logo

Pembangunan Springbox Untuk Warga Posdaya

Pembangunan Springbox Untuk Warga Posdaya

24 November 2021 12:32 WIB

SuaraKarya.id - Oleh: Drs Hadi Wasito DipEd MPd

Air merupakan kebutuhan pokok yang diperlukan untuk menunjang keberlangsungan kehidupan bagi semua mahluk. Tumbuhan, binatang, serta manusia memerlukan air guna tumbuh kembangnya. Tanpa adanya air di dalam pokok tumbuhan, badan binatang, dan tubuh manusia, semua mahluk tersebut akan mengalami proses kematian.

Dengan sangat dominannya akan kebutuhan air, untuk menunjang kehidupan bagi semua mahluk. Maka, dapat dimengerti bahwa pokok-pokok tumbuhan, binatang, serta kelompok manusia banyak ditemukan hidup berdekatan dengan sumber air. Baik yang berupa sumber air tanah, sungai dan danau, serta tepian laut.

Di wilayah-wilayah yang terdapat banyak sumber air diketahui tumbuhan dapat hidup dengan subur, banyak diketemukan aneka ragam binatang, serta terdapat pula daerah hunian manusia. Demikian pula dengan warga posdaya di lingkungan Dusun Sengkaling, Desa Mulyoagung, mereka memerlukan air untuk menunjang kebutuhan hidup sehari-hari.

Untuk memenuhi kebutuhan akan air, warga posdaya Dusun Sengkaling memperolehnya melalui tiga cara. Yaitu; pertama memperoleh melalui jaringan air bersih yang dikelola oleh perusahaan air minum daerah; kedua memperoleh melalui sumber air tanah dengan membuat sumur; ketiga dengan memanfaatkan air sumber.

Pemenuhan kebutuhan air melalui perusahaan air minum daerah tentu memerlukan pembiayaan rutin setiap bulan. Besaran pembiayaan tergantung dari jumlah pemakaian setiap bulannya, semakin besar volume pemakaian semakin besar pembiayaan yang harus dikeluarkan.

Cara kedua, mengambil air dengan membuat sumur memerlukan pembiayaan yang lebih sedikit dibanding dengan cara memanfaatkan jaringan air minum daerah. Cara ketiga, dengan memanfaatkan sumber air yang ada di tepian sungai, sama sekali tidak memerlukan pembiayaan. Hanya perlu ekstra tenaga untuk pergi ke sumber air.

Bagi warga posdaya yang tempat tinggalnya tidak terjangkau oleh jaringan air bersih, maupun yang tidak memiliki sumur sendiri, alternatif memanfaatkan sumber air ditepian sungai merupakan pilihan yang paling menguntungkan. Di wilayah Dusun Sengkaling, khususnya wilayah RT 01 dan RT 02, yang warganya merupakan warga kelompok posdaya Dahlia, sebagaian adalah pemakai sumber air yang ada di tepian sungai Brantas.

Sumber air yang ada di tepian sungai Brantas dimanfaatkan utamanya untuk keperluan mandi dan cuci. Sumber air yang ada di tepian sungai Brantas di wilayah RT 01 dan RT 02 Dusun Sengkaling tempo dulu terdapat tidak kurang dari 4 titik. Namun, dengan berubahnya kontur sungai yang drastis sejak 20 tahun terakhir, jumlah sumber air yang tersisa hanya tinggal satu saja.

Dengan peran pentingnya keberadaan sumber mata air yang tinggal satu-satunya, kami sebagai warga posdaya, dan sekaligus sebagai warga kampus Universitas Negeri Malang merancang sebuah disain springbox yang sesuai dengan kondisi sumber air yang ada di wilayah RT 01 dan RT 02 Dusun Sengkaling tersebut. Tujuan dari disain springbox adalah untuk mengamankan sumber air dari kerusakan gerusan aliran air, dan juga untuk memberikan keamanan dan kenyamanan para pemakai.

Dengan adanya bangunan springbox luruhan lumpur dan pasir akan mengendap di bagian bawah springbox, sehingga air yang dimanfatkan untuk mandi dan cuci merupakan air yang bersih dari lumpur dan pasir.

Springbox adalah istilah umum yang digunakan untuk sebuah disain bangunan, yang fungsi utamanya adalah untuk menampung air sumber yang keluar dari permukaan tanah. Bangunan springbox mengamankan air sumber yang keluar dari muka tanah, agar terkumpul dan terkendali alirannya sesuai dengan kebutuhan pemakaian.

Bangunan springbox didesain sesuai dengan tipologi sumber air. Yang terdiri dari jenis sumber air, yang keluar dari permukaan tanah yang rata dan jenis sumber air yang keluar dari tebing. Sumber air yang ada di tepian sungai Brantas, yang terletak di Dukuh Sengkaling, Desa Mulyoagung adalah jenis sumber air yang keluar dari tebing.

Sebagaimana kebanyakan sumber air yang keluar dari tebing tepian sungai, air yang keluar adalah air yang mengalir pada celah-celah tanah keras yang mengikuti kecuraman lereng tebing. Secara tradisional pemanfaatan air sumber yg keluar dari lereng-lereng tebing tepian sungai adalah dengan memasang pipa-pipa, yang langsung ditancapkan pada sumber air. Dengan pemasangan pipa-pipa pada sumber air, maka air akan tertampung dan mengalir melalui pipa.

Pada umumnya pipa yang digunakan adalah batangan bambu. Cara tradisional yang demikian seringkali aliran air yang melalui pipa dimungkinkan akan tercampur dengan lumpur atau pasir yang terkikis aliran dan terbawa melalui pipa. Sesuai dengan keadaan sumber air yang ada di wilayah Rt 01 dan Rt 02 Dusun Sengkaling, yaitu sumber air yang berupa sumber air dari lereng tebing, maka desain springbox yang digunakan adalah desain springbox untuk tipe tampungan vertikal.

Pada model desain springbox untuk tampungan vertikal ini air sumber yang keluar dari dinding lereng di atas springbox dialirkan melalui pipa di atas dinding penahan dan sebagaian yang lain yang keluar sejajar atau berada di bawah dinding penahan dialirkan menuju kolam endapan melalui overflow dinding penahan menuju kolam penampungan. Dari kolam penampungan yang juga berfungsi sebagai kolam pengendapan, air dialirkan melalui pipa distribusi sesuai dengan debit dan jumlah pipa distribusi yang dibutuhkan.

Pada tahapan kegiatan pelaksanaan pembangunan springbox telah pula melibatkan masyarakat sekitar, yang bertindak sebagai tenaga pelaksana. Tidak ketinggalan, pada tahapan ini telah pula dilakukan koordinasi dengan pengampu kewenangan pada tingkat desa, yaitu dengan kepala desa Mulyoagung.

Untuk menjaga agar pelaksanaan pembangunan springbox dapat terlaksana sesuai dengan desain yang telah dibuat sebelumnya, secara bergiliran tim pegiat pengabdian masyarakat yang terdiri dari dosen prodi PTB jurusan Teknik Sipil Universitas Negeri Malang melakukan monitoring secara berkesinambungan. Secara fisik bangunan springbox yang telah terselesaikan pada bulan Juli 2021 ini, memenuhi kriteria kekuatan standar bangunan yang aman.

Bukti kekuatan bangunan telah teruji dengan adanya terjangan banjir bandang yang melalui sungai Brantas pada hari Kamis 4 November 2021, yang dikenal sebagai banjir bandang kota Batu.***

 

Penulis, Dosen prodi PTB -Universitas Negeri Malang

Editor : Markon Piliang