logo

Rektor Unimuda: Berbahaya, Warga Sorong Belum Sadar Lingkungan

Rektor Unimuda:  Berbahaya, Warga Sorong  Belum Sadar Lingkungan

Foto: Yacob Nauly
13 Oktober 2021 18:34 WIB
Penulis : Yacob Nauly

SuaraKarya.id - AIMAS- KABUPATEN SORONG:  Rektor Unimuda Sorong, Dr. Rustamadji, M.Si., mengatakan, masyarakat Sorong,   belum tahu kalau salah satu habitat ekosistem di  dunia ini adalah bumi, yang harus dirawat dan dijaga  dengan baik. Ini, berbahaya.

 Alam atau bumi ini adalah tempat tinggal bukan saja manusia tetapi hewan dan tumbuhan,  beradaptasi di dalamnya. Jika pohon ditebang, air dicemari dengan minyak dan oli apalagi potasium , maka  apa yang disebut orang  pemanasan bumi itu akan terjadi juga di” Sorong dan sekitarnya”.

“Aliran sungai yang masuk ke danau buatan Unimuda  Sorong. dicemari oli dan minyak tanah serta  mengapungnya   botol dan kantong plastik.  Padahal  kami  sudah   memasang jaring dengan pelampungnya, untuk menjaring . sampah teristimewa plastik,”kata  Dr. Rustamadji kepada suarakarya.id, di  Kampus Unimuda,  Rabu (12/10/2021) siang.

Ia menyaksikan sendiri, di Turki, masyarakat sangat mencintai hewan, hutan, sungai maupun laut. Di Turki, kucing, anjing dan hewan peliharaan lainnya sangat diberikan bobot pemeliharaan.

 “Di Turki jarang kita melihat hewan  berkeliaran di jalan- jalan. Karena,  hewan itu  dirawat dipelihara dengan baik, yang sakit dirawat hingga sembuh,” katanya.

Seperti  diketahui, sering  disampaikan pakar lingkungan hidup  bahwa pemanasan global adalah suatu fenomena global yang dipicu oleh kegiatan manusia. Terutama yang berkaitan dengan penggunaan bahan fosil dan kegiatan alih guna lahan.

Kegiatan ini,  menghasilkan gas-gas yang semakin lama semakin banyak jumlahnya di atmosfer, terutama gas karbon dioksida (CO2) melalui proses yang disebut efek rumah kaca.

Para ahli menyebut, efek  atau  dampak rumah kaca (greenhouse effect) adalah sebuah istilah yang cukup erat kaitannya dengan pemanasan global.

 Disebut dengan efek rumah kaca karena  adanya peningkatan suhu bumi akibat suhu panas yang terjebak di dalam atmosfer bumi.

Nah, pace mace  harus tau, bahwa  prosesnya mirip seperti rumah kaca yang berfungsi untuk menjaga kehangatan suhu tanaman di dalamnya.

 Peningkatan suhu dalam rumah kaca terjadi karena adanya pantulan sinar matahari oleh benda-benda yang ada di dalam rumah kaca yang terhalang oleh dinding kaca.  Maka, udara panas tidak dapat keluar (greenhouse effect).

Masyarakat Sorong, harus ketahui, bahwa  di atas permukaan bumi, efek rumah kaca juga bisa terjadi. Hal ini dapat terjadi karena sebanyak 25% energi matahari yang masuk ke bumi dipantulkan oleh awan atau partikel lain di atmosfer, 25% diserap awan, 45% diabsorpsi permukaan bumi, dan 5% lainnya dipantulkan kembali oleh permukaan bumi.

Lantas, energi matahari yang telah diabsorpsi akan dipantulkan kembali dalam bentuk radiasi inframerah oleh awan. Dan, juga permukaan bumi. Namun, energi yang dipantulkan tersebut bisa terhalang oleh karbon dioksida (CO2).

Sehingga,  gas lainnya terdapat di atmosfer bumi. Banyaknya CO2, di udara menjadi salah satu faktor terjadinya pemanasan global.

Para ahli, menyebut. sebenarnya zat CO2 dibutuhkan dan akan diserap oleh tumbuhan untuk melakukan proses fotosintesis.

 Akan tetapi, karena semakin menipisnya hutan dan lahan hijau membuat kadar CO2  di atmosfer tidak terkendali. Faktor  pemanasan global lainnya, adalah seperti gas industri, polusi bahan bakar, dan gas metana yang dihasilkan dari sampah plastik.

Pemanasan global akan meningkatkan suhu di permukaan bumi. Suhu bumi yang meningkat dapat menyebabkan berbagai dampak buruk bagi lingkungan dan ekosistem lainnya karena adanya perubahan iklim , bumi atau dunia.

Cerita  umumnya,  dicontohkan  dampak yang ditimbulkan dari pemanasan global adalah mencairnya glasier dan es di kutub. Hal ini akan mengakibatkan naiknya permukaan air laut dan membuat sebagian daerah terendam air laut. Ini, fakta, lo.

Contoh dampak buruk lainnya dari pemanasan global. Adalah, seperti curah hujan yang tinggi, kegagalan panen, hilangnya terumbu karang, kepunahan berbagai spesie. Hingga, penipisan lapisan ozon pada atmosfer bumi.

Terdapat berbagai cara untuk menanggulangi permasalahan yang sudah sejak lama ini. Salah satunya adalah dengan mengurangi pemakaian bahan bakar fosil.  Seperti, minyak dan batu bara. Pasalnya, bahan bakar fosil adalah penyebab terbesar tingginya kadar CO2 di bumi.

Cara lainnya,  adalah dengan melakukan reboisasi, yaitu proses penanaman kembali hutan yang telah ditebang dan memperbanyak lahan hijau. Dengan begitu, CO2 akan terserap oleh tumbuhan dan mengurangi dampak pemanasan global.

“Nah di Universitan Pendidikan Muhammadiyah (Unimuda) Sorong, memang belum ada jurusan lingkungan hidup. Tapi, semua jurusan diwajibkan dapat memahami terkait pemanasan global dan antisipasinya,” kata Dr. Rustamadji. ***

Editor : Markon Piliang