logo

Hutan Papua, Kunci Mitigasi Krisis Iklim

Oleh Yacob Nauly

Hutan Papua, Kunci Mitigasi Krisis Iklim

02 Oktober 2021 18:10 WIB

SuaraKarya.id - Oleh Yacob Nauly

Upaya    negara – negara besar  di dunia  untuk mengurangi  kerusakan alam akibat ulah manusia  tengah  dilakukan  melalui berbagai metode . Antara, lain  melarang    penggundulan  hutan di sejumlah negara termasuk Indonesia.  

Contoh. Saat ini,  beberapa    pulau besar  seperti Sumatera, Jawa, Kalimantan dan  Sulawesi   mulai krisis hutan akibat pemanfaatan lahan bagi perkebunan  kelapa sawit. Dan, pertumbuhan industri  yang semuanya membutuhkan pemanfaatan lahan yang luar biasa.

 Sebenarnya, masih ada harapan  melalui  upaya reboisasi  yang didukung mitigasi partisipatif  masyarakat untuk  mengurangi risiko  kerusakan ekosistem . Misalnya, dengan  mengedukasi  masyarakat  pemilik hutan secara  partisipatif  untuk  menghindari  kerusakan. Namun nampaknya belum berhasil akibat berbagai faktor.

Meski  demikian, masyarakat Indonesia   dalam hal ini terus berupaya  agar   hutan  negeri ini  utamanya di  Papua dan Papua Barat  tetap  terjaga. Hutan  di  dua provinsi  tersebut  menjadi benteng  terakhir  penyelamatan  ekosistem dunia, bukan impian semata.

 Karena itu, selain pemerintah tapi juga Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan  warga   Indonesia umumnya  kini tengah  berupaya keras untuk  memitigasi  partisipatif  penduduk  setempat  untuk  menyelamatkan ekosistem dunia.

Dari estimasi umumnya, masyarakat dunia berharap jika Indonesia  dapat menjaga  70 persen  hutannya atau  sekitar 29 juta hektare. Dan memiliki  lahan  pencegahan degradasi di dalam kawasan  hutan dan pantai,  Pemerintah Indonesia dapat menghindari 2,8 – 3,3 gigaton emisi karbon dioksida.

Nah  Indonesia diharapkan  dapat  menghindari  kerusakan hutan di Papua dengan penyelamatan lahan terdegradasi  di dalam kawasan hutan lindung.

Budaya masyarakat Papua terkait mitigasi hutan sangat baik. Hutan bagi rakyat Papua  ibarat tempat penyimpanan makanan dan obat-obatan tradisional yang tak ternilai harganya sebagai faktor pendukung  kebutuhan  primer  Orang asli Papua (OAP).

Di balik rimbunnya hutan  di daerah  itu, juga   masih menyimpan beragam ilmu pengetahuan tradisional  dengan baik. Yang  belum sempat  diteliti dan diolah untuk kepentingan masyarakat.

Hutan  Papua   yang  kaya  telah dikenal di seluruh dunia sebagai taman lorentz internasional di Jayawijaya  dan telah menjadi salah satu tempat wisata dan diburuh oleh turis asing maupun lokal.

Papua juga dijuluki sebagai paru-paru dunia  sangat membanggakan Indonesia di mata dunia. Sebenarnya hutan Papua ini menyaingi  hutan amazon di Amarika Serikat.

SIEJ Dan  Econusa

Atas dasar itulah  dua yayasan  yang bergerak di lingkungan hidup, yaitu  SIEJ dan EcoNusa menggelar workshop dengan judul ‘’ Hutan Papua Kunci  Mitigasi Krisis”. Kegiatan ini berlangsung dua hari di Hotel Kasuari Valley  Resort Kota Sorong,  pada Jumat hingga Sabtu  (2/10/2021).   

Para pemateri umumnya memberikan bahan   terkait perlindungan hutan, laut  beserta  hewan yang ada di dalamnya termasuk ikan dan jenisnya.

Situasi  hutan  Papua dengan keunikan  dan keindahan  itu,   memang  tak dapat digambarkan melalui kata-kata. Karena kenyataannya  sungguh mempesona dan menyegarkan jiwa. Namun tingkat kerusakan akibat ulah manusia, juga tinggi.

Seperti  dikeluhkan banyak LSM  bahwa Papua yang indah  dahulu kini merana akibat  pemberian Hak pengusaha Hutan (HPK). Yang,  dalam praktiknya  membabat habis hutan dan dialih fungsi menjadi perkebunan kelapa sawit.

Lalu, kemudian  pembangunan perumahan. Kawasan perumahan  itu  di atas lahan yang dahulunya hutan  sebagai paru-paru dunia. Semua itu dilakukan untuk kepentingan dan para pejabat yang ingin  memiliki dana besar. Di sis lain, masyaraka pemilik ulayat tetap miskin di atas kekayaan tanahnya sendiri.

 Di sis lain,   para konglomerat yang punya saham di sana  tak  memandang keberlangsungan bumi yang sekarang sedang diisukan pemanasan Global atau Global warning. Dan, hutan Papua serta  kawasan Timur Indonesia lainnya diharapkan sedikit dapat menangkal isu pemanasan global itu.

Belum termasuk ilegal loging antar negara  yang melibatkan para kapitalisme  negara-negara di Asia. Dan,  yang dijadikan alat  adalah masyarakat lokal setempat untuk mengeksploitasi hutan Papua yang kaya .

Anehnya, banyak para pemilik  HPK yang  sudah  tertangkap tetapi proses penyelesaiannya sangat tak jelas. Sebenarnya,  proses pengrusakan hutan ada pembiaran. Jika,tak ditindak tegas oleh pihak yang berwajib dipastikan pengrusakan hutan di daerah ini masih terus berlangsung.

Banyak LSM di Papua, menjelaskan  masif-nya penghancuran hutan Papua dan Papua Barat.  Dengan alasan,  pembukaan lahan perkebunan  Sawit  karena  telah mendapat izin resmi Pemerintah Pusat dan tentunya didukung Pemerintah Daerah.

Ini,  jelas penghancuran sedang terjadi di tanah Papua dan Papua Barat. Maka, harus ada langkah konkrit yang  diambil  guna  menghentikan  kasus pengrusakan hutan  paru-paru dunia di Papua dan Papua Barat.

Sebagai generasi muda,  wajib  melihat hal ini dan mencari alternatif penyelesaiannya.

Penyelamatan Hutan ada di tangan  generasi Papua. Jika tidak, dunia akan menjadi ancaman global warning. Tak ada kata lain selain lawan para perusak hutan Papua.  Karena,  para perusak hutan  ciptakan neraka dengan mempercepat kiamat dunia.

Kita tidak akan pernah menggerutu  mengenai polusi asalkan kita melestarikan alam. Jagalah kelestarian alam  Hutan Papua untuk generasi kita  mendatang. Lingkungan yang terjaga kebersihan dan keutuhannya  membuat hidup kita sehat. ***

Sumber: Berbagai  Referensi.

(Penulis Wartawan Utama UKW Dewan Pers, Wartawan suarakarya.id, dan Jurnalis Ubahlaku).