logo

Inovasi Sebagai Kunci Gaungkan Batik Untuk Generasi Muda Di Kamboja

Inovasi Sebagai Kunci Gaungkan Batik Untuk Generasi Muda Di Kamboja

Webinar bertema Batik as a Creative Industry Product in the Hand of the Next Generation yang diselenggarakan oleh KBRI Phnom Penh pada hari Kamis (23/9/2021)
24 September 2021 19:52 WIB
Penulis : Gungde Ariwangsa SH

SuaraKarya.id - PHNOM PENH: “Batik bukan hanya selembar kain yang ditulis, karena dalam setiap lembarnya memiliki makna filosofis yang menggambarkan pemikiran mendalam, pandangan hidup dan pola pikir bangsa Indonesia,” demikian ungkap Duta Besar RI Sudirman Haseng saat membuka Webinar bertema Batik as a Creative Industry Product in the Hand of the Next Generation yang diselenggarakan oleh KBRI Phnom Penh pada hari Kamis (23/9/2021).

Duta Besar lebih lanjut menyampaikan bahwa sesuai pesan Presiden pada saat perayaan Hari Batik 2019 bahwa semua pihak memiliki tugas untuk memastikan bahwa batik dicintai oleh generasi penerus. Batik juga harus dapat digaungkan di berbagai belahan bumi, sehingga semua bangsa mau memakai dan mengagumi batik.

“Apalagi di saat pandemi seperti saat ini, justru batik memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif, termasuk dalam industri fesyen karena munculnya masker bermotif batik,” tambah Duta Besar.

KBRI Phnom Penh dalam rilisnya mengabarkan, Duta Besar juga mengutarakan perlunya kolaborasi dengan perajin Kamboja untuk menciptakan batik di atas sutra Kamboja atau menciptakan batik yang terinspirasi dari budaya Kamboja.

Hadir sebagai pembicara adalah Profesor Lilawati Kurnia, Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya dari Universitas Indonesia; Javier Hartono, seorang wirausahawan muda penerus maestro batik Sigit Witjaksono dari Lasem; Tex Siemheang, seorang wirausahawan Kamboja yang bergerak dalam pembuatan sutra; serta Chhem Pisey, importir batik Indonesia.

Profesor Lilawati menjelaskan mengenai metode pembuatan batik, kreativitas di balik pembuatan batik dan asal batik serta berbagai percampuran budaya yang membuat batik menjadi karya kreatif milik Indonesia termasuk inovasi baru yang menyatukan budaya pop dalam batik. Sedangkan Javier Hartono menyampaikan pengalamannya dalam mempromosikan dan memasarkan batik di tengah-tengah situasi pandemi yang sepenuhnya mengandalkan pemasaran melalui media sosial. Javier Hartono yang merupakan penerus maestro batik Lasem Sigit Witjaksono (Njo Tjoen Hian) menambahkan bahwa untuk menarik minat generasi muda terhadap batik perlu adanya inovasi dan kreativitas terutama dalam hal warna, pola dan motif dengan memasukkan unsur-unsur pop-culture seperti kartun. Namun Javier tetap mengharapkan agar generasi muda tetap mencintai batik tradisional yang memiliki motif, pola, dan pewarnaan alam. 

Tex Simheang menceritakan mengenai pengalamannya sebagai pebisnis perempuan Kamboja yang bergerak di bidang pemberdayaan perempuan untuk menenun sutra termasuk motif dan warna yang digemari oleh warga Kamboja. Tex Simheang juga menjelaskan kesempatan-kesempatan umum di mana warga Kamboja menggunakan sutra. Tantangan yang muncul adalah karena penggunaan material dan pewarnaan alam, maka berakibat pada harga yang cukup mahal dan kurang terjangkau untuk generasi muda.

Chhem Pisey menceritakan pengalamannya sebagai wirausahawan muda Kamboja yang memilih batik sebagai produk usahanya, yang telah berlangsung selama 10 tahun. Bahkan di masa pandemi, penjualan batik terutama baju rumahan (daster, piyama batik) terus meningkat. Salah satu hal yang membuat Chhem Pisey mencintai batik adalah karena mutu bahan yang bagus, sesuai digunakan untuk iklim Kamboja, termasuk motif, warna, model, kualitas jahit, dan pola yang menarik.

Dalam sesi tanya jawab, partisipan menanyakan mengenai logistik yang dalam pengalaman Pisey memiliki masalah tersendiri, karena ongkos impor dari Indonesia yang dirasakan cukup mahal dibandingkan dari Thailand, Viet Nam, dan RRT. Sehingga langkah yang dilakukan adalah melakukan re-ekspor dari Viet Nam untuk mengurangi beban impor dan menaikkan margin laba. Untuk menjawab pertanyaan mengenai niche market batik di Kamboja, Tex Simheang menyatakan perlunya produsen batik menyediakan rasa cantik, motif yang menarik, dan warna warni yang cerah. Untuk memasuki pasar Kamboja, produsen atau eksportir dapat membagi menjadi pasar untuk kelas menengah ke atas dan kelas menengah ke bawah. Harga yang murah, warna yang menarik dan pola dan penggunaan sehari-hari akan menarik perhatian generasi muda.

Tujuan penyelenggaraan Webinar adalah untuk memperingati Hari Batik Nasional yang jatuh pada tanggal 2 Oktober. Webinar juga bertujuan untuk mendapatkan gambaran mengenai batik sebagai produk industri kreatif di tangan wirausahawan muda, serta menggali potensi dan ketertarikan pasar Kamboja terhadap batik. Sebagai informasi, dalam catatan Kementerian Perdagangan RI, ekspor batik meningkat dari USD 17,99 juta pada semester pertama 2019 menjadi USD 21,54 juta pada semester pertama 2020. Industri batik juga mampu menyerap tenaga kerja hingga 200 ribu orang.

Webinar diikuti oleh 45 peserta dari Indonesia dan Kamboja. Persembahan tarian Pendet dari Pusat Budaya Indonesia (PUSBUDI Nusantara) di bawah asuhan KBRI Phnom Penh membuat suasana kecintaan terhadap budaya dan produk kreatif Indonesia semakin terasa dalam webinar ini. ***

Editor : Gungde Ariwangsa SH