logo

Musda DPD HIMKI Momentum Optimis Tembus Pasar Global

 Musda DPD HIMKI Momentum Optimis Tembus Pasar Global

Musda DPD HIMKI Sleman Raya.(foto,ist)
13 Oktober 2021 23:47 WIB
Penulis : Budi Seno P Santo

SuaraKarya.id - SLEMAN: Penyelenggaraan Musda DPD Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Sleman Raya, bisa dijadikan momentum menyamakan persepsi. Untuk tetap optimis, industri ini akan terus mengalami pertumbuhan, eksis, serta menembus pasar global.

Hal itu dikatakan, Ketua Presidium HIMKI Abdul Dobur, pada Musda DPD HIMKI Sleman Raya, di Gedung Deskranasda, Sleman, Yogyakarta, Rabu (13/10/2021).

Dikemukakannya, hal ini tentu bukan tanpa alasan, mengacu pada table pertumbuhan ekspor tahun 2020. Kendati, terjadi wabah Pandemi Covid 19, tetapi industri ini terus tumbuh.

"Kami berharap, pasar ekspor tidak hanya menjadi ladang bagi perusahaan besar saja untuk mengekspansi bisnisnya. Tapi, juga bisa ditembus oleh usaha kecil dan menengah (UKM) kelompok mebel dan kerajinan yang tergabung dalam HIMKI," tutur Sobur.

Dengan potensi sumberdaya alam dan sumberdaya manusia yang dimiliki, dan bisa dikelola dengan baik, kata dia, Indonesia bisa menjadi leader untuk industri mebel dan kerajinan di Kawasan Regional ASEAN. Dengan ketersediaan bahan baku hasil hutan yang melimpah, sumberdaya manusia yang terampil dalam jumlah besar, industri ini bisa menjadi industri yang tangguh.

Sobur mengingatkan, industri mebel dan kerajinan adalah industri yang sangat penting, mengingat industri ini merupakan bantalan ekonomi yang kuat. Pada saat kondisi ekonomi seperti saat ini dan menjadi jalan keluar negara dalam penyerapan tenaga kerja.

Sebab, sampai saat ini industri mebel dan kerajinan tetap eksis dan menghasilkan devisa bagi negara. Di saat industri lain terkena imbas krisis, Industri ini kuat karena didukung oleh local content yang cukup besar.

Sobur menyatakan rasa syukurnya, di tengah situasi pandemi Covid-19, industri furniture dan kerajinan lebih beruntung dari kebanyakan industri sejenis. Yang memproduksi barang kebutuhan sekunder lainnya.

"Industri ini mengalami pertumbuhan di masa pandemi," ucapnya. Berdasarkan “The Business Research Company”, pasar furnitur global diperkirakan akan tumbuh dari 564,7 miliar dolar AS di 2020 menjadi 671,7 miliar dolar AS pada 2021 atau tumbuh 18 persen dan diperkirakan akan mencapai 850,8 miliar rolar AS pada 2025 dengan CAGR 6 persen.

Di bagian lain Sekjen HIMKI Heru Prasetyo mencermati, pertumbuhan yang terjadi di pasar global tidak terlepas dari permintaan Amerika Serikat yang cukup besar. Yang menyebabkan penjualan di pasar Amerika Serikat ini sangat besar adalah program Work From Home (WFH), di mana aturan ini sangat ditaati dan didukung oleh infrastruktur yang mumpuni.

Sehingga, WFH dilakukan dengan baik, selain pula ada dua faktor penting yang menjadikan pasar AS ter-recovery dengan cepat. Antara lain disebabkan pasokan dari Tiongkok berkurang, akibat perang dagang dan ini menjadi pengaruh besar.

Sebagai gambaran, dia memaparkan, tahun 2019 ekspor Tiongkok ke Amerika Serikat tercatat 38 miliar folar AS dan tahun 2020 hanya tersisa 9,5 miliar dolar AS. Artinya, ada senilai 24 miliar dolar AS pasar yang ditinggalkan Tiongkok akibat perang dagang.

Situasi ini dimanfaatkan dengan baik oleh Vietnam, yang menyebabkan ekspor Vietnam ke Amerika Serikat tumbuh pesat. Tapi, sehebat apapun Vietnam juga punya keterbatasan, buktinya saat ini Vietnam untuk mengirim barang ke Amerika Serikat butuh waktu (lead time/delivery time) 150 hari.

Vietnam saat ini bisa dibilang sudah mach-out atau full capacity, dan sekali lagi situasi ini seharusnya bisa kita manfaatkan. Namun, dalam kenyataanya masih banyak hambatan. Hal ini tentu harus dicarikan jalan keluarnya.

Sementara, Ketua DPD HIMKI Sleman Raya Rian Hermaean menyebutkan, ada dua agenda DPD HIMKI Sleman Raya ke depan. Pertama, mewujudkan keberadaan Zona Industri Kabupaten Sleman. Tidak adanya ketersediaan lahan yang memadai, menjadi salah satu kendala bagi pengembangan kawasan industri di Kabupaten Sleman.

Untuk menjadi kawasan industri memerlukan lahan paling tidak seluas 50 hektare, sementara di Sleman tidak ada wilayah yang memungkinkan untuk itu. Ini harus dicarikan solusinya secara bersama-sama.

Kedua, masalah SVLK masih menjadi ganjalan di Kabupaten Sleman karena di Sleman tergantung RT RW (rancangan tata ruang). Masalah ini tentu harus segera dicarikan solusinya.

Dari, beberapa kali pertemuan HIMKI dengan Kementerian Perindustrian, Kementerian Perindustrian menyiapkan anggaran untuk para pelaku industri mebel dan kerajinan, yang tergabung dalam HIMKI, sehingga dapat membantu untuk mengatasi masalah ini.

Pada Musda DPD HIMKI Sleman Raya yang bertajuk “Meningkatkan Peran Sleman Menembus Pasar Global”, peserta Musda memilih Rian Hermawan sebagai Ketua DPD HIMKI Sleman Raya Periode 2021-2024.***

Editor : Gungde Ariwangsa SH