logo

Jerat Industri

Jerat Industri

11 Oktober 2021 07:38 WIB

SuaraKarya.id -  

Oleh: Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi

Penetapan tanggal 2 Oktober sebagai Hari Batik Nasional memberikan peluang yang besar bagi penumbuhkembangan rasa cinta terhadap batik, sekaligus mampu memacu rasa cinta terhadap industri batik nasional. Argumen yang mendasari karena batik menjadi bagian dari ritme kehidupan di Indonesia sejak dulu.

Oleh karena itu, geliat batik dan juga perbatikan nasional memberikan manfaat ganda yaitu tidak saja berkembangnya industri batik tapi juga potensi daya saing batik di era global. Paling tidak, hal ini juga sejalan dengan komitmen Unesco yang menetapkan batik sebagai bagian dari realitas kekayaan peradaban manusia. Keyakinan ini juga didukung dengan fakta bahwa batik tidak bisa terlepas dari keperilakuan membatik yang juga bisa menjadi mata pencaharian dan bahkan menjadi pekerjaan eksklusif bagi kaum perempuan di Jawa.

Ironisnya, pandemi juga turut membuyarkan industri batik nasional dan sejumlah sentra industri batik terdampak sehingga beberapa diantaranya terpaksa merumahkan dan juga tidak sedikit yang akhirnya melakukan PHK. Di satu sisi realitas ini memang ironis dan di sisi lain industri

batik yang terdampak hanyalah salah satu yang terjerat ancaman dari pandemi. Oleh karena itu, memacu spirit perbatikan nasional di Hari Batik Nasional saat ini menjadi penting karena tidak saja akan memacu kebangkitan industri batik tapi juga implikasinya terhadap mata rantai industri batik nasional. Jadi, beralasan jika peringatan Hari Batik di masa pandemi ini menjanjikan tantangan yang tidak mudah, meski fakta di masa pandemi sudah mulai bangkit.

Industri batik , termasuk keperilakuan membatik juga merupakan kegiatan yang bersifat tradisi temurun. Paling tidak hal ini juga diperjelas dengan beragam motif batik yang kemudian bisa

teridentifikasi daerah asal batiknya. Artinya, karakteristik dari batik yang unik menjadikan ciri khas yang membedakan dengan batik daerah lain sehingga hal ini justru menunjukan adanya daya saing dan keunggulan komparatif dibandingkan batik made in daerah lain. Bahkan batik dan motifnya bisa menjadi ciri status sosial dari para pemakainya. Hal ini memberikan keyakinan bahwa batik dan perbatikan nasional berpotensi memberikan kontribusi ekonomi bisnis yang tidak kecil.

Data Kementerian Perindustrian menunjukan bahwa ekspor batik saat pandemi periode Januari – Juli 2020 mencapai US$ 21,54 juta atau naik US 17,99 dibandingkan periode semester I-2019. Ekspor batik dan produk batik di tahun 2017 mencapai US$ 58,46 juta. Pasar terbesar industri

batik yaitu Jepang, AS dan Eropa. Pasar batik global diprediksi mencapai US$ 442 miliar sehingga ini menjadi tantangan bagi industry batik domestik untuk memacu kuantitas dan kualitas produksi agar bersaing di pasar internasional. Setidaknya pemberlakuan Masyarakat

Ekonomi Asean menjadi tantangan lebih memacu produksi yang kian baik kedepan sebagai upaya peningkatan daya saing dan persaingan yang semakin ketat, apalagi batik made in China juga kian baik kualitasnya. Tidak bisa dipungkiri bahwa persaingan industri batik dan perbatikan ke depan akan semakin berat dan tentu ini menjadi tantangan bagi sejumlah sentra industri batik nasional.

Batik sebagai salah satu tradisi dan budaya memberikan implikasi tidak saja ekonomi – bisnis tapi juga norma sosial budaya. Hal ini tidak bisa terlepas dari keberadaan batik di lingkup sosial kemasyarakatan yang masih tumbuh dan berkembang. Bahkan, di sentra batik nasional seperti di Solo ternyata geliat batik dan perbatikan masih cukup baik dan di sisi lain pandemi juga berimbas terhadap industrialisasi batik nasional. Jadi, beralasan jika pemerintah berkepentingan untuk melestarikan batik agar tidak punah, setidaknya ini menjadi tantangan generasi milenial agar tetap cinta terhadap batik. ***

  • Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi - Dosen Pascasarjana di Universitas Muhammadiyah Solo