logo

Masa Pandemi Uni Eropa Promosikan Inovasi Teknologi Menangkal Perundungan Digital Untuk Melenial

Masa Pandemi Uni Eropa Promosikan Inovasi Teknologi Menangkal Perundungan Digital Untuk Melenial

Dubes Uni Eropa untuk Indonesia, Vincent Piket memberikan atensi dalam penyelenggaraan kompetisi dan penghargaan EU Social DigiThon 2021 di masa pandemi (Ist)
21 November 2021 23:37 WIB
Penulis : AG. Sofyan

SuaraKarya.id - JAKARTA: Dalam dua tahun terakhir, Delegasi Uni Eropa (UE) melihat dampak krisis terhadap kehidupan anak sebagai kelompok masyarakat yang sangat terdampak, terlepas dari dimana mereka berada. Mereka merasakan konsekuensinya seperti dalam hal pembelajaran hingga kesejahteraan hidup.

"Pandemi Covid-19 merupakan saat yang sangat krusial, dimana keseharian kita beralih ke ranah online termasuk bagi anak-anak. Walaupun ranah online memberikan banyak peluang, ada juga bentuk-bentuk kekerasan baru seperti cyberbullying," ujar Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia, Vincent Piket di Jakarta, Sabtu (20/11/2021)

Sejak tahun 2012, Uni Eropa, kata Vincent meluncurkan strategi tentang internet yang lebih baik untuk anak-anak dan menetapkannya sebagai benchmark global untuk perlindungan anak-anak dan remaja di dunia digital, sambil sepenuhnya melindungi hak mereka untuk mengakses internet untuk perkembangan. Hal ini juga sejalan dengan penerapan protokol kesehatan (Prokes) 5M yakni memastikan memakai masker dengan benar, mencuci tangan dengan sabun dan air mangalir, menjaga jarak aman dan tidak berkerumun serta mengurangi mobilitas yang tak henti-hentinya dikampanyekan Pemerintah Indonesia guna melindungi keselamatan dan kesehatan rakyatnya.

Untuk mencerminkan dunia yang selalu berubah saat ini, UE mengadopsi versi terbaru dari strategi ini pada tahun 2022.

Pada tahun 2021, Uni Eropa juga meluncurkan strategi tentang Hak Anak, untuk melindungi semua anak dengan lebih baik dan membantu mereka memenuhi hak-hak mereka. Ini dikembangkan untuk anak-anak dan dengan anak-anak- sebagai bagian dari proses penyusunan.

Lebih dari 10.000 anak dikonsultasikan untuk memastikan strategi yang mencerminkan perubahan saat ini di semua aspek kehidupan mereka, termasuk dalam penggunaan teknologi digital, dalam gaya hidup mereka dan masalah kesehatan terkait yang diperburuk oleh pandemi.

"Uni Eropa percaya anak-anak sepatutnya dapat memanfaatkan peluang di ranah digital dan memaksimalkan potensi mereka, yang secara tidak langsung akan mendukung pertumbuhan dan menjamin hak anak," tegas Dubes Vincent Piket.

Pada kesempatan ini, Delegasi Uni Eropa untuk Indonesia mengumumkan para pemenang EU Social DigiThon 2021, yaitu kompetisi untuk mencari solusi berbasis teknologi untuk mengatasi perundungan digital pada anak di Jakarta, Sabtu (20/11/2021).

Para pemenang tersebut adalah: Juara Pertama: Tim Share Platform dengan aplikasi yanguh dirancang untuk melaporkan, menanggapi, dan menyelesaikan kasus perundungan.

Juara Kedua: Tim Gotcha dengan one-stop solution yang menciptakan lingkungan yang lebih aman bagi anak-anak.

Juara Ketiga: Tim Kincir, dengan browser extension untuk menyensor konten berbahaya; dan Tim SRG dengan KindBoard, filter keyboard yang memeriksa cyberbullying di semua platform. Proposal yang luar biasa dari Tim Kincir dan SRG menempatkan mereka berdua di tempat ketiga ex aequo.

Sebagai bagian dari rangkaian acara EU4HumanRights untuk memperingati Hari Hak Asasi Manusia Internasional 2021, delegasi Uni Eropa untuk Indonesia meluncurkan kompetisi EU Social Digital pada bulan September 2021. Kini dalam edisi keduanya, EU Social DigiThon 2021 bekerja sama dengan Asosiasi Internet of Things Indonesia (AS,), Indonesian Cybercrime Combat Center (IC4), Yayasan Semai Jiwa Amini (Sejiwa), dan Ikatan Psikolog Klinis Indonesia (IPK Indonesia).

Hampir dua tahun semenjak pandemi, anak-anak termasuk di antara kelompok yang paling terkena dampak, dengan konsekuensi luas untuk kesejahteraan mereka. Kehidupan sehari-hari semakin bergeser ke ranah online dan walaupun memberikan peluang yang tak terbatas, juga melahirkan bentuk-bentuk kekerasan baru.

Dengan latar belakang ini, EU Social DigiThon mengangkat tema “Mengatasi Perundungan secara Digital Terhadap Anak”, yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran akan masalah ini dan mempromosikan solusi yang ditawarkan oleh kaum muda Indonesia.

Jumlah proposal yang diterima tahun ini mencerminkan betapa pentingnya masalah ini di Indonesia, dengan 105 tim terdaftar dan 29 proposal yang dipelajari secara mendalam oleh Dewan Juri. Setelah beberapa tahap penilaian, tim pemenang ditentukan berdasarkan kesiapan teknis dan potensi kegunaan proposal mereka.

“Pandemi Covie-19 telah menunjukkan bagaimana krisis mengganggu kehidupan anak-anak, di negara mana pun mereka tinggal. Pergeseran aktivitas ke ranah digital menghadirkan peluang untuk belajar, tetapi juga menghadirkan tantangan baru, termasuk perundungan digital. Uni Eropa percaya bahwa tindakan ekstra diperlukan untuk melindungi anak-anak dan remaja di dunia digital, dengan tetap melindungi hak mereka untuk mengakses internet untuk perkembangan mereka. Untuk tujuan ini, kami dengan bangga memperkenalkan empat inovator muda dari Indonesia yang diharapkan dapat mengatasi masalah cyberbullying melalui inovasi mereka," ungkap Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia, Vincent Piket.

Tahun ini, dewan juri terdiri dari lima orang, yakni Saiti Gusrini dari Delegasi Uni Eropa untuk Indonesia, Fita Indah Maulani dari Asosiasi Internet of Things Indonesia (Asioti), Ruby Alamsyah dari Indonesia Cyber Crime Combat Center (IC4), Oktavianus Ken dari Ikatan Psikolog Klinis Indonesia (IPK Indonesia), dan Diena Haryana dari Yayasan Sejiwa. Pemenang dinilai berdasarkan orisinalitas ide, kreativitas, kegunaan dan efektivitas proposal yang diusulkan, serta kesesuaian dengan prinsip perlindungan anak, kesetaraan gender, inklusi sosial, dan no harm.

Para pemenang mendapatkan dukungan dana untuk mewujudkan gagasannya menjadi kenyataan. Pemenang pertama akan menerima dana senilai Rp50 Juta, pemenang kedua senilai Rp30 Juta, dan dua tim di posisi pemenang ketiga masing-masing akan menerima dana senilai Rp 20 Juta. Keempat pemenang juga akan mengikuti program mentoring bersama pakar dari negara Eropa.***

Editor : Dwi Putro Agus Asianto