logo

Ketam Kenari Di Raja Ampat Terancam Punah, Diminta Hentikan Eksploitasi

Ketam Kenari Di Raja Ampat Terancam Punah, Diminta Hentikan Eksploitasi

Istimewa
13 Oktober 2021 21:56 WIB
Penulis : Yacob Nauly

SuaraKarya.id - SORONG: Aktivis lingkungan hidup dan juga wartawan AntaraNews Papua, Ernes Broning Kakisina, mengatakan, ketam kenari  yang beberapa tahun sebelum ini banyak terdapat di Kepulauan Raja Ampat, kini  makin langka. Karena itu, masyarakat diminta  hentikan eksploitasi.

“ Sebelum tahun 1990, ketam kenari dengan nama latin Birgus latro ini menjadi  salah satu makanan pokok masyarakat Raja Ampat. Bahkan hampir di kawasan  timur Indonesia termasuk Maluku dan Maluku Utara,”katanya.

Tapi, sejak diketahui ikan arthhropoda bernama latin Birgus latro ini telah langka dan terancam punah, masyarakat mulai sulit menemukan jenis ini untuk konsumsi. Di kampung-kampung kepulauan Raja Ampat mulai sulit ditemukan. Karena, dijual atau dikonsumsi masyarakat sendiri.

Menurut Kakisina, saat ini Ketam Kenari merupakan arthropoda darat terbesar di dunia dan merupakan satu-satunya spesies dari genus Birgus mulai langka.

 Fauna ini berbeda dengan spesies kepiting atau udang, yang memiliki kekerabatan dengan genus Coenobita atau umang-umang darat.

Menurut data di Kementerian Kelautan dan Perikanan, ketam kenari dikenal pula sebagai kepiting pencuri (robber crab/palm thief).  Karena, ketam kenari memiliki keahlian memanjat pohon kelapa. Umumnya mereka memanjat pohon kelapa untuk mengambil buah kelapa  sebagai makanannya.

Satwa ini tersebar terutama di wilayah kepulauan Indo-Pasifik dan terbatas di kepulauan yang tidak berpenghuni. Hewan ini menempati pulau-pulau berbatu di kawasan lautan.

Hewan ini,  hidup di daerah pantai yang menyatu dengan daratan kepulauan. Tapi, ketam kenari tidak dijumpai di karang atol karena tidak tersedianya sumber makanan yang memadai.

Menurut Kakisina, saat ini  keberadaannya di alam semakin terancam. Terlebih dengan semakin maraknya tindakan penyelundupan fauna dilindungi ini.

Menurutnya, eksploitasi ketam kenari ini, berdasarkan hasil penelitian  dan observasi timnya  di beberapa pulau besar di Kepulauan Raja Ampat, yang dahulu menjadi  kawasan populasi ketam kenari ini.

Dikatakan Kakisina, secara hukum, fauna endemik telah dilindungi oleh PP No. 7 tahun 1999 tentang pengawetan satwa. Namun, eksploitasi terhadap fauna sebagai sumber makanan protein hewani terus dilakukan oleh masyarakat Raja Ampat maupun para pendatang.

“Saya mau bilang bahwa  ketam kenari sudah makin langka di Raja Ampat bahkan beberapa daerah di Maluku dan Maluku Utara dilaporkan juga  sama. Hewan kenari ini makin langka di  kawasan Timur Indonesia,”katanya. ***

Editor : Pudja Rukmana