dijajah oleh keseragaman 

Sejak pertama kali kami cetuskan, sekarang Merdeka Belajar sudah berubah dari sebuah kebijakan menjadi suatu gerakan. Contohnya, penyederhanaan kurikulum sebagai salah satu kebijakan Merdeka Belajar berhasil melahirkan ribuan inovasi pembelajaran gerakan yang makin kuat karena ujian yang kita hadapi bersama. Gerakan ini tidak bisa dibendung atau diputarbalikkan karena gerakan ini hidup dalam setiap Insan guru yang punya keberanian untuk melangkah ke depan menuju satu tujuan utama, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa.

Karena itulah, saya tidak akan menyerah untuk memperjuangkan Merdeka Belajar, demi kehidupan dan masa depan guru se-Indonesia yang lebih baik.

Terima kasih sebesar-besarnya kepada guru se-Nusantara atas pengorbanan dan ketangguhannya. Merdeka Belajar sekarang ini milik Anda. Salam Merdeka Belajar.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Om Shanti, shanti, Shanti om,

Namo Buddhaya.

Jakarta, 25 November 2021

Menteri Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi 

Nadiem Anwar Makarim. ***

Editor : Pudja Rukmana