logo

Pemetaan & Evaluasi

Pemetaan & Evaluasi

04 Oktober 2021 15:16 WIB

SuaraKarya.id -  

Oleh: Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi

Kinerja perekonomian di awal 2021 ditandai dengan kehadiran Bank Syariah Indonesia per 1 Pebruari 2021 dengan penggabungan 3 bank (Bank Syariah Mandiri, BNI Syariah dan BRI syariah) menjadi Bank Syariah Indonesia yang disetujui OJK mengacu surat bernomor SR-3/PB.1/2021.

Realita Bank Syariah Indonesia di era kedepan tidak hanya bersaing dengan perbankan dalam negeri tapi juga era global termasuk juga tidak hanya bersaing dengan sesama bank syariah tetapi juga dengan bank konvensional. Kehadiran Bank Syariah Indonesia mampu memberikan layanan syariah terbaik karena mayoritas masyarakat adalah muslim. Fakta ini secara tidak langsung menjadikan tantangan bagi Bank Syariah Indonesia untuk bisa berbenah dan menjanjikan pemberian layanan yang terbaik bagi umat dan kemaslahatan, setidaknya harapan selama triwulan terakhir 2021. 

Kehadiran Bank Syariah Indonesia tentu menjanjikan persaingan yang semakin ketat dan sehat terutama dikaitkan kinerja perbankan sepanjang 2020 kemarin. Terkait ini, kinerja perbankan menarik dicermati, terutama ada kasus kejahatan perbankan yang fenomenal setahun terakhir. Hal ini bisa terlihat dari kasus penggelapan dana nasabah di salah satu bank swasta Rp.22 miliar yang melibatkan Kepala Cabang. Selain itu, di Oktober 2020 lalu juga ada kasus gagal bayar deposito yang melibatkan bank swasta terbesar dengan nominal Rp.5,4 miliar.

Kinerja bank di masa pandemi berdampak kepada revisi kredit yang jamak dilakukan. Beralasan jika laba bersih turun akibat turunnya margin bunga bersih (net interest margin) di semester I 2020. Data SPI (Statistik Perbankan Indonesia) OJK menunjukan tren perlambatan pertumbuhan laba yaitu di kelompok bank umum kegiatan usaha (BUKU) I dan II minus 61,24% dan 12,06% sedangkan untuk BUKU III dan IV tumbuh 6,63% dan 7,61%. Realitas ini terjadi karena perbankan berkewajiban menyelamatkan nasabah dari pandemi dan resesi yaitu BNI turun 41%, BTN turun 40%, BRI turun 36,9% dan juga Mandiri turun 23,9%.

Fakta tersebut juga terjadi di bank swasta misal BCA turun 4,8%, Bank Danamon turun 53,4%, Bank Panin turun 18,8%, dan CIMB turun 11,7%. Konsekuensi pandemi maka revisi pertumbuhan kredit BRI dari 11% menjadi 5%, BNI dari 10-12% menjadi 2-4%, dan BTN dari 9,5% menjadi 2-3%. Data BI pertumbuhan kredit di September 2020 lalu turun 1,04%

dibanding periode sama tahun 2019 (turun 0,12% dibanding Agustus 2020) Rerata penurunan laba per September 27,6% atau lebih tajam disbanding per Agustus 18,26% sehingga sampai akhir tahun kian drastis karena data margin bunga bersih berkurang dari 4,43% menjadi 4,29% per September. Hal ini berdampak terhadap beban operasional bagi pendapatan operasional (naik 86,18% dari sebelumnya 85,09%). Pandemi yang menyasar sektor perbankan ternyata masih diwarnai optimisme yang bisa terlihat dari merger 3 bank syariah yaitu PT BRI Syariah, PT Bank Syariah Mandiri dan PT BNI Syariah menjadi PT Bank Syariah Indonesia Tbk.

Harapan merger ketiga bank ini memacu kinerja pasca pandemi, terutama menyasar segmen perbankan syariah yang potensinya terus meningkat. Jadi masih ada prospek di masa pandemi tidak hanya di sektor perbankan, tetapi juga semua sektor dan karenanya ini menjadi cambuk untuk memacu geliat pasca pandemi di tahun 2022 mendatang, terutama bagi perbankan pada umumnya dan Bank Syariah Indonesia pada khususnya.

Pandemi memang berdampak ke semua sektor, tidak terkecuali perbankan. Oleh karena itu sangat beralasan jika kemudian BI melakukan survey untuk melihat Indeks Lending Standard 2020 yang hasilnya menunjukan 9,1% atau lebih rendah dibanding 2019 yaitu 10,9%. Dipastikan penyaluran kredit terkoreksi dan logis perbankan melakukan revisi terhadap realisasi kredit dan target pertumbuhan kredit di tahun 2021. Setidaknya hal ini terlihat dari perlambatan kredit baru di masa pandemi, tidak hanya kredit konsumsi tapi juga kredit investasi dan modal kerja. Jadi, beralasan jika prospek perbankan tahun 2021 terkoreksi meski tetap ada optimisme untuk bangkit pasca pandemic menuju tahun 2022 yang lebih baik termasuk kehadiran Bank Syariah Indonesia yang menjanjikan penetrasi segmen syariah di Indonesia.

Pandemi ini juga menyisakan tantangan berat bagi perbankan karena industri perbankan di era kekinian bukan sekedar melakukan jasa pendanaan dan pembiayaan, tapi semakin berkembang pada banyak layanan sebagai tuntutan pemenuhan kebutuhan - keinginan konsumen – nasabah. Komitmen untuk mencapai tahapan itu perbankan memang harus proaktif.

Memang tidak mudah melakukan pengawasan terhadap sektor perbankan tapi tidak ada alasan untuk lalai. BI sudah preventif melakukan pengawasan, termasuk misal aturan kepemilikan saham bank umum melalui PBI No.14/8/PBI/2012 tertanggal 13 Juli 2012, terkait Kepemilikan Saham Bank umum. Intinya kepemilikan saham bank umum dikaitkan dengan tingkat kesehatan dan tata kelola yang diberlakukan untuk semua bank umum dan bank asing, juga untuk mengawasi kesehatan bank. ***

  • Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi - Dosen Pascasarjana di Universitas Muhammadiyah Solo